
"Aku membeli rumah itu dengan harga lima ratus juta dulu. Aku akan menjual rumah itu padamu dengan harga lima ratus juta juga...."
"Aku merasa aku paling cocok denganmu. Bagaimana
menurutmu?"
Kak Airin menatap Jessy sambil mengambil kacang.
Menurut Kak Airin, alasan yang Andre buat ini benar-benar sempurna! Andre menyuruh Kak Airin berbohong bahwa dirinya akan pindah ke luar negeri, jadi rumah itu harus segera dijual.
Wajar saja rumah itu hanya dijual dengan harga lima ratus juta.
Jessy mengepalkan tangan. Lima ratus juta. Kak Airin menurunkan harga sebanyak tiga ratus juta. Selain itu, Kak Airin buru-buru mau menjual rumah itu!
Namun, pada detik selanjutnya, Jessy melepaskan kepalan tangan dan menghela napas.
"Kak Airin, sejujurnya, aku nggak punya lima ratus juta sekarang...."
Kak Airin melambaikan tangan dan berkata, "Jessy, aku tahu kamu nggak punya uang sekarang, tapi aku suka padamu. Begini saja, beri aku empat juta setiap bulan. Bayar sampai kamu melunaskan lima ratus juta dan bunga pinjaman. Kita boleh menandatangani kontrak dulu, lalu hak kepemilikan rumah itu akan dialihkan padamu."
"Kamu juga tahu, aku akan pergi ke luar negeri. Apa gunanya rumah itu bagiku? Lebih baik kamu memberiku sedikit uang setiap bulan."
"Asalkan kamu setuju, kita bisa langsung pergi mengurus pengalihan hak kepemilikan. Rumah itu akan menjadi milikmu."
Kak Airin berkata demikian.
Jessy ternganga dan tidak bisa berkata-kata.....
Jessy tidak berani percaya dirinya bisa begitu beruntung.
"Kak, A... Anda serius?"
Jessy menjadi panik karena Kak Airin terlalu baik padanya..
Kak Airin melambaikan tangan dan memandang Jessy. Kak Airin seolah-olah tersinggung setelah mendengar ucapan Jessy. "Apa maksudmu? Jessy, memangnya aku akan membohongimu?"
"Kalau kamu nggak percaya, kita akan pergi mengurus pengalihan hak kepemilikan rumah sekarang,"
Jessy menarik napas dalam-dalam. Jessy tetap tidak
berani percaya pada Kak Airin. "Kak Airin, bagaimana kalau aku mengumpulkan lima puluhan juta dulu...."
"Kalau Anda langsung mengalihkan hak kepemilikan rumah padaku sekarang, saya akan merasa nggak enak hati...."
__ADS_1
Kak Airin tersenyum, lalu menggenggam tangan Jessy.
"Jessy, tenang saja, aku memilihmu karena aku percaya padamu. Bayar empat juta setiap bulan ke nomor rekening ini. Ayo pergi urus pengalihan hak kepemilikan rumah selagi masih pagi."
Kak Airin menarik Jessy keluar dari restoran.
Jessy pergi ke Badan Pertanahan Nasional dalam keadaan linglung. Lalu, Jessy menandatangani formulir pengalihan hak kepemilikan rumah.
Saat Kak Airin mau pergi, dia berkata kepada Jessy, "Beri aku waktu seminggu. Aku harus membereskan rumah itu dulu. Seminggu kemudian, kamu boleh pindah ke rumah itu kapan pun."
Jessy masih sangat kaget. Dilihat dari ekspresi Jessy, Jessy jelas masih tidak percaya dirinya akan seberuntung ini. Saking bersemangatnya, Jessy tidak bisa berkata-kata. Setelah Jessy tiba ke rumah, Jessy baru sadar bahwa dirinya lupa menjemput Feli.
Jessy pergi ke sekolah. Jessy sering tiba-tiba tertawa sepanjang perjalanan.
Setelah Jessy dan Feli tiba di rumah, mereka duduk di sofa. Feli memandang Jessy sambil menggigit apel. Feli merasa agak bingung.
"Ibu, kenapa kamu tertawa terus?"
"Apa Ibu akan membawa Feli pergi ke taman bermain?"
