
Andre tertawa dingin. Tatapan Andre menggelap. Andre awalnya tidak ingin mengacuhkan pasangan suami istri ini. Akan tetapi, ada banyak orang tua murid dan anak-anak di sini sekarang. Jika Andre membiarkan keluarga Aldo mempermalukan Feli, Feli benar-benar akan dikucilkan di taman kanak-kanak kelak.
Begitu seorang anak kecil dikucilkan, tidak ada yang bisa membayangkan seberapa banyak trauma yang akan diderita anak itu!
Jadi, Andre tidak akan membiarkan keluarga Aldo bertindak seenaknya!
"Nggak usah buru-buru. Dalam waktu sepuluh menit, aku akan menunjukkan sertifikat tanah pada kalian ...."
Andre menyalakan sebatang rokok, lalu mengisap rokok.
Bu Ira yang sedang berdiri di samping memutar bola mata. "Ada-ada saja. Mereka punya enam rumah, apa gunanya kamu menunjukkan sertifikat tanah rumahmu?"
"Bisa-bisanya ada orang yang begitu nggak tahu malu...."
Bu Ira juga ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Andre merokok dan diam saja. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, sebuah mobil Audi perlahan berhenti di belakang Andre. Irwan keluar dari mobil.
Berhubung terlalu tergesa-gesa, Irwan mengemudi dengan kecepatan tinggi setelah keluar dari hotel. Irwan bahkan melanggar dua lampu merah.
"Pak Andre."
Irwan membungkukkan badan untuk memberi salam pada Andre.
Dulu, Irwan bersikap sopan pada Andre karena disuruh oleh Martin. Kini, Irwan benar-benar sangat menghormati Andre. Jadi, Irwan berinisiatif untuk membungkukkan badan saat melihat Andre.
Bagi Irwan, Andre bukanlah orang biasa, melainkan orang hebat yang bisa melakukan apa pun.
"Saya telah membawa sertifikat tanah sesuai dengan permintaan Anda ...."
Irwan mengeluarkan dua kantong dari bagasi mobil.
Andre melepaskan Feli yang sedang dia gendong, menginjak rokok untuk memadamkan api rokok, lalu tertawa dingin. Andre menatap orang tua Aldo dan Bu Ira.
"Pak Irwan, tolong keluarkan seluruh sertifikat tanah. Tunjukkan pada dua orang kelas atas ini jumlah rumah yang aku miliki!"
Andre berkata demikian.
Irwan membuka kantong, lalu membalikkan kantong tersebut. Seratus lima puluh lembar sertifikat tanah jatuh ke lantai satu per satu.
Ibu Aldo menelan ludah.
Ibu Aldo menatap sertifikat tanah yang ada di lantai. Ada stempel Badan Pertanahan Nasional di sertifikat-sertifikat itu. Ibu Aldo tahu betul bahwa ini adalah sertifikat tanah asli....
Keluarga Aldo memang kaya. Namun, mereka membeli rumah dengan uang yang diberikan oleh orang tua dan pinjaman.
Meskipun keluarga Aldo terlihat makmur, jumlah utang mereka sesungguhnya hampir mencapai miliaran.
"I... ini...."
Bu Ira awalnya membela Aldo karena mengira keluarga Aldo lebih kaya. Kini, Bu Ira melongo.
__ADS_1
Berapa harga seratus lima puluh rumah?
Jika harga setiap rumah empat ratus juta, berarti seratus lima puluh rumah berharga senilai enam puluh miliar!
Feli terlihat biasa-biasa saja, sementara ayah Feli
mengenakan baju yang dipenuhi dengan noda minyak. Tidak ada yang menyangka bahwa keluarga Feli sekaya ini.
Bu Ira menjadi bersemangat. Bu Ira merasa dirinya lumayan cantik. Jadi, Bu Ira berpikir, 'Apa hubungan orang tua Feli harmonis? Apa aku punya kesempatan untuk berpacaran dengan orang sekaya ini?'
Ayah Aldo yang sedang berdiri di samping tertegun. Dia bukan tertegun karena Andre, melainkan karena melihat Irwan berdiri di belakang Andre dan sangat menghormati Andre.
Ayah Aldo pernah pergi ke Hotel Riverside bersama bosnya beberapa kali. Biasanya ayah Aldo juga sering membawa istri dan anaknya pergi makan di Hotel Riverside. Namun, mereka tidak pernah bertemu dengan manajer Hotel Riverside satu kali pun.
Manajer Hotel Riverside, Irwan, hanya pernah datang bersulang saat ayah Aldo pergi ke Hotel Riverside bersama bos.
Bos ayah Aldo sangat bangga setiap kali bisa bertemu dengan Irwan.
Dulu, Irwan adalah asisten direktur Grup Suhandi. Kini, Irwan adalah manajer Hotel Riverside. Ayah Aldo tidak pernah melihat Irwan begitu menghormati orang lain!
"Palsu! Ini pasti sertifikat palsu, semua ini adalah sertifikat palsu!"
"Aku mau menelepon polisi untuk menangkap kalian!"
