Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 81


__ADS_3

Namun, bagaimanapun juga, mereka semua sulit untuk dihadapi!


Terutama begitu teringat soal relokasi, maka keluarga ayah dan ibu mertuanya juga harus pindah. Jika dilihat dari sikap Ricky, takutnya mati pun tidak akan mau direlokasi....


Andre agak tidak berdaya, dia hanya bisa menyusun rencana secara perlahan setelah membeli rumah-rumah itu.


Jika sudah tiba waktunya relokasi, mereka juga tidak bisa berontak setelah ada perintah dari pemerintah.


Setelah berpamitan dengan Evans, Stevens menawarkan diri untuk mengantar Andre keluar dari area bisnis. Kemudian, Steven menyerahkan kartu namanya dan berusaha menyenangkan Andre. Dia berpesan jika ada perlu, Andre dapat menghubunginya kapan saja.


Andre membuang kartu namanya ke dalam tong sampah saat berjalan keluar dari area bisnis.


Andre tidak akan mempekerjakan orang licik semacam ini.


"Andre, kenapa kamu bisa di sini?"


Andre hendak memanggil taksi dari pinggir jalan, tetapi dia belum sempat mengulurkan tangan dan sudah di panggil oleh seseorang.


Andre berbalik, lalu menyadari orang yang memanggilnya adalah Ricky.


Andre hanya tersenyum. "Ayah, apa kamu baru pulang kerja?"


Ricky mendengus dingin. "Bukan urusanmu aku baru pulang kerja atau nggak. Siapa yang tahu tujuanmu datang ke area bisnis kami apa!"


"Aku beri tahu ya, kelak kalau aku lihat kamu di sini lagi, aku akan langsung menyuruh satpam menangkapmu, menggeledah tubuhmu, lalu menginterogasimu."


Andre merasa agak tidak berdaya, dia benar-benar kehabisan kata saat menghadapi Ricky, ayah mertuanya ini.


Takutnya Ricky tidak akan percaya jika Andre berkata dia datang kemari untuk membahas masalah bisnis, lalu Ricky akan mengejeknya. Andre sudah terbiasa dengan sikapnya itu.


"Ayah, aku hanya kebetulan lewat...."


Andre tertawa canggung.


Ricky mendengus dingin. "Jangan panggil aku Ayah. Aku tidak pantas punya putra hebat seperti kamu. Kelak, jangan sering-sering kemari. Jangan sampai aku melihatmu lagi!"


"Aku beri tahu ya, cepat cerai dengan Jessy. Aku sudah mencarikan jodoh untuknya. Dia juga bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Orangnya sangat berprestasi dan jauh lebih hebat dari kamu!"


"Malam ini, aku akan mengundang dia ke rumah. Dia juga dapat menerima Feli dan berpendidikan tinggi. Dia juga kaya dan berpangkat tinggi. Dia jauh lebih hebat dari kamu."


Ricky meletakkan tangan di belakang punggungnya. Nanti dia akan ke pasar membeli ikan untuk dibawa pulang.


Sesudah Steven tiba, makanan di meja makan tidak boleh kurang agar Steven mengetahui bahwa Ricky sangat menghargainya.


Andre mengernyitkan alis.


"Ayah, aku sudah pernah bilang kalau aku nggak akan cerai dari Jessy. Kamu jangan buang-buang tenaga menyuruh kami cerai."


"Selama aku belum cerai dari Jessy, artinya dia sampai sekarang masih istriku. Kamu terburu-buru mencarikan pasangan untuknya, apa kamu nggak pernah memikirkan perasaanku?"


Andre menatap Ricky dan bicara dengan jujur. Dia sudah menyimpan emosi ini sejak lama.


Istrinya sendiri mau diperkenalkan kepada orang lain oleh ayah dan ibu mertuanya. Bukankah ini sama saja sedang mempermalukan Andre?

__ADS_1


Walaupun Andre adalah seorang bajingan, sikap Ricky tetap keterlaluan!


Jika Jessy sendiri yang memilih untuk bercerai, Andre tidak akan bisa protes. Sekalipun Jessy akan menikah lagi, semua tidak ada hubungannya dengan Andre!


Namun, sekarang 'kan belum?


Jessy masih istri dari Andre!


Ricky dan Linda malah sudah tidak sabar melihat Jessy menikah lagi!


"Perasaanmu?"


"Memangnya kamu punya perasaan apa?"


"Pria pecundang yang bisanya cuma minum minuman keras."


"Setiap hari tahunya cuma berkeliling nggak jelas. Kalau nggak ya minum sama main saham. Kamu pikir, siapa dirimu?"


