
"Pak Andre benar-benar hebat, aku sangat kagum ...."
Amir menghela napas. Amir sudah hidup selama lima puluhan tahun. Tidak ada hal yang bisa membuat Amir kaget selama ini. Sebelum Amir datang ke sini, Amir bahkan tidak berharap Andre bisa membantu dirinya.
Akan tetapi, karena Evan terus membujuk, Amir akhirnya memutuskan untuk datang mencoba keberuntungan.
Namun, Amir tercengang setelah mendengar rencana Andre dari awal hingga akhir....
"Pak Amir nggak usah sungkan, aku melakukan semua ini karena ada keuntungan yang bisa aku dapatkan."
Andre meminum seteguk teh, lalu memandang Amir sambil tersenyum.
Amir tertegun. Amir memang agak terkejut karena Andre menjelaskan rencana ini secara mendetail. Selain pinjaman sebesar dua ratus delapan puluh miliar yang tidak sulit didapatkan, apa keuntungan lain yang bisa Andre dapatkan? Pinjaman itu memang harus melewati prosedur biasa dulu.
"Aku menyuruhmu menjual aset periferal Perusahaan Listrik Provinsi Damur tadi. Selain merek dagang, paten dan saham yang diinvestasikan di industri lain, kalian masih punya lumayan banyak aset tetap dan properti yang dibeli dengan tujuan untuk investasi."
"Permintaanku nggak banyak. Aku hanya berharap Pak Amir bisa membantuku. Tolong jual seluruh rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur yang ada di Jalan Kumar, Jalan Armin dan Jalan Weru padaku."
"Aku bersedia membuka harga sepuluh persen lebih tinggi daripada harga pasar. Jadi, aku rasa akan lebih gampang bagi Pak Amir untuk menjelaskan hal ini pada para pemegang saham."
Andre meletakkan gelas.
Alasan Andre membantu Amir bukan untuk beramal. Andre telah mengincar rumah-rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur yang terletak di Jalan Kumar, Jalan Armin dan Jalan Weru sejak awal.
Amir terdiam.
"Aku bersedia menjual rumah-rumah itu, tapi rumah-rumah di Jalan Kumar akan dibongkar sebentar lagi. Sepertinya Pak Andre belum mengetahui hal ini?"
Amir mengerutkan kening. Maksud Amir sangat jelas. Amir ingin menaikkan harga.
Andre tersenyum. "Pak Amir, apa pembongkaran rumah akan dilaksanakan besok atau lusa?"
"Apa kerugian Perusahaan Listrik Provinsi Damur bisa ditutupi dengan rumah-rumah itu saja? Apa rumah-rumah itu akan membawakan keuntungan bagi perusahaan?"
"Aku nggak memberimu solusi sesaat, melainkan mengajarimu cara untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang. Kamu mau mendapatkan uang secara terus-menerus atau hanya mendapatkan keuntungan satu kali saja? Pak Amir, kamu seharusnya tahu pilihan mana yang lebih baik."
__ADS_1
"Anda benar-benar merasa saya nggak tahu tentang rencana pembongkaran rumah di Jalan Kumar?"
"Rumah milik para spekulan properti jauh lebih murah dari rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
"Aku bersedia membeli karena ingin membantu Pak Amir."
Andre mengernyitkan alis.
Apa yang Andre katakan sebenarnya tidak benar.
Sesungguhnya, Andre ingin membeli rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur yang terletak di Jalan Kumar, Jalan Armin dan Jalan Weru karena rumah yang Andre miliki sudah tidak cukup....
Andre punya seratus lima puluh rumah sebelumnya. Lalu, Andre menjual kebanyakan rumah yang dia miliki pada spekulan properti dari kawasan pesisir.
Para spekulan properti setidaknya punya seratus delapan puluh miliar. Jumlah rumah yang mereka miliki mendekati dua ratus unit.
Namun, inilah batasnya. Rumah-rumah yang tersisa adalah milik perusahaan, seperti Perusahaan Listrik Provinsi Damur dan Elektronik Surawa.
