Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 86


__ADS_3

Tidak disangka Steven lebih cepat pergi daripada Ricky yang menahannya.


Steven bisa dikatakan kabur dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar tidak ingin tinggal lebih lama lagi di sana.


Benar-benar menyiksa dan menakutkan!


Andre duduk di sana, bahkan Steven bisa mendengar suara jantungnya sendiri yang berdebar kencang.


Namun, untungnya Steven tidak melakukan kesalahan. Steven juga tidak sembarangan bicara di belakang Andre tentang akrabnya hubungan Steven dan dia.


Jadi, Steven masih selamat.


Seharusnya Steven tidak perlu menerima surat pemberitahuan tentang pindah cabang dari Perusahaan Listrik Provinsi Damur.


Ekspresi Ricky tampak kebingungan, Linda yang berada di sampingnya juga tidak tahu apa yang terjadi.


"Ini... kenapa Steven cepat sekali perginya?"


Ricky hanya menggelengkan kepala.


Andre hanya tersenyum. "Mungkin ada urusan mendadak di rumahnya, jadi dia buru-buru pulang. Bukannya dia juga sudah makan dua piring nasi?"


"Bukannya wajar-wajar aja pulang setelah kenyang makan?"


Ricky membalikkan tubuhnya, lalu menggebrak meja makan. Emosinya langsung memuncak ketika mendengar ucapan Andre.


"Andre, tutup mulutmu!"


"Kalau bukan karena kamu yang terus bicara, apa Steven bisa pergi secepat itu?"


"Kenapa kamu begitu nggak tahu malu dan berpikir dia


terganggu sama kamu?"


"Bukannya kamu juga sudah selesai makan? Cepat pulang!"


"Orang yang nggak seharusnya pergi, malah sudah pergi. Orang yang seharusnya pergi, malah nggak pergi juga."


Andre melihat sikap Ricky dan Linda, takutnya Ricky benar-benar akan menebasnya dengan pisau jika tidak juga pergi dari sana!


Andre melirik Jessy sekilas, merasa tak berdaya. Lalu mengelus kepala Feli yang sedang makan iga sapi dan berjalan keluar dari rumah Ricky.


Terdengar suara dentuman yang kencang!


Suara pintu besi terdengar ditutup dengan kuat.


Bahkan, rasanya angin bertiup di belakang tubuh Andre hingga pakaiannya bergoyang.


Andre yang sudah kekenyangan turun melewati tangga ....

__ADS_1


Seandainya benar-benar membujuk para pekerja lama di Perusahaan Listrik Provinsi Damur untuk pindah, takutnya orang pertama yang mengalami kesialan adalah ayah dan ibu mertua Andre.


Dia ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik, tetapi belum tentu ayah dan ibu mertuanya bisa menerima.


Untungnya, setelah melalui masalah tadi, sepertinya dapat mengurangi niat orang tua Jessy untuk mengenalkan pasangan baru kepadanya.


Andre berjalan turun dari gedung, lalu terdengar suara langkah kaki yang makin lama, makin mendekat.


Andre membalikkan tubuhnya, lalu menyadari bahwa Jessy juga ikut turun.


Jessy yang mengenakan mantel datang menghampiri Andre.


"Jessy, kenapa ikut turun? Mana Feli?"


Andre berdiri di depan area perumahan.


Jessy berjalan sambil membawa tas.


"Hari ini Feli tinggal di rumah orang tuaku. Besok pagi mereka yang mengantarnya ke sekolah."


"Aku turun karena ada yang ingin aku tanyakan ke kamu


Jessy berjalan ke arah pintu gerbang Perumahan Larumnas, Andre juga mengikutinya. Muncul kebahagiaan yang tidak dapat disembunyikan dari tatapan mata Andre. Jessy ternyata memilih untuk keluar dari area perumahan bersama-sama dengannya. Artinya, Jessy sudah tidak terlalu anti kepada dirinya.


"Apa kamu pernah bertemu dengan Steven?"


Tanya Jessy kepada Andre yang berada di sebelahnya.


Andre tidak ingin membohongi Jessy jika dia memang pernah bertemu dengan Steven.


Jessy spontan bergumam, "Pantas saja ...."


"Dia kelihatan ketakutan setelah ketemu kamu. Ibuku dan ayahku tidak tahu. Aku masih sangat memahami dirimu.


