
"Siapa kamu sampai berani mengajariku seperti itu?"
"Aku adalah kepala departemen investasi di Perusahaan Listrik Provinsi Damur dan profesor lulusan luar negeri. Bisa apa kamu!"
"Masih bilang, investor dari Kota Surawa. Apa kamu pernah berinvestasi? Kamu lulusan universitas mana? Entah orang bodoh yang muncul dari mana, malah berani mengajariku?"
"Pak Amir, sekarang aku, Timmy sudah di sini. Kamu percaya dia atau aku?"
"Aku berada di perusahaan selama bertahun-tahun. Walaupun aku tidak berjasa, setidaknya aku telah bekerja keras untuk perusahaan. Kamu entah dari mana mencari orang untuk mengajariku."
"Pak Amir, aku, Timmy Lukmanto, mau berhenti kerja!"
Timmy menggebrak meja, lalu Amir segera menenangkannya.
"Pak Timmy, jangan emosi dulu. Pak Andre hanya bermaksud baik. Aku juga tidak bermaksud buruk. Aku tidak paham soal investasi, jadi aku harus menanyakan hal ini kepadamu."
"Tenang dulu, jangan emosi ...."
Amir melihat Timmy yang membantah dengan penuh emosi, sepertinya telah punya pertimbangan sendiri di dalam hati.
Seharusnya dia telah salah paham dan menyinggung Timmy, sepertinya orang luar yang terlalu menyanjung Andre, tetapi masih kalah hebat jika dibandingkan dengan kepala departemen investasi yang bekerja untuk Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
Bagaimanapun juga, mereka tidak berada di satu profesi yang sama. Jadi, sama sekali tidak bisa dibandingkan.
Amir muncul untuk mendamaikan, sementara Andre benar-benar kehabisan kata-kata saat menghadapi Timmy.
Apa ini mahasiswa unggulan yang baru kembali dari luar negeri?
Benar-benar keras kepala!
"Pak Amir karena kamu memilih percaya kepada Pak Timmy, jangan salahkan aku mengatakan hal buruk terlebih dahulu. Grup Wenbrokes mungkin akan menjadi alasan terakhir yang menghancurkan Perusahaan Listrik Provinsi Damur."
"Investasi sebesar 40 miliar itu, kelihatannya tidak banyak dan balik modal hingga beberapa miliar."
"Tapi, pengaruhnya akan sangat besar. Begitu terjadi masalah dengan Grup Wenbrokes pasti akan memengaruhi Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Bahkan, kemungkinan besar akibatnya akan lebih parah dari perkiraanmu."
Andre bangun perlahan, dia sudah mengatakan semua yang diketahuinya. Namun, Amir masih tidak percaya, jadi Andre tidak perlu menjelaskan lebih banyak hal lagi.
Dia hanya berusaha menghindari terjadinya masalah, tetapi jika masalah tetap terjadi, Andre juga tidak bisa menghentikannya lagi.
Tepat ketika Andre hendak keluar, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Amir segera mempersilakannya masuk, lalu Ricky masuk dengan bimbang.
Amir melirik singkat, lalu bertanya dengan bingung.
"Kamu siapa?"
__ADS_1
Ricky melirik ke arah Amir sambil membungkuk perlahan. "Pak Amir, apa kabar. Saya adalah pekerja dari Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Nama saya Ricky."
"Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya datang kemari untuk menangkap si pecundang ini dan mengusirnya!"
"Maaf ya. Si bocah ini hanya bicara sembarangan dan telah menyinggung Anda."
Ricky memelototi Andre.
"Dasar berengsek. Kamu masih belum pergi dari sini!"
Amir tertegun singkat, lalu segera berdiri dari tempat duduknya. Dia bolak-balik melihat Andre, lalu melihat ke arah Ricky. Sebagai pekerja tua selama puluhan tahun di perusahaan, Amir masih merasa wajah Ricky tidak asing.
"Andre, siapa ini?"
Andre merasa tidak berdaya. "Pak Amir, ini adalah ayah mertuaku. Dia juga pekerja lama di Perusahaan Listrik Provinsi Damur."
Timmy yang berada di belakangnya tertawa mencibir.
"Aku pikir keturunan keluarga kaya dari mana. Tidak disangka, malah mencari buruh di Perusahaan Listrik Provinsi Damur sebagai ayah mertua. Entah kenapa kamu begitu tidak tahu malu dan sembarangan bicara di sini."
"Pak Amir adalah orang yang sangat bijaksana. Kenapa bisa ditipu oleh pembohong sepertimu?"
"Orang sepertimu masih bilang ke orang lain kalau kamu seorang investor."
"Tahu apa kamu?"
Dia seorang profesor yang menempuh pendidikan di luar negeri, barusan malah berdebat dengan orang semacam ini.
Benar-benar memalukan!
Timmy tersenyum mencibir.
Andre berjalan ke depannya dan tersenyum mencibir juga. Andre menatapnya dengan ekspresi menghina.
"Pak Timmy, kamu pikir keluar negeri sudah cukup untuk menjadi unggulan dalam profesi keuangan?"
"Gelar profesor ekonomi yang kamu miliki, kamu sendiri yang paling tahu bagaimana cara mendapatkannya."
"Apa aku harus bicara terang-terangan?"
Selama beberapa tahun ini, ada banyak mahasiswa dari Intrana yang menghabiskan uang banyak untuk berkuliah di universitas tidak ternama di luar negeri demi mendapatkan gelar. Kemudian, mereka akan mendapatkan pekerjaan yang baik setelah kembali ke dalam negeri.
Kemudian, mereka sendiri yang membanggakan diri sebagai lulusan dari luar negeri.
Kondisi Timmy memang tidak seburuk itu, tetapi dia juga tidak berbeda jauh.
Seandainya Timmy memang orang bertalenta dalam bidang ekonomi, apa mungkin dia akan terpuruk di Kota Surawa yang begini kecil, lalu menjadi kepala departemen investasi di Perusahaan Listrik Provinsi Damur?
__ADS_1
Dia seharusnya sudah semenjak lama menghasilkan uang banyak.
Andre tersenyum dingin, sementara seluruh tubuh Timmy sangat dingin.
Entah mengapa, rasanya Andre barusan melihat diri Timmy secara terang