"Semua anak-anak lain di sekolah pernah pergi ke taman bermain. Selain itu, mereka semua pernah melihat laut dan duduk pesawat. Kapan kamu bisa membawaku melakukan semua itu?"
Feli berbicara sambil menunjukkan tatapan kepingin.
Jessy mengelus dahi Feli.
Feli tertegun.
"Punya rumah? Ibu, kamu nggak mau sama Ayah lagi, ya?"
Jessy tertegun setelah mendengar apa yang Feli katakan.
Tidak mau bersama dengan Andre lagi?
Menurut Jessy, Andre yang tidak mau bersama dengan dirinya dan Feli lagi. Andre sibuk bermabuk-mabukan dan main saham setiap hari. Selain itu, Andre tidak mau melakukan hal lain dan terus menghamburkan uang.
Kalau bukan karena Andre bersikap seperti ini, hidup keluarga mereka tidak akan setragis ini.
Mereka berpisah, sementara Andre punya banyak utang.....
Jessy meghela napas, lalu mengelus dahi Feli lagi.
"Ayah juga akan punya rumah baru, tapi dia bukan hanya ayah Feli lagi kelak. Jessy menundukkan kepala.
__ADS_1
Feli juga tidak makan apel lagi. Feli menatap Jessy tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Feli sepertinya mulai memahami hal ini. Jessy dan Feli duduk di sofa. Kegembiraan yang dibawakan oleh rumah baru memudar..
Jessy tidak mengatakan apa pun. Dia hanya membuat rencana untuk pindah ke rumah baru minggu depan.
Jessy berpikir, 'Aku akhirnya tidak perlu tinggal di rumah orang tuaku lagi....'
Waktu berlalu dengan cepat. Tiga hari telah berlalu.
Keadaan Irwan yang sedang diopname membaik. Berhubung Irwan sudah pulih, Irwan boleh pulang dari rumah sakit.
Hari melakukan serah terima seratus lima puluh rumah dengan Properti Trust telah tiba.
Setelah menyelesaikan prosedur serah terima seratus lima puluh rumah dan melunaskan tagihan terakhir, Andre berpisah dengan Irwan. Andre sangat santai beberapa hari ini.
Andre melewati hari dengan cara minum teh dan baca buku.
Selain itu, Andre juga pergi menemui Kak Airin. Kak Airin sudah pindah, sementara Jessy dan Feli sudah punya tempat tinggal sekarang. Andre menghela napas lega setelah mengetahui hal ini.
Andre bukan tidak ingin langsung memberikan rumah itu pada Jessy. Hanya saja, Jessy sangat tidak menyukai Andre sekarang. Kalau Andre tidak memberikan rumah pada Jessy dengan cara seperti ini, Jessy tidak akan mau menerima rumah itu.
Andre tidak ingin istri dan anaknya terus tinggal di rumah mertuanya.
Andre tidak punya cara lain lagi, jadi Andre terpaksa menggunakan cara seperti ini....
Saat Andre meninggalkan Properti Trust, hari masih pagi.
Jadi, Andre jalan-jalan di sekitar. Sebuah mobil Land Rover berhenti di dekat Andre.
Andre tertegun. Pemilik mobil Land Rover itu menurunkan jendela. Orang yang sedang duduk di bangku pengemudi adalah Bastian. Bastian mengenakan kacamata hitam dan terlihat gagah. Bastian melambaikan tangan ke arah Andre.
"Kak Andre, cepat masuk ke dalam mobil!"
Andre tertegun, kemudian duduk di bangku penumpang depan.
"Kamu nggak kerja hari ini? Kenapa kamu punya waktu luang untuk datang mencariku?"
Bastian tertawa. "Kamu benar-benar hebat. Martin sudah menceritakan bagaimana kamu menyelamatkan Irwan sebelumnya. Aku makin percaya padamu sekarang. Menurutku, rumah di Jalan Kumar kemungkinan besar akan dibongkar."
Bastian mengernyitkan alis.
Andre tertegun, lalu bertanya, "Sudah ada kabar?"
Bastian tersenyum, "Ada orang yang membahas tentang Jalan Kumar dalam pertemuan rutin pemerintah kota pagi ini...."
__ADS_1
"Hal ini belum diputuskan, tapi aku rasa sebentar lagi....'
Ekspresi Bastian menunjukkan bahwa dia yakin Andre paham apa maksudnya.