
Sementara itu....
Perumahan Larumnas.
Jenna membawa sekantong iga dan daging sapi sedang berada di lantai bawah gedung apartemen rumah Ricky. Jenna sedang berusaha keras untuk naik ke lantai atas.
Begitu masuk ke dalam rumah, Linda cukup kaget melihatnya.
Jenna baru tidak lama lulus dari universitas, tetapi sudah lama pindah untuk tinggal di luar. Katanya, dia telah mendapatkan pekerjaan baru dan belum lama mulai bekerja. Jenna setiap hari berangkat kerja pagi dan pulang malam, sangat lelah. Bahkan, gajinya juga tidak terlalu tinggi.
Mengapa Jenna pulang kerja pagi sekali hari ini? Bahkan, Jane pulang dengan sekantong ikan dan daging.
Linda sedikit waspada. "Jenna, dari mana datangnya barang-barang itu?"
Jenna hanya tersenyum.
"Ibu, semua ini aku yang beli. Bukankah Kak Jessy dan Feli juga berada di rumah? Kebetulan aku membeli cukup banyak makanan. Kita bisa berkumpul untuk makan bersama. Kita juga sudah lama nggak jumpa."
Linda mengambil kantong bahan makanan yang dibawa Jenna.
"Tapi, kamu pasti menghabiskan banyak uang untuk beli ini semua. Dasar, bocah! Kamu baru lulus dan bekerja. Uangmu nggak banyak. Dari mana kamu punya uang membeli semua ini?"
"Aku beri tahu ya, kita sebagai keluarga Irawan jangan sampai melakukan tindakan tidak terpuji."
"Seandainya di luar ada pria yang mau memelihara dirimu, aku juga nggak akan menyetujuinya. Keluarga kita sudah terbiasa bekerja keras sendiri tanpa mengandalkan pria."
Jenna merasa tidak berdaya, apa-apaan ini. Kenapa ibunya begitu tidak percaya kepada dirinya?
Zaman sekarang pria kaya raya di luaran makin lama makin banyak yang mencari kekasih, mencari simpanan. Jenna tiba-tiba membeli begitu banyak barang dan berubah menjadi orang yang royal. Tidak heran bila Linda merasa curiga.
"Bu, tenang saja. Siapa yang bisa memelihara diriku? Hari ini aku gajian dan menerima bonus. Jadi, aku sengaja beli untuk berbakti kepada Ibu!"
Jenna masuk ke dalam rumah, lalu melihat Jessy yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Jenna merasa bingung, lalu bertanya, "Kak, kenapa kamu cepat sekali pulang kerjanya?"
Jessy hanya tersenyum pahit, dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Pagi ini, dia baru datang bekerja. Namun, malah disuruh pulang oleh Hendi dan mendapatkan bonus tanpa alasan jelas. Bahkan, Hendi juga berkata akan mengundang dirinya dan Andre untuk makan bersama.
"Hari ini tidak sibuk di perusahaan, jadi aku pulang dulu
Jessy sedikit menggeser duduknya agar ada tempat duduk untuk Jenna.
Jenna menganggukkan kepala. Jenna tidak pernah pulang semenjak Jessy membawa pulang Feli. Hari ini kebetulan mereka sekeluarga bisa berkumpul bersama. Jenna juga tidak perlu melihat muka suram Andre yang mengganggu suasana.
Setiap kali Jessy membawa Andre ikut pulang untuk makan bersama, Jenna rasanya ingin menumpahkan seluruh makanan ke muka Andre.
Seorang pria tidak berpendidikan, bukan apa-apa, pemalas. Setiap hari hanya tahu main saham dan bersantai-santai, seorang pecundang yang tidak bisa apa-apa. Namun, setiap hari hanya berpura-pura sok pintar!
Akan tetapi, hal yang paling aneh adalah Andre yang ditemui Jenna hari ini rasanya sedikit berbeda dengan yang dulu....
Jika penandatanganan kontrak 60 miliar itu berhasil, Jenna setidaknya akan mendapat bonus hingga 20 juta rupiah. Nilainya sangat besar, kalau tidak, bagaimana mungkin Irwan si pencuri proyek akan memberikannya bonus sebesar enam juta rupiah, plus libur setengah hari.
