
Evan berkata demikian.
Andre tersenyum.
Saat Evan menyebut nama Hotel Riverside, Andre teringat akan sesuatu. Beberapa saat yang lalu, Irwan masih sedang berunding dengan beberapa spekulan properti yang datang ke Kota Surawa. Katanya ada masalah saat melaksanakan prosedur. Jadi, ada beberapa prosedur yang tidak bisa dilanjutkan.
Hal yang terpenting adalah uang yang Andre miliki belum cukup.
Andre belum bisa membeli rumah orang-orang ini untuk sementara.
Jadi, apa Andre bisa membantu Perusahaan Listrik Provinsi Damur menyelesaikan masalah hari ini menjadi faktor penentu.
Asalkan Andre bisa membantu Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Andre akan mendapatkan pinjaman sejumlah dua ratus delapan puluh miliar malam ini.
Jika Andre tidak bisa membantu Perusahaan Listrik Provinsi Damur, bahkan jika mesin litografi Andre benar-benar berharga senilai empat ratus miliar, Andre tetap tidak bisa mendapatkan uang sepeser pun. Andre sendiri juga menyadari hal ini.
Namun, Martin sangat marah. Martin bahkan memecat Irwan.
Andre berpikir, 'Apa aku masih boleh masuk ke Hotel Riverside milik Grup Suhandi?'
Andre masuk ke dalam mobil. Lalu, Evan menyuruh sopir mulai mengemudi. Andre dan Evan yang sedang duduk di dalam mobil mengobrol.
Setelah tiba di Hotel Riverside, Andre dan Evan keluar dari mobil.
Amir sudah menunggu cukup lama di luar pintu. Demi menunjukkan ketulusannya, Amir bahkan tidak masuk ke dalam Hotel Riverside. Amir menunggu Andre di luar lobi.
Akan tetapi, saat Amir bertemu dengan Andre, sejujurnya Amir merasa agak kecewa.
Namun, pada detik selanjutnya, Amir tersentak. Amir merasa tidak puas setelah melihat penampilan dan pakaian Andre. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang lain, apakah ini adalah sebuah petunjuk dari Andre?
Menurut Amir, Andre menyuruhnya jangan menilai seseorang berdasarkan penampilan....
"Pak Andre, aku sudah sering mendengar namamu sebelumnya, kita akhirnya bertemu hari ini."
Amir mengulurkan tangan dan menatap Andre sambil tersenyum.
Amir berusia lima puluhan tahun. Dia adalah direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Berhubung kedudukannya sangat tinggi, aura yang dia pancarkan jelas sangat berwibawa.
Namun, Andre mengulurkan tangan dengan santai untuk bersalaman dengan Amir.
Pada kehidupan yang lalu, Andre bergelut dalam dunia dagang selama lima belas tahun. Andre memiliki aset sejumlah puluhan triliun. Andre bahkan pernah bertemu, bersalaman dan mendiskusikan investasi dengan presiden luar negeri.
Amir bukan apa-apa bagi Andre.
Amir termasuk orang yang terkenal di Provinsi Damur. Akan tetapi, Amir tidak terlalu terkenal di luar Provinsi Damur.
__ADS_1
"Pak Amir, kamu terlalu menyanjungku."
Andre memandang Amir sambil tersenyum dan mengulurkan tangan.
Amir mengangguk sambil memanggil Evan. Lalu, tiga orang ini hendak masuk ke dalam Hotel Riverside.
Satpam dan pelayan Hotel Riverside menyambut kedatangan tamu sambil tersenyum. Mereka mempersilakan Amir dan Evan untuk masuk. Namun, ketika Andre hendak masuk, satpam dan pelayan malah mengulurkan tangan untuk menghalangi Andre.
Andre tertegun.
Evan dan Amir juga agak marah.
"Pak Andre adalah tamu kami, siapa yang menyuruh kalian menghalanginya?"
Satpam hotel perlahan membungkukkan badan ke arah
Amir dan Evan.
"Maaf, kalian boleh masuk dan makan di dalam, tapi orang ini tidak hanya tidak boleh masuk ke dalam Hotel Riverside, dia telah masuk ke daftar hitam seluruh properti milik Grup Suhandi!"