Ibu Aldo sadar bahwa dirinya sedang berada di posisi yang tidak menguntungkan. Jadi, dia mulai mengacau.
Ayah Aldo menahan ibu Aldo. Lalu, ayah Aldo mengayunkan tangan dan menampar istrinya.
Rambut ibu Aldo terurai. Muncul bekas tamparan yang jelas di wajahnya.
"Ka... kamu menamparku?"
Ibu Aldo tertegun.
Ayah Aldo tampak marah. "Dasar pengacau, cepat kembali ke dalam mobil!"
Ayah Aldo mendorong ibu Aldo untuk masuk ke dalam mobil. Lalu, dia menggendong Aldo ke dalam mobil juga. Setelah dia menutup pintu mobil, dia kembali ke hadapan Andre sambil tersenyum.
"Pak Andre, istri saya punya gangguan mental, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ...."
"Tenang saja, saya akan menegurnya setelah kami pulang."
"Ini adalah Pak Irwan, 'kan?"
"Halo, kita pernah bertemu satu kali sebelumnya ...."
Ayah Aldo mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Irwan. Irwan melirik ayah Aldo sekilas. Irwan merasa orang ini tidak asing, tapi Irwan tetap memasang ekspresi dingin dan tidak mengulurkan tangan.
"Aku nggak kenal denganmu. Aku hari ini datang karena Pak Andre. Kita pernah bertemu atau tidak bukanlah hal yang penting."
Ayah Aldo tertegun dan hanya bisa terus tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, Pak Andre, besok saya pasti akan menyuruh Aldo meminta maaf pada Feli. Mereka masih kecil, ada perbedaan pendapat adalah hal yang lazim ...."
Andre tersenyum.
"Baik. Feli, kamu harus memberitahuku apa Aldo meminta maaf padamu atau nggak besok. Kalau Aldo nggak minta maaf, aku akan menyuruh ayah Aldo datang meminta maaf padamu."
Feli mengangguk dengan bersemangat setelah mendengar ucapan Andre.
"Ayo, Ayah akan mengantarmu pulang...."
Irwan memandang Andre, lalu buru-buru mengikuti Andre. "Pak Andre, bagaimana kalau saya mengantar Anda pulang? Sertifikat tanah diletakkan di sini saja, akan ada orang yang datang merapikan sertifikat tanah nanti."
Andre melambaikan tangan dan berkata, "Jangan menggangguku. Aku akhirnya punya kesempatan untuk mengantar anakku pulang setelah bersusah payah, kamu nggak usah mengantarku."
"Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan. Urusan kerja akan kita bahas besok...."
"Suruh Martin jangan terlalu emosi. Dia nggak akan bangkrut hanya karena kehilangan Hotel Riverside."
Andre menggendong Feli, lalu berjalan ke arah rumah mereka.
Irwan merasa tidak berdaya. Ayah Aldo yang sedang berdiri di samping awalnya ingin mengobrol dengan Irwan. Namun, ayah Aldo merasa takut setelah melihat tatapan Irwan. Irwan masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan TK Biru.
Di Apartemen Citranur.
Feli duduk di pundak Andre. Dua orang ini telah tiba di bawah apartemen.
Jessy yang baru pulang kerja kebetulan bertemu dengan Andre dan Feli. Jessy tiba-tiba termenung saat melihat Feli duduk di pundak Andre.
Jessy merasa dirinya seolah-olah kembali ke enam tahun
yang lalu.
Feli lahir tidak lama setelah Andre dan Jessy menikah.
Itu adalah momen yang paling bahagia bagi Jessy. Sayangnya, apa yang terjadi selanjutnya menjadi kenangan yang membuat Jessy merasa paling sengsara.
"Jessy ...."
Andre melepaskan Feli. Jessy mendongakkan kepala, kemudian melirik Andre sekilas. Jessy diam saja. Jessy menggandeng Feli, lalu naik ke lantai atas.
Andre paham bahwa Jessy belum bisa memaafkannya.
Selama enam tahun ini, Andre memperlakukan Jessy dengan sangat buruk. Hanya butuh sekejap untuk menyakiti seseorang, tapi mungkin butuh selamanya untuk menyembuhkan hati yang terluka.
"Ibu, Ayah sangat hebat hari ini, dia seolah-olah bisa sulap! Dia mengeluarkan banyak sertifikat tanah!"
"Dia bilang keluarga kita sangat kaya. Dia menyuruhku jangan bermain dengan anak-anak di sekolah kelak. Mereka terlalu miskin."
Feli naik ke lantai atas sambil menceritakan apa yang terjadi di TK Biru hari ini pada Jessy.
Jessy mengerutkan kening. "Feli, nggak usah merasa malu karena kita miskin. Kamu nggak boleh berbohong, juga nggak boleh membual. Kalau anak-anak lain meremehkan kita, kita diam saja. Kita memang miskin sekarang, tapi ini nggak menandakan kita akan miskin selamanya."
__ADS_1
"Ayahmu mana punya uang? Jangan sampai tertipu olehnya...."