Setelah lewat hari ini, perusahaan mereka, Properti Trust akan sangat sibuk. Mana ada waktu untuk pulang ke rumah.
Jenna cukup bingung, apa dia harus mengatakan hal ini kepada keluarganya atau tidak. Pada satu sisi, Jenna ingin Jessy menceraikan Andre juga, tetapi di sisi lain, Jenna juga tidak mau berbohong.
"Ibu, coba tebak siapa yang aku temui di kantor hari ini?"
Jenna duduk di sofa, Ricky dan Feli masih belum pulang. Jadi, Linda juga belum tergesa-gesa untuk memasak.
Linda melihat ke arah Jenna dengan tidak puas.
"Siapa? Untuk apa misterius begitu dengan ibumu sendiri?"
Jenna hanya tersenyum, lalu menjawab "Andre." Mendengarkan nama itu membuat Linda sangat kesal. Dia nyaris muntah darah, lalu memaki singkat, pembawa sial.
"Untuk apa dia datang ke tempat kerjamu?"
__ADS_1
"Apa dia mencari masalah denganmu agar menyuruh kakakmu pulang ke rumahnya?"
Linda melihat ke arah Jenna, lalu melihat Jenna bukan kesal, tetapi malah sedikit bangga. Bahkan, Jenna masih bisa tertawa. Linda merasa sangat kesal.
Anak tidak punya otak, sudah dirugikan oleh orang lain, tetapi malah masih merasa senang.
Jessy melihat ke arah Jenna, lalu dia mengernyitkan alis. Jessy tidak menyangka kalau Andre gagal mendekatinya, malah pergi mencari adiknya dan mengganggu adiknya.
Jenna segera melambaikan tangan dan menjelaskan, "Bukan, bukan seperti itu. Dia datang bersama dengan bawahan Pak Martin. Lalu, menandatangani kontrak dengan Properti Trust. Mereka menandatangani kontrak senilai 60 miliar. Katanya mau membeli perumahan di Jalan Kumar. Katanya, makin besar rumah itu, makin bagus. Mereka mau beli 150 unit rumah."
Linda diam-diam memaki.
"Si pembawa sial ini membawa Pak siapa, Pak siapa. Bukannya hanya untuk menipu orang? Kontrak 60 miliar, aku beri tahu ya, kamu jangan sampai ditipu."
"Perumahan Jalan Kumar yang jelek itu, nggak jauh dari rumah kita. Sudah tua dan jelek, orang yang punya otak pasti nggak mau beli rumah di sana. Dia pasti sedang menipu orang itu!"
"Kamu jauh-jauh dari dia. Jangan mendekatinya. Awal nanti dia menyusahkanmu sampai kamu kehilangan pekerjaan. Tunggu sampai saatnya tiba, kamu menangis juga sudah telah!"
Jenna menghela napas lelah, kenapa sulit sekali bicara dengan Linda?
"Bukan tipuan. Dia juga nggak punya uang. Orang yang memberinya uang untuk beli rumah adalah orang paling kaya di Kota Surawa, Pak Martin. Orang semacam Andre, mana punya uang 60 miliar?"
"Kami Properti Trust nggak percaya sama dia. Tapi, kami harus percaya sama Pak Martin. Apalagi, uang muka senilai 30 miliar sudah dibayarkan kepada Properti Trust."
"Ibu, kamu juga nggak paham soal masalah ini. Tapi, kamu tenang saja!"
"Hari ini manajer perusahaan kami sudah memberiku bonus dan liburan. Kalau nggak, kamu pikir dari mana datangnya uang untuk beli iga dan daging itu?"
Linda menganggukkan kepala.
"Aku sudah bilang, Andre yang kelihatan miskin begitu. Bagaimana bisa punya 60 miliar. Masih mau beli 150 unit rumah. Kalau dia sekaya itu, mana mungkin masih tinggal di rumah susun?"
Linda tampak sok tahu.
__ADS_1
Jangan lupa untuk di like and vite dan juga di gift ya guys