
"Padahal sudah mau gajian, tetapi perusahaan pusat tidak bisa dihubungi. Kata mereka, proyek sementara dihentikan dan tidak peduli tentang kami."
"Mereka berhenti kerja adalah urusan mereka. Kenapa mereka tidak membayarkan gaji pekerja?"
"Mandor di bawah sudah menalangi gaji selama dua bulan. Sekarang mereka dengar proyek Grup Internasional Jundra akan mangkrak, mereka sudah nggak mau menalangi gaji lagi. Setiap hari mencariku, tapi aku juga nggak bisa apa-apa...."
Rudi mengisap rokok sambil menghela napas panjang.
Orang yang bisa kabur, sudah kabur tanpa jejak. Sekarang hanya tinggal dirinya seorang menjadi kambing hitam di sini.
Andre mengisap rokoknya dan ikut menghela napas.
"Padahal Grup Internasional Jundra adalah perusahaan besar. Kenapa tidak bisa membayar gaji pekerja? Sayang sekali, padahal aku mau beli dua unit rumah di sini...."
"Siapa sangka malah jadi proyek mangkrak?"
Jason yang berada di samping hanya merokok dalam diam. Dia hanya menyaksikan Andre yang sedang membual. Andre benar-benar orang yang pandai membual, bahkan saat berbohong matanya tetap tampak jujur.
Kenapa hanya dalam waktu singkat, mereka sudah menjadi orang dari lokasi konstruksi sebelah yang datang mencari informasi? Andre menjadi pekerja di Pabrik Pasir Timur, sementara Jason sendiri menjadi pebisnis konstruksi.
Namun, masalah ini memang hanya bisa dilakukan oleh Andre.
Jason seorang manajer dari Antar Cepat, jika sampai tersebar sedang mengambil keuntungan dari Grup Internasional Jundra, bagaimana Jason mau bergelut di dunia bisnis Kota Surawa lagi?
Rudi menghela napas panjang. "Iya benar. Grup Internasional Jundra terkenal sebagai perusahaan properti di kawasan selatan. Tapi, properti yang mereka bangun malah mangkrak dengan mudah sekali!"
"Aku sekarang sudah tidak peduli tentang mangkrak atau nggak. Aku hanya ingin mencari cara untuk membayarkan uang para pekerja di bulan ini.....
"Kalau ada orang yang bisa memberikan uang kepadaku, aku rela melakukan apa pun!"
Rudi mengisap rokoknya beberapa kali, lalu mematikannya ke asbak.
Beberapa waktu ini, dia nyaris gila rasanya. Tidak ada uang dan tidak bisa menghubungi pihak yang bertanggung jawab. Namun, dia belum cukup berkuasa untuk menelepon kantor pusat Grup Internasional Jundra.
Manajer umum menutup telepon, sementara pihak yang bertanggung jawab juga sudah kabur entah ke mana....
Seluruh tekanan kini dipikul oleh Rudi seorang. Si manajer umum saat kabur masih berpesan agar dia berjaga di lokasi konstruksi dan jangan pernah mundur. Bahkan, dia juga berkata masalah ini pasti akan segera selesai. Setelah masalahnya selesai, Rudi pasti akan mendapat untung besar!
__ADS_1
Sekarang jika Rudi pikir-pikir lagi, dia memang masih terlalu muda. Dia seharusnya tidak percaya pada ucapan para bajingan itu!
Andre selesai mengisap rokoknya, lalu menghirup napas panjang.
"Pak Rudi, aku punya satu cara bagus yang dapat membantumu."
Andre belum selesai bicara, tetapi mata Rudi sudah tampak bersinar terang.
"Bung, asal kamu bisa membantuku, kelak di Kota Surawa selama aku bisa membantumu maka aku pasti nggak akan menolak!"
"Ratusan pekerja di luar sana akan membunuhku kalau aku nggak membayarkan gaji mereka!"
"Hukum akan kalah dari kerumunan massa. Sekalipun nggak mati, aku juga akan masuk rumah sakit!"
Rudi terdengar sangat sedih. Dia lihat sudah waktunya membayarkan gaji mereka, tapi di mana dia mau mencari uang?
Andre hanya tersenyum. "Jujur saja, saat aku baru masuk, aku melihat ada banyak pasir dan batu yang didorong. Jumlahnya mungkin cukup banyak...."
