Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 87


__ADS_3

"Aku mau 5 tusuk!"


"Beri aku 8 tusuk!"


Andre hanya menenangkan para pembeli. "Tenang, tenang, semua pasti kebagian."


"Hari ini aku membawa 500 tusuk. Semuanya antre


pelan-pelan ya."


Tangan Andre yang memanggang sate taichan makin mahir. Pelanggan yang berada di sekitar memiliki waktu luang dan berbincang dengan Andre untuk menghilangkan rasa bosan.


"Bos, beberapa hari ini nggak keliatan, ke mana aja?" Andre mengoleskan bumbu dan hanya tersenyum.


"Nggak ke mana-mana, aku cuma beli dua kompleks perumahan. Beberapa ratus unit rumah dan sedang menunggu relokasi."


Segera, terjadi kehebohan di sekeliling kios.


Masyarakat pada umumnya pasti sudah menghabiskan tabungan mereka untuk membeli satu unit rumah, tetapi Andre yang menjual sate taichan malah membeli dua kompleks perumahan.


"Bos, kamu tambah hebat membual ya selama beberapa hari kita nggak ketemu!"


Pelanggan di sekitar mulai heboh dan tertawa terbahak-bahak.


Andre juga ikut tertawa, tampak jelas bahwa mereka tidak menganggap serius ucapan Andre.


Sate taichan sudah terjual sampai 200 tusuk di siang hari saja. Andre menyalakan sebatang rokok, dia baru beristirahat. Namun, tidak sampai dua menit dan terdengar suara ponsel Andre yang berdering.


Andre menerima telepon dan agak terkejut.


"Bastian, kenapa sempat meneleponku?"


Suara Bastian terdengar menghela napas panjang dari telepon. "Jangan dibahas. Aku ketemu kasus yang krusial dan kehabisan ide. Pemerintah daerah sudah memberi libur, aku baru bisa pegang HP. Jadi, aku kepikiran cari Kak Andre." Ujar Bastian.


Andre hanya tersenyum. "Aku lagi di Jalan Dorha, ada kios sate taichan di depan perusahaan Desain Selaras."


Bastian tertegun untuk beberapa saat.


"Sate taichan? Apa itu sate taichan?"


Andre hanya tersenyum sambil melayani pembeli sate taichannya.


"Tunggu kamu datang juga tahu."


Andre menutup telepon, lalu mematikan rokoknya.


Tidak lama kemudian, di persimpangan Jalan Dorha tampak lampu mobil kepolisian yang menyala dengan mobil bergambar simbol Pejabat Penegakan Hukum dan Manajemen Kota.


Pak Doni yang berjualan panekuk di samping segera melemparkan bangkunya ke dalam mobil, lalu hendak segera kabur.


Andre meliriknya sekilas.


"Pak Doni, kenapa cepat sekali tutup hari ini?"


Pak Doni tampak sangat panik, bahkan keringat di dahinya mengalir dengan deras.

__ADS_1


"Tutup apanya! Manajemen kota sudah datang. Masih belum kabur, apa mau menunggu mereka menyita kiosku! Nanti kamu nggak akan sempat menyesal!"


Pak Doni mendorong kiosnya dan kabur dengan cepat.


Andre mendongakkan kepala, lalu melihat ke arah mobil yang parkir di samping kiosnya.


Bastian turun dari mobil, lalu tercengang juga karena melihat para pedagang yang berlarian.


"Kenapa kamu ke sini naik mobil itu?"


Andre melambaikan tangan ke arah Bastian, sementara tangannya terus memanggang sate taichan.


Bastian mengiakan sekilas.


"Nggak kenapa-kenapa juga sih, soalnya semua mobil di kantor sudah dipakai. Mobil ini aku pinjam dari tim di departemen sebelah. Kenapa mereka semua kabur?"


Andre tertawa untuk beberapa saat, tetapi tidak menjawab. Dia mengemudikan mobil manajemen kota dan langsung menuju ke area kios pedagang. Kemudian, bertanya mengapa mereka semua kabur.


Jika mereka tidak kabur, apakah mau menunggu ditangkap?


Namun, bagus juga. Kini satu-satunya kios yang buka adalah kios milik Andre. Jadi, tidak ada orang yang dapat merebut pelanggannya.


"Mungkin mereka ada urusan di rumah, jadi tutup lebih dulu."


Andre memanggang sate taichan, lalu menyodorkan setusuk sate kepada Bastian.


Bastian memakan sate taichan dan terus memujinya. Bastian sudah nyaris gila karena terus menerus berada di kantor. Setiap hari hanya rapat, riset, dan melihat berbagai berkas.