"Grup Suhandi dan Hotel Riverside tidak menyambut kedatangan Pak Andre."
Satpam yang sedang berdiri di depan pintu merasa tidak berdaya. Bagi Hotel Riverside, melakukan hal seperti ini jelas akan memengaruhi suasana hati para tamu.
Akan tetapi, satpam ini tidak punya pilihan lain. Ini adalah perintah dari Pak Martin. Seisi Grup Suhandi harus menuruti perkataan Pak Martin.
Pak Martin mengatakan bahwa Andre tidak boleh masuk ke dalam seluruh properti Grup Suhandi, maka Andre tidak akan diperbolehkan untuk masuk ke dalam properti Grup Suhandi.
Jadi, Amir dan Evan boleh masuk, tapi Andre tidak boleh. Andre tersenyum pahit.
Untuk apa Martin bertindak seperti ini ....
"Apa-apaan ini? Kalau kalian nggak memberi kami sebuah penjelasan yang masuk akal hari ini, jangan harap Hotel Riverside bisa terus dibuka!"
Amir meletakkan kedua tangan di belakang punggung. Dia agak marah.
Amir adalah direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Dia sangat berkuasa. Selain menduduki jabatan direktur, dia juga kenal dengan pejabat tinggi Kota Surawa dan Provinsi Damur!
Berani-beraninya hotel ini menghalangi tamu yang dia bawa.
Hal ini benar-benar tidak masuk akal.
Satpam yang ada di depan pintu agak takut, tapi tetap melarang Andre untuk masuk. Jika dia memperbolehkan Andre masuk, dia akan dipecat.
Orang yang melanggar aturan dan membuat Pak Martin marah pasti akan dihukum.
__ADS_1
Amir sangat marah, sementara Evan nyaris mau memukul satpam.
Andre menahan dua orang ini.
"Pak Amir, Pak Evan, berhubung hotel ini nggak menyambut kedatangan kita, kita pergi makan di tempat lain saja. Kita nggak harus makan di Hotel Riverside."
"Pasti ada alasan di balik mengapa Pak Martin mau memboikot saya. Kita jangan mempersulit mereka dan melanggar aturan yang mereka tentukan."
Andre tersenyum.
Amir mengerutkan kening. "Pak Andre, apa yang telah kamu lakukan? Kenapa Martin begitu membencimu? Martin pernah bertengkar dengan pengusaha lain sebelumnya, tapi tak peduli seburuk apa pun hubungan antara Martin dan saingannya, Martin nggak pernah memboikot saingannya dari seluruh properti Grup Suhandi."
"Kamu...."
Andre tersenyum dengan tidak berdaya. Tatapan Andre terlihat muram.
"Aku nggak melakukan apa-apa, aku hanya merekrut manajer Hotel Riverside."
"Aku nggak menyangka Martin begitu pelit, dia menjadi membenciku...."
"Sudahlah, nggak usah makan di sini. Ayo pergi ke tempat
lain."
Andre melambaikan tangan.
Amir dan Evan saling bertatapan. Ujung bibir mereka berkedut.
Semua orang tahu bahwa manajer Hotel Riverside, Irwan, telah mengikuti Martin sejak Martin mulai terjun ke dunia bisnis. Irwan adalah tangan kanan Martin. Irwan membantu Martin selama bertahun-tahun, lalu tetap bekerja keras setelah diangkat menjadi manajer Hotel Riverside ....
Tidak masalah jika Andre merekrut pejabat tinggi lain.
Namun, jika Andre merekrut Irwan, bukankah ini sama saja dengan merekrut sahabat Martin?
Pantas saja Martin begitu jengkel dan mau memboikot Andre di seluruh Kota Surawa.
Hal ini memang salah Andre sendiri....
Andre, Amir dan Evan tidak berlama-lama di Hotel Riverside. Mereka mencari hotel lain di sekitar, lalu duduk di sana.
Amir tampak sangat risau. Dia menatap Andre.
"Pak Andre, anakku sudah menceritakan kehebatanmu padaku. Kamu bisa menyelamatkan Desain Selaras yang sudah hampir bangkrut. Kamu seharusnya bisa membantuku ...."
"Nasib keluargaku tergantung padamu, Pak Andre."
__ADS_1