
Feli menggulung lengan bajunya. Ada sebuah bekas cubitan di tangan Feli. Meskipun bekas cubitan itu tidak terlihat jelas, tangan Feli memang memar.
"Dia bilang keluarganya kaya, sementara keluarga kita miskin. Dia bilang aku dan Ibu hanya bisa tinggal di rumah kakek, kami bahkan nggak punya rumah ...."
"Dia bilang keluarganya punya banyak rumah. Selain itu, dia mencubit tanganku dengan kuat. Aku hanya mencakarnya dengan pelan ...."
Feli merasa dirinya dirugikan. Feli meneteskan air mata sambil berbicara. Feli tampak sangat sedih.
Bu Ira sangat marah.
"Memangnya kenapa kalau Aldo bilang keluargamu miskin? Ayah Aldo adalah pejabat tinggi di suatu perusahaan dan punya mobil BMW. Keluarga Aldo tinggal di vila dan punya banyak rumah di Kota Surawa. Kalau kamu hebat, suruh ayahmu beli banyak rumah juga!"
"Mengaku saja bahwa kamu memukul Aldo! Berani-beraninya kamu menuduh Aldo dan mengatakan bahwa dia mengejekmu miskin!"
"Apa yang Aldo katakan memang benar!"
Bu Ira memasang ekspresi meremehkan.
Andre mengerutkan kening setelah melihat sikap guru ini. Andre merasa taman kanak-kanak yang Hendi cari tidak terlalu bagus....
"Wah, Aldo, ada apa?"
"Siapa yang mencakar wajahmu?"
Saat Bu Ira baru selesai berbicara, seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri Aldo. Wanita ini datang bersama seorang pria yang gemuk.
Dua orang ini mengamati bekas cakaran di wajah Aldo.
"Siapa yang berani memperlakukan anakku seperti ini!"
Wanita paruh baya ini mengamuk. Pria yang ada di belakang wanita ini juga tampak kesal.
"Bu Ira, kami menyekolahkan anak kami di sini dengan harapan dia bisa mendapatkan teman di sini, bukan ditindas."
"Apa yang telah terjadi?"
Bu Ira tidak tahu harus berkata apa. Dia melipat tangan dan mengalihkan tatapannya ke arah Andre.
"Ini bukan urusan saya. Ayah Feli, tolong jelaskan hal ini pada orang tua Aldo. Anakmu memukul dan mencakar anak lain. Kalau Feli bersikap seperti ini lagi, saya harus
melaporkan hal ini pada kepala sekolah. Feli akan dikeluarkan dari TK Biru."
"Aku benar-benar nggak paham, kenapa ada orang miskin yang memaksakan diri untuk menyekolahkan anak di TK elite? Apa orang seperti ini berharap anak mereka bisa sukses?"
Ibu Aldo mulai mengomel sebelum Andre mulai berbicara!
"Dasar anak jahat! Kamulah yang mencakar Aldo, 'kan?"
"Aldo, beri tahu aku, apa dialah yang mencakarmu? Masih kecil tapi sudah nakal!"
__ADS_1
"Sialan!"
Aldo menjadi tenang setelah ayah dan ibunya datang. Aldo langsung pura-pura menangis.
"Ibu, dialah yang mencakarku! Dia menindasku! Aku bilang keluarganya miskin, ibunya hanya bisa tinggal dengan kakeknya. Aku bilang keluarga kita tinggal di vila dan punya banyak rumah. Lalu, dia memukulku!"
Aldo melebih-lebihkan hal ini.
Ibu Aldo menjadi makin emosi. "Kamu nggak hanya memukul anak lain, tapi juga iri dengan orang kaya?"
"Kenapa? Hanya karena kamu miskin, jadi kamu ingin semua orang sama-sama miskin sepertimu?"
"Dasar anak sialan!"
"Keluargaku kaya dan punya banyak rumah. Kami punya satu vila dan enam rumah. Harga vila dan rumah-rumah yang kami miliki miliaran. Apa keluarga kalian punya?"
"Dasar orang miskin! Aku benar-benar nggak tahu kenapa kamu bisa bersekolah di TK Biru!"
"Apa pengurus TK Biru sudah gila?"
Ibu Aldo bersikap makin galak. Bu Ira hanya bisa meminta maaf.
Andre tertawa dingin sambil menatap wanita paruh baya ini. Lalu, Andre menyuruh Feli bersembunyi di belakang dirinya.
"Aku benar-benar nggak tahu kenapa keluargamu begitu sombong."
"Memangnya satu vila dan enam rumah termasuk banyak?"
