
🌟🌟🌟
Rasya dan Ardhian meninggalkan ruangan profesor Albert secara bersamaan. Suasana hening terjalin diantara mereka berdua. Tak ada satu pun dari mereka yang berani memulai pembicaraan. "Hmmm Rasya !" "Hmmm Kak !" Ucap mereka secara bersamaan. Setelah itu suasana kembali hening. Rasya benar-benar canggung berada disamping sang idola kampus itu.
"Mengenai olimpiade yang dibicarakan oleh profesor Albert tadi, kapan kita bisa memulai untuk mendiskusikannya ?" Tanya Ardhian mencoba memecahkan keheningan.
"Hmm, Kakak senior bisa memberikan jadwal kosong kakak kepada ku, nanti aku akan menyesuaikannya dengan jadwalku." Ucap Rasya.
"Hmmm kalau begitu berikan nomor Handphone mu kepadaku, agar aku lebih mudah menghubungimu." Ucap Ardhian.
Rasya pun memberikan nomor handphone nya kepada Ardhian, rasa canggung menyelimuti keduanya.
"Nanti aku akan menghubungi mu kembali, kalau begitu aku permisi dulu." Ucap Ardhian, yang dibalas anggukan oleh Rasya.
Rasya masih menatap kepergian Ardhian, badannya terasa kaku, dan sulit untuk digerakkan. "Oh tuhan ! Apakah ini nyata ? Atau hanya mimpi ? Hmm Aku harap ini nyata." Gumam Rasya yang masih ragu dengan kebenaran itu.
***POV ARDHIAN***
Aku sedang berada diruangan profesor Albert, menunggu seseorang yang telah ditentukan oleh Prov Albert untuk menjadi tim ku dalam mengikuti olimpiade di Beijing bulan depan. Lima belas menit telah berlalu, nmun orang yang kutunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Aku memanfaatkan waktu untuk mendiskusikan segalanya dengan profesor Albert, seraya membaca sebuah buku yang berisikan jurnal-jurnal ilmiah.
Tok Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, dan profesor mempersilahkan seseorang itu untuk segera masuk kedalam ruanga.
"Profesor mencari saya ?" Ucap seseorang yang telah berada didalam ruangan yang sama denganku.
"Perempuan ?" Batinku, yang tak percaya jika profesor Albert mengirimkan seorang wanita untuk menjadi patner ku.
__ADS_1
Aku penasaran dengan wanita itu, dan segera kuputar badan ku menghadap ke pintu masuk, tempat wanita itu berada.
Deg deg deg
Seketika jantung ku berdetak dengan kencang. Aku benar - benar tak bisa mempercayai takdir ini. "Willend ?" Batinku.
Wanita itu sekarang telah duduk disampingku, ia sangat anggun dan tenang, pesonanya yang berwibawa menyelimuti wajahnya yang rupawan.
Profesor Albert memperkenalkan wanita itu kepada ku. Prof Albert memanggilnya dengan nama Rasya. Aku masih tak dapat mempercayai hal ini, aku hanya bisa terdiam menyimak pembicaraan diantara mereka berdua.
Setelah pembicaraan itu selesai, aku dan wanita itu meninggalkan ruangan profesor Albert. Suasana hening menyelimuti kami, aku mencoba memulai pembicaraan. "Hmmm Rasya !" "Hmmm Kak !" Ucap kami secara bersamaan. Setelah itu suasana kembali hening. Aku benar-benar merasa canggung berada disamping gadis itu.
"Mengenai olimpiade yang dibicarakan oleh profesor Albert tadi, kapan kita bisa memulai untuk mendiskusikannya ?" Ucapku mencoba mencairkan suasana.
"Hmm, Kakak senior bisa memberikan jadwal kosong kakak kepada ku, nanti aku akan menyesuaikannya dengan jadwalku." Ucapnya dengan tenang.
Rasya pun memberikan nomor handphone nya kepada ku, rasa canggung kembali menghampiri kami.
"Nanti aku akan menghubungi mu kembali, kalau begitu aku permisi dulu." Pamit ku padanya, yang dibalas anggukan oleh Rasya.
Aku benar - benar tak mengerti dengan perasaan ku saat ini. Sepertinya takdir tuhan benar-benar berpihak kepadaku. Willend memang gadis yang cantik dan cerdas, tak heran jika profesor Albert mempercayainya untuk mengikuti olimpiade itu.
******
Rasya berjalan menuju perpustakaan seorang diri, ia memutuskan untuk mencari buku yang ia perlukan. Rasya memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan, yang diapit oleh rak buku.
Seseorang terus memperhatikan kegiatan Rasya, matanya mengikuti semua langkah Rasya. Rasya tak menyadari hal itu ia terus fokus membaca buku - bukunya. Tak terasa hari telah mulai senja, matahari hampir terbenam. Rasya segera merapikan buku - bukunya dan bergegas untuk kembali ke asrama.
Rasya merasakn jika seseorang mengikutinya dari belakang. Rasa was was mulai menyelimuti dirinya, ia segera mempercepat langkahnya menuju asrama. Namun suara langkah kaki itu terus mengikutinya. Rasya memberanikan diri untuk membalikkan badannya dan memastikan perasaannya.
__ADS_1
Namun tak ada siapapun disana, ia hanya seorang diri. jalanan terlihat sepi petang itu. Rasya kembali mempercepat langkah kakinya.
*****
Ceklek !
Rasya membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa, dan segera mengunci kembali pintu kamar itu. Tiara dan Dina menatapnya dengan perasaan heran.
"Ada apa Rasya ? Kenapa kau terlihat ketakutan ?" Tanya Dina kepada Rasya.
"Hmm aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti ku, sepanjang jalan dari perpustakaan." Ucap Rasya seraya mengatur pernafasannya.
Dina dan Tiara segera menghampiri Rasya, Dina mengambilkan segelas air putih, dan memberikannya kepada sahabatnya itu. Rasya segera menerimanya, dan meminumnya dengan terburu - buru. Perasaannya benar - benar tidak tenang saat ini.
"Terimakasih. Aku ingin mandi, dan menenangkan tubuh ku terlebih dahulu." Ucap Rasya kepada kedua sahabatnya.
Dina dan Tiara pun membalasnya dengan anggukan, mereka berdua benar-benar merasa khawatir dengan kondisi Rasya.
"Dina, aku sangat takut jika ada seseorang yang berniat jahat terhadap Rasya." Ucap Tiara khawatir.
"Hmmm, Kau benar Tiara. Mulai dari sekarang kita harus menemani kemanapun Rasya pergi." Jawab Dina.
Lana baru saja kembali kedalam kamar itu, ia merasa heran dengan keadaan Dina dan Tiara. Wajah mereka berdua terlihat sangat pucat.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua ? Mengapa wajah kalian terlihat pucat?" Tanya lana dengan nada penasaran.
"Hmmm kami sedang mengkhawatirkan Rasya. Tadi ada yang mengikutinya ketika ia pulang dari perpustakaan." Jelas Tiara.
Lana terdiam mendengar ucapan Tiara, matanya menatap tajam kearah Tiara dan Dina. Tak lama kemudian Rasya keluar dari kamar mandi, seraya mengeringkan rambutnya, ia telah siap dengan pakaian santainya.
__ADS_1