Selain itu, ada beberapa rumah yang dijadikan tempat tinggal pegawai Perusahaan Listrik Provinsi Damur dan perusahaan negeri lain.
Contohnya, ayah mertua Andre, Ricky, punya sebuah rumah berukuran seratus meter persegi. Dia mendapatkan rumah itu karena dia bekerja di Perusahaan Listrik Perusahaan Damur dulu.
Pihak yang berhak menjual rumah itu tetap adalah Perusahaan Listrik Perusahaan Damur.
Selain itu, salah satu penghuni Perumahan Larumnas yang lain, Tuan William, sebenarnya juga bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur dulu.
Hanya saja, berhubung William lebih berumur dari Ricky, William sudah pensiun cukup lama. Jabatan William di perusahaan itu cukup tinggi.
Jadi, William tinggal di rumah berukuran seratus lima puluh meter persegi yang sudah didekorasi ulang.
Namun, rumah itu tetap adalah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
Andre hanya butuh menghabiskan seratus dua puluh miliar untuk membeli rumah milik spekulan properti. Apakah uang yang tersisa akan dibiarkan begitu saja?
Inilah alasan mengapa Andre tertarik pada rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
__ADS_1
Andre menginginkan seluruh rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur, baik itu adalah rumah yang dibeli dengan tujuan untuk investasi, rumah yang dijadikan.
sebagai asrama pegawai, atau rumah yang dijadikan sebagai aset tetap milik pegawai!
Amir tersentak setelah mendengar ucapan Andre.
Amir menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk. "Baik, aku akan mengadakan rapat dengan para pemegang saham untuk mengumumkan keputusanku besok. Akan tetapi, ada satu hal yang harus kamu pertimbangkan dengan saksama...."
"Kebanyakan rumah di Jalan Kumar, Jalan Armin dan Jalan Weru ditinggali oleh pegawai lama Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Mereka sudah lama tinggal di sana. Kami nggak berhak mengusir mereka. Aku akan menjual rumah-rumah itu padamu, tapi kalau mereka nggak mau pergi, kami nggak bisa membantumu mengusir mereka."
Andre tersenyum.
"Pak Amir nggak perlu mengkhawatirkan hal ini. Aku hanya menginginkan rumah-rumah itu. Setelah aku mendapatkan rumah-rumah itu, aku punya cara untuk menyuruh mereka pergi ...."
Amir mengangguk.
"Baik. Kalau begitu, aku akan menyuruhmu datang ke Perusahaan Listrik Provinsi Damur dalam tiga hari. Kita akan menandatangani surat pengalihan hak milik tanah.
Aku rasa uang pinjaman dari bank akan masuk ke rekeningmu hari ini."
"Akan tetapi, Pak Andre, ada satu hal yang ingin aku jelaskan ...."
"Durasi pinjaman ini hanya enam bulan. Setelah enam bulan berlalu, pihak bank akan mengambil mesin litografi yang kamu gadaikan secara paksa."
"Selain itu, Bank Damur nggak pernah menerima gadaian berupa mesin litografi sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya mereka menerima gadaian seperti ini. Meskipun mesin ini digadaikan oleh Perusahaan Listrik Provinsi Damur, bunga pinjaman yang mereka tentukan tetap sangat tinggi, yaitu dua belas persen."
"Aku tahu bunga pinjaman ini lumayan tinggi, tapi masih masuk akal. Aku rasa Pak Andre bisa menerima hal ini, 'kan?"
Andre mengumpat-umpat di dalam hati. Bank Damur benar-benar keterlaluan!
Bunga pinjaman dua belas persen sudah hampir setara dengan rentenir.
Bank Damur benar-benar jahat. Andre merasa dirinya lebih baik mengumpulkan uang secara ilegal!
Dibandingkan dengan sepuluh tahun kemudian, bunga pinjaman bank pada saat ini memang lebih tinggi. Suku bunga acuan lima tahun Bank Sentral menjadi sekitar 3,6 persen.
__ADS_1
Jumlah tabungan rakyat terus meningkat setiap tahun.
Untuk bank lokal seperti Bank Damur, suku bunga lima tahun dipertahankan di atas lima persen untuk jangka waktu yang panjang.