"Cih, dasar orang miskin! Kamu benar-benar suka membual! Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu adalah miliarder saja?"
"Aku bukan nggak pernah ketemu dengan ibu anak ini. Dia hanyalah pegawai biasa. Dia bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan suamiku."
"Memangnya kalian punya berapa rumah? Tunjukkan padaku!"
"Jangan hanya bisa membual saja, siapa yang nggak bisa membual?"
Wanita paruh baya itu memasang ekspresi meremehkan. Dia mencibir sambil mengelus kepala anaknya untuk menghibur anaknya.
"Aldo, lain kali jangan main dengan orang seperti ini di sekolah. Kamu harus main dengan anak-anak yang keluarganya lebih kaya darimu."
"Orang seperti ini adalah orang kelas bawah. Mereka nggak berhak main dengan orang seperti kita. Jangan bagikan makanan dan mainan yang Ibu belikan untukmu dengannya."
"Kamu harus mengajak anak-anak lain mengucilkannya, jadi dia akan mengundurkan diri dari TK Biru."
Wanita paruh baya ini makin menjadi-jadi. Apa yang dia ucapkan benar-benar keterlaluan.
Dia ingin memberi pelajaran pada keluarga Feli!
Dia merasa orang seperti Feli tidak berhak bersekolah di tempat yang sama dengan anaknya!
__ADS_1
Andre memandang keluarga Aldo, lalu tertawa dingin dan menggendong Feli.
"Feli, lain kali jangan main dengan orang-orang ini ...."
Feli merasa agak sedih. "Kenapa, Ayah? Hanya karena kita nggak punya rumah besar?"
Andre tertawa dingin.
"Bukan, karena mereka adalah orang miskin. Mereka nggak punya uang. Berani-beraninya mereka bersikap sombong hanya karena punya beberapa rumah. Orang seangkuh ini akan membawakan pengaruh buruk bagimu."
"Jadi, jangan main dengan orang seperti ini. Wawasan mereka terlalu sempit. Mereka bagai katak di bawah tempurung. Pengetahuan mereka sangat cetek ...."
Ibu Aldo menjadi marah lagi setelah mendengar ucapan Andre.
"Apa maksud kalian? Kalian benar-benar adalah keluarga yang tidak tahu malu. Berani-beraninya kamu berbicara seperti ini!"
"Kamu bilang kami miskin? Memangnya kamu berhak mengatai kami?"
"Aldo mengenakan pakaian yang bermerek, bahkan tas Aldo pun dibeli dari luar negeri. Harga tas Aldo setara dengan gajimu selama satu bulan!"
"Kami punya banyak rumah di Kota Surawa...."
Andre memandang ibu Aldo. Andre malas berbasa-basi dengan orang seperti ini. Jadi, Andre menelepon Irwan.
"Halo, Irwan, bawa seluruh sertifikat tanah yang kita miliki ke TK Biru."
Setelah Andre selesai berbicara, Irwan yang sedang rapat langsung beranjak berdiri dan mengakhiri rapat. Irwan segera membawa sertifikat tanah ke TK Biru.
Irwan tidak bertanya mengapa Andre menyuruhnya pergi ke TK Biru. Tak peduli apa pun yang Andre butuhkan, Irwan pasti akan membantu.
Ini bukan hanya karena Andre pernah menyelamatkan Irwan, tapi juga karena ada pengumuman bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar. Andre mendapatkan seratus dua puluh miliar dalam waktu satu hari!
Seratus dua puluh miliar. Nominal ini sudah hampir setara dengan harga Hotel Riverside.
Ibu Aldo mendengus setelah melihat tingkah laku Andre.
"Jangan-jangan kamu menyuruh orang membuat sertifikat tanah palsu?"
"Aku kasih tahu dulu, membuat sertifikat tanah palsu itu melanggar hukum ...."
"Lagi pula, kalaupun kamu mau membuat sertifikat tanah palsu, kamu bahkan nggak bisa membuat sepuluh sertifikat tanah dalam waktu sesingkat ini, 'kan?"
Ibu Aldo melipat tangan.
Pria gemuk yang berdiri di belakang ibu Aldo berjalan ke depan. Pria ini adalah ayah Aldo.
"Sudahlah, cepat pergi urus prosedur untuk mengeluarkan anakmu dari TK Biru...."
"Keluarga seperti kalian nggak bisa menyekolahkan anak di sekolah seperti ini ...."
__ADS_1
"Jangan mempermalukan dirimu lagi. Aku menunggu sepuluh hari pun, kamu juga nggak akan bisa menunjukkan sertifikat tanah."