Kalau Steven nggak pernah ketemu kamu, mana mungkin dia diam seperti itu."


"Padahal dia bukan seorang pendiam."


Jessy bicara sampai di sini, sementara Andre hanya tersenyum. Sepertinya Andre yang terlalu banyak berpikir, Jessy sangat tidak menyukai Steven.


"Tapi, bagaimanapun juga, hari ini, terima kasih ya...."


"Mungkin jodoh di antara kita sudah selesai, tapi aku, Jessy, bukan wanita sembarangan. Sekarang Feli masih terlalu kecil, aku nggak mau dia kehilangan seorang ayah. Tapi, aku juga nggak mungkin cari sembarang pria untuk menikah."


"Tunggu setelah beberapa tahun, Feli sudah bisa berpikir mandiri, lalu aku akan memberi tahu tentang pilihanku ke Feli. Tentang saat itu, Feli memilih ikut siapa, terserah pilihannya."


Jessy menundukkan kepala, dia bicara, tetapi tidak berani melihat ke arah Andre lagi.


Andre merasa sangat sedih.

__ADS_1


Ternyata perubahan sikap Jessy kepadanya karena Feli.


Keberadaan putri mereka sebagai penengah adalah hal yang baik.


Namun, jika Andre masih sama seperti dahulu yang berengsek, setiap hari hanya mabuk dan bermain saham. Rasanya Jessy juga tidak akan memberikan kesempatan kepada Andre untuk merawat Feli.


Setidaknya sikap Jessy kepadanya jauh lebih baik daripada beberapa bulan yang lalu.


"Baik, semua menurut apa katamu saja ...."


Andre mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya, lalu mengisap rokok.


Jessy tertegun ketika mendengarkan ucapan Andre.


Menurut, apa kata dirinya?


Selama 6 tahun menikah dengan Andre, pria yang keras kepala dan merasa diri paling benar, sama sekali tidak pernah bicara seperti itu kepada Jessy.


Jika tidak salah ingat, Jessy baru meninggalkan Andre selama beberapa bulan. Namun, Andre benar-benar telah berubah. Perubahannya terlalu besar dan terlalu banyak.


Seolah pria yang dahulu dingin, egois, keras kepala, dan hanya peduli diri sendiri. Pria yang merokok, minum minuman keras, dan gemar bermain saham, setiap hari menghilang tanpa jejak.


Kini digantikan dengan seseorang yang demi menyenangkan hati Jessy sampai membuka bisnis sate taichan, lalu bersedia kehilangan keuntungan 40 juta per bulan hanya demi menjemput putrinya pulang sekolah. Andre kini menjadi pria yang perhatian dan bertanggung jawab.


Jessy memperhatikan seluruh perubahan dalam diri Andre.


Namun, luka yang telah Andre berikan selama 6 tahun ini terlalu mendalam dan tidak bisa diobati hanya dalam sehari dua hari saja.


Jessy pastinya tidak bisa kembali bersama dengan Andre hanya dalam waktu singkat.


Bagaimanapun juga, setidaknya saat Jessy bersama dengan Andre sudah tidak ada rasa sakit dan penderitaan seperti sebelumnya!


"Sudah sampai...."


Andre melihat lampu Apartemen Citranur yang tidak sudah tidak jauh.


Rasanya seperti 6 tahun yang lalu saat Andre pulang bekerja dan akan pulang.


Pada siang hari, beberapa awan mendung melayang di langit hingga menyebabkan udara panas bertambah sedikit rasa segar.


Andre membawa sekantong bahan makanan sambil membersihkan kios kecilnya yang berada di depan pintu gerbang Perusahaan Desain Selaras.


Dua hari tidak berjualan sate taichan menyebabkan debu menumpuk di kios kecilnya. Untung saja ditaruh di sini, jadi tidak hilang karena ada Pak Doni, penjual panekuk yang membantu menjaganya.


Namun, tamu yang datang tampak jauh berkurang karena Andre tidak datang selama beberapa hari ini.


Setelah membersihkan tempat pembakaran, lalu aroma harum mulai keluar setelah meletakkan dua tusuk sate taichan.


Seluruh perusahaan di sekitar Jalan Dorha mulai heboh karena informasi kios sate taichan Andre yang sudah kembali buka, lalu antrean yang luar biasa panjang dimulai lagi.

__ADS_1


"Bos, 3 tusuk sate taichan!"


__ADS_2