
🌟🌟🌟
Rasya menatap Dina dengan serius. "Terimakasih karena sudah menyelamatkan ku, dan selalu menguatkanku dalam kondisi apa pun." Jawab Rasya.
Dina menggenggam tangan Rasya. "Kau tak perlu berterimakasih, sudah menjadi keharusan untukku menyelamatkan mu dan selalu menguatkan mu. Semua ini tidak ada apa - apanya dibandingkan segala yang telah kau lakukan untukku. Aku telah menganggapmu sebagai saudara ku. Jadi jangan pernah ragu untuk meminta apapun dari ku. Bahkan nyawa ku pun tak ada artinya jika dibandingkan dengan pertolongan mu Sya." Jawab Dina.
***KISAH DINA***
Gadis itu selalu terlihat ceria dan tegas dihadapan semua orang. Dia selalu berani melawan semua orang yang mencoba untuk mengganggunya. Namanya Dina Diah Saraswati.
Ia selalu menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli sesuatu yang tidak penting. Hingga dia bertemu dengan seorang gadis, cantik, anggun dan sederhana yang bernama Rasya Clarina Willend. Rasya yang selalu tenang dalam pembawaannya berhasil membuat Dina untuk menjadi dirinya sendiri.
Dina memang terlihat ceria dihadapan semua orang, ia selalu terlihat manis dengan tawanya. Tak pernah sekalipun wajahnya memperlihatkan kesedihan.
Hingga suatu hari, Rasya menjumpai Dina sedang berada didalam kamar mandi dengan obat - obatan digenggamannya. Rasya sangat oanik melihat keadaan Dina. Wajah Dina terlihat pucat, pipinya basah dipenuhi air mata, tubuhnya gemetar bersandar didinding kamar mandi.
Saat itu adalah akhir semester satu, Lana dan Tiara telah terlebih dahulu pulang kekampung halamannya masing - masing, Karena mereka berdua telah selesai dengan semua mata kuliahnya. Dikamar itu hanya tinggal Rasya dan Dina yang belum pulang.
__ADS_1
"Dina ! Apa yang sedang kau lakukan ?" Teriak Rasya panik, seraya merebut obat - obatan yang ada ditangan Dina. Dina ingin melakukan percobaan bunuh diri.
Dina menatap sayu kearah Rasya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya, Rasya telah mengetahui semuanya.
"Aku tak ingin hidup lagi Sya ! Aku tak sanggup menanggung semua beban ini." Ucap Dina seraya meneteskan air matanya.
Rasya menatap bingung kearah gadis itu, Dipeluknya badan Dina dengan erat, berusaha untuk merasakan apa yang sedang dirasakan sahabatnya itu. "Apa yang terjadi Dina ? Kenapa kau bisa seperti ini ?" Tanya Rasya dengan penuh penekanan.
"Aku tak sebahagia yang kalian lihat Sya. Ibu ku meninggal gara - gara ayahku selingkuh dengan wanita lain. dihari pemakaman ibu ku, Pria itu menikah dengan wanita sialan itu. Dan lebih memilih untuk meninggalkan ku seorang diri."
"Aku sangat takut untuk memulai hubungan yang baru dengan pria manapun. Hingga aku bertemu dengan Rian. Aku mencoba untuk percaya terhadap pria, dan mencoba untuk mencintainya. Hingga aku tak sengaja melihat Rian sedang bercumbu dengan wanita lain Sya. Hati ku sangat sakit, dan kau tau ? Wanita yang berada bersama Rian adalah saudara tiriku. Aku benar - benar kecewa Sya, mengapa semua orang meninggalkan ku seorang diri." Ucap Dina dalam isak tangisnya.
Rasya tersentak kaget mendengar cerita Dina.
"Sstttt, Tenanglah Dina ! Kau tak sendirian, masih ada aku sahabatmu, yang tak akan pernah meninggalkan mu. Jadi jangan takut ! Kau gadis yang kuat Dina. Kau bahkan kuat untuk menyumbunyikan kepedihan mu dari kami semua." Ucap Rasya.
"Aku hanya tak ingin semua orang menatap ku dengan tatapan kasihan. Aku takut jika semua orang mengetahui keadaan ibu ku yang mati bunuh diri, dan ayah ku yang suka main dengan banyak wanita. Semua orang pasti akan menatapku jijik bercampur kasihan." Dina mencurahkan isi hatinya dengan nada yang gemetar. Rasya benar - benar tak bisa mempercayai hal ini. Dina memang gadis yang kuat, iya mampu menutupi segala masalahnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Aku benar - benar bingung Sya. Aku tidak tau lagi harus kemana. Aku tak ingin kembali kerumah almarhumah ibu, karena aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian ibuku. Tapi aku juga tak sanggup jika harus kembali kerumah ayah ku dan bertemu dengan wanita sialan itu lagi." Ucap Dina.
"Hmm Apakah kau mau ikut pulang kerumah ku ?" Tanya Rasya dengan hati - hati.
"Ma-ksud mu ?" Tanya Dina.
"Jika kau tak keberatan, kau bisa ikut aku pulang kerumahku." Ucap Rasya lagi.
"Kau serius Sya ? Ak tak ingin mengusahkan mu." Ucap Dina, seraya menekuk wajahnya.
Rasya mengankat dagu Dina. "Hey kau tak boleh memasang wajah seperti itu. Kau tak menyusahkan ku Dina. Orang tua ku pasti akan sangat senang dengan kedatangan mu. Aku juga sangat senang bisa membawa mu oulang. Itu artinya aku tak akan merasa kesepian selama liburan nanti." Ucap Rasya meyakinkan Dina.
Dina akhirnya memutuskan untuk ikut pulang ke kampung halaman Rasya. Orang tua Rasya menyambutnya dengan hangat, bahkan telah menganggap Dina sebagai putri mereka sendiri. Rasya sangat senang bisa melihat Dina tertawa lepas.
Kedua gadis itu tengah menikmati piknik mereka disebuah taman belakang halaman rumah Rasya. Mereka menggelar tikar yang telah mereka bawa dari dalam rumah, dan mengatur semua makanan dan minuman yang telah mereka siapkan sebelumnya. Tak lupa beberapa novel menjadi pelengkap piknik mereka.
Dina dan Rasya sama - sama memiliki hobi membaca novel. Tak jarang mereka saling bertukar referensi bacaan mereka. sambil berbaring dipadang rumput yang tertata rapi itu, pandangan Dina mulai menatap kearah langit, ia sangat bersyukur dengan kehidupan yang ia miliki sekarang, sejak kecil ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini.
__ADS_1