"Aku bisa menghubungi pabrik pasi, lalu membeli semua pasir itu....'
Andre melihat ke arah Rudi. Sementara Rudi tampak
tertegun. Hatinya bergumam, apa boleh melakukan hal
ini? Apa orang ini bisa dipercaya?
Rudi bukannya tidak berani, dia takut Andre tidak punya
uang....
Andre hanya tersenyum, lalu mengeluarkan beberapa tumpuk uang dari sakunya. Ini adalah uang yang dikantonginya sebelum keluar dari rumah.
"Pak Rudi, kalau kamu nggak percaya, ini ada 60 juta. Kamu anggap saja sebagai uang jaminan dan juga uang yang aku berikan secara pribadi kepadamu. Nggak termasuk uang penjualan pasir."
"Coba kamu lihat lokasi konstruksi ini. Situasinya sudah seperti ini, kamu nggak akan rugi menjual apa pun. Jual saja pasirnya dulu untuk membayar gaji para pekerja. Benar, 'kan?"
Andre bicara sambil menyodorkan uang 60 juta.
__ADS_1
Kebimbangan di wajah Rudi langsung lenyap, lalu segera mengambil uang itu.
"Nggak masalah, ambil saja pasirnya. Bawa sebanyak yang kalian bisa, masalah harga... bisa kita bicarakan lagi."
Andre dan Jason saling bertatapan, lalu Jason mempertimbangkan untuk beberapa saat.
"Pak Rudi, orang yang kami hubungi mungkin akan membeli 15 ribu kubik pasir."
Rudi menganggukkan kepala. "Pasir di lokasi konstruksi lebih dari 15 ribu kubik. Kalian butuh 15 ribu kubik, jadi ambil saja sebanyak itu. Harga belinya dulu 70 ribu rupiah per kubik. Coba lihat kalian mau bayar berapa? Lagi pula, lokasi konstruksi sudah mangkrak. Pihak atasan juga sudah kabur semua. Pasir ini juga cuma terbuang-buang di sini, lebih baik dijual untuk menjadi gaji para pekerja."
Masih ada satu hal yang tidak dikatakan oleh Rudi. Uang yang Andre berikan pada Rudi 60 juta itu, senilai dengan gajinya selama setengah tahun. Pasir milik lokasi konstruksi, tetapi uang yang masuk ke saku Rudi adalah miliknya sendiri.
Andre hanya tersenyum. "Pak Rudi adalah orang yang pengertian. Begini saja, harga pasirnya 20 ribu per kubik. Hari ini aku akan mengambil 15 ribu kubik. Uangnya akan aku bayar sebelum malam."
Rudi agak bimbang. 20 ribu per kubik. 15 ribu kubik, totalnya baru 3 miliar rupiah. Artinya baru cukup membayar gaji satu bulan para pekerja....
Namun, Andre sudah bilang, dia berasal dari Pabrik Pasir Timur. Harga pasir di pabriknya lebih murah daripada harga pasir mereka. Harga pasir mereka tanpa perlu modal.
Sudah untung Andre mau membeli pasir milik mereka. Apalagi Andre sudah memberinya 60 juta rupiah.
"Bawa saja. Ayo, kita tanda tangan kontrak. Tapi, kesepakatannya 3 miliar rupiah, sore ini harus kalian berikan. Aku hanya mau uang tunai!"
Rudi melihat ke arah Andre dan Jason.
Jason menganggukkan kepala. "Pak Rudi, tenang saja. Aku sudah mencari orang untuk mengambil pasir. Sekalian, nanti mampir ke bank untuk mengambil uang."
Penarikan tunai 3 miliar rupiah dalam satu hari yang sama, tanpa pemesanan. Jason pasti harus pergi ke beberapa bank, tapi seharusnya bisa lengkap sebelum malam.
Bahkan, tangan Jason sedikit gemetaran saat mengatakan hal ini. Jason tidak menyangka rencana mereka akan selancar ini.
Rasanya seperti ada bantuan dari Tuhan!
Total 3 miliar, Andre sudah membayar 300 juta rupiah. Jadi, sisanya tinggal 2.7 miliar.
Jangan lupa untuk di like and gift ya guys
vote juga serta 🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1