Terutama Bastian baru naik pangkat, jadi sedang melakukan persiapan untuk masuk kasus yang baru setelah menyelesaikan kasus Dimas.


Andre melihat Bastian yang makan dengan tergesa-gesa dan antusias, lalu Andre memberinya setusuk sate taichan lagi.


Bastian tertawa pahit.


"Tunggu kamu tutup kios, kita cari tempat untuk berbincang...."


"Kasus kali ini terlalu mengerikan. Asalnya dari kasus Dimas, lalu bercabang ke kasus lain. Ada banyak masalah yang aku juga tidak paham. Masalah ini melibatkan bidang ekonomi. Kami semua mana ada yang paham."


"Kak Andre, mungkin aku harus menanyakan masalah ini sama kamu...."


Bastian makan tiga tusuk sate sekaligus hingga terdengar suara sendawa karena kekenyangan.


Andre menganggukkan kepala, tangannya juga bergerak lebih cepat. Belum sampai dua jam dan sudah terjual 300 tusuk sate taichan. Jadi, 500 tusuk telah terjual habis, laris manis.


Kira-kira ada 20 tusuk sate yang dihabiskan oleh Bastian sendiri.


Kemudian, Andre mendorong kiosnya pulang dan tidak jauh dari rumahnya.


Akhirnya Andre mencari kios barbeque dan memesan dua gelas es teh, lalu duduk bersama Bastian.


Suhu di Kota Surawa pada malam hari terasa sejuk dan nyaman.


Apalagi ditambah dengan es teh yang menyegarkan dan memakan dua tusuk sate barbeku. Benar-benar sangat memuaskan.


"Kak Andre, aku dengar kamu musuhan sama Martin ya?"

__ADS_1


"Apa benar si berengsek itu memblokirmu di mana-mana?"


Bastian meminum es teh hingga bersendawa. Dia memang baru keluar dari kantor kepolisian, tetapi begitu keluar dia langsung menelepon ayahnya, Tuan William.


Kemudian, Bastian baru tahu dari William bahwa Andre dan Martin telah benar-benar bermusuhan selama Bastian menyelidiki kasus tertutup beberapa waktu ini.


Martin telah memblokir Andre di seluruh anak perusahaan


Grup Suhandi.


Bahkan, Andre sekarang sudah tidak bisa masuk ke Hotel


Riverside.


Andre agak tidak berdaya.


"Pak Martin ya... dia sedikit emosional. Aku hanya merebut pekerjanya yang bisa diandalkan saja. Nggak seharusnya dia seperti itu."


"Kita sama-sama pebisnis, apanya yang tidak bisa


dibicarakan secara baik-baik...."


"Setidaknya dia bisa buka harga, lalu aku akan mengembalikan Irwan padanya."


Andre mengangkat es teh, lalu meminumnya.


Tentu saja, sulit ditebak Martin yang sekarang masih berani atau tidak menyuruh Irwan kembali bekerja dengannya.


Bastian sedikit tidak berdaya. Dia juga tidak suka berada dekat-dekat dengan Martin, tetapi bagaimanapun juga Martin termasuk kakak yang melihat Bastian tumbuh sejak kecil.


Sementara Andre menganggap Bastian sebagai sahabat yang terbaik dan sudah seperti kakaknya juga.


Dua orang kakak akan bertarung, Bastian tidak mungkin membela salah satu pihak dan menjatuhkan pihak yang lainnya.


Ya sudahlah, biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri. Semuanya masih bisa dibicarakan baik-baik, selama mereka tidak bertengkar saat bertemu.


Kalau tidak, Bastian hanya dapat menangkap mereka dan masuk lembaga pemasyarakatan selama beberapa hari atas tuduhan mengganggu ketertiban umum.


Setelah minum dua gelas es teh, Bastian menghela napas dengan penuh derita. Dia teringat akan masalah penting yang menjadi alasannya mencari Andre.


"Kak Andre, menurutmu di dunia ini apa ada investasi


yang bisa mendapatkan suku bunga 10 persen per bulan?"


Andre bersandar di kursi, lalu mengangkat gelas, lalu tersenyum riang.


"Suku bunga 10 persen per bulan?"


"Gampang..."


"Tapi, setiap bulan bertahan di suku bunga 10 persen selama satu tahun, hal itu nggak mudah."


Bastian kurang paham.


"Suku bunga 10 persen per bulan, menginvestasikan uang 20 juta hanya dapat menghasilkan 2 juta. Balik modal dari investasinya juga nggak terlalu tinggi ya."

__ADS_1


__ADS_2