Ricky makin bicara makin emosi, untung di sampingnya tidak ada batu bata. Kalau tidak, dia pasti sudah menghantam kepala Andre!


Andre hanya tersenyum. "Ayah, benar apa katamu. Aku memang bukan apa-apa. Tapi, apa yang menjamin pria yang kamu kenalkan ke Jessy adalah pria baik?"


"Begini saja. Aku lihat, sepertinya Ayah mau membeli sayuran ke pasar."


"Aku akan pergi dengan Ayah. Malam ini aku ikut pulang dan makan bersama Ayah untuk menemui pria yang mau Ayah kenalkan ke Jessy."


"Aku juga penasaran dan ingin melihat orang yang kamu bilang lebih hebat dariku."


Andre bicara dengan ekspresi riang, lalu melihat ke arah Ricky.


Andre tahu bahwa amarah tidak akan menyelesaikan masalah. Jika Ricky sudah punya niat seperti itu, Andre tinggal menggagalkannya.


Ricky menatap Andre dengan jijik.


"Apa kamu nggak tahu malu? Coba lihat sikapmu yang berani menumpang makan dalam segala situasi."


"Sejak kapan kamu bisa dibandingkan dengan orang lain? Perbedaan kalian bagai langit dan bumi!"


"Dasar, pecundang!"


Ricky malas memedulikan Andre, dia sendiri berjalan ke arah pasar.


Jika ingin pulang dari pasar hingga ke rumahnya, butuh waktu setengah jam dengan kendaraan umum. Ricky tidak boleh membuang-buang waktu di perjalanan.


Seandainya Steven sudah sampai rumah dan makanannya belum siap, bukankah akan sangat canggung?


Steven masih muda, tetapi sudah punya mobil seharga 200an juta. Benar-benar pemuda yang sukses.


Jika dibandingkan, lalu Ricky melihat Andre yang mengikuti di belakangnya, rasa meremehkan dalam hati Ricky meningkat pesat.


Dasar pecundang! Manusia gagal!


Tunggu setelah sampai di rumah, Ricky pasti akan mengusir Andre keluar!

__ADS_1


Bagaimanapun juga, Andre tidak boleh bertemu dengan


Steven!


Andre mengikuti Ricky di belakangnya. Ricky berjalan ke mana dan Andre akan mengikutinya ke mana pun.


Andre sudah tidak takut mempermalukan diri sendiri.


Istri jauh lebih penting daripada rasa malu.


Bukan hanya istri, tetapi Feli, putrinya yang imut itu juga.


Anak dan istrinya tidak perlu dirawat oleh pria lain.


Terutama oleh pria sialan yang entah muncul dari mana!


Ricky berjalan ke pasar, lalu membeli seekor ikan, ayam, bebek, dan 1,2 kilogram iga sapi.


Andre merasa kesal melihat hal itu.


Wajar bila Ricky tidak menerima Andre ketika dia mulai tergila-gila bermain saham.


Namun, Andre tidak merasa sangat dihargai saat pertama kali datang bertamu ke rumah Ricky.


Andre tidak mungkin merasa sangat kesal jika tidak ada perbandingan seperti ini!


Ricky menunggu kendaraan umum di pinggir jalan. Ricky baru naik ke kendaraan umum, lalu Andre mengikuti di belakangnya.


Ricky sangat kesal hingga matanya terbelalak.


"Dasar, pecundang! Apa kamu belum selesai mengikutiku?"


"Aku mau pulang, apa kamu masih mau ikut?"


"Kamu percaya nggak kalau aku telepon polisi untuk menangkapmu?"


Andre mengulurkan tangan untuk membantu Ricky membawa barangnya.


"Ayah, coba lihat ucapanmu ini. Aku tidak melakukan apa pun, untuk apa menelepon polisi?"


"Apanya yang salah? Ayah naik kendaraan umum, aku juga naik kendaraan umum untuk pulang."


"Aku hanya mau ke rumah Ayah numpang makan. Ayah, lihat aku, tragis sekali. Aku sama sekali nggak punya uang. Aku sampai nggak punya uang untuk beli makan."


"Apalagi aku sudah lama nggak ketemu Feli dan Jessy. Aku sudah kangen sama mereka berdua...."


Andre mulai meratap sedih.


Ricky nyaring mengamuk.


"Hari ini aku mau mengundang teman Jessy saat kecil dulu. Untuk apa kamu ikut?"


"Kamu percaya atau nggak kalau aku hajar kamu pakai bata!"

__ADS_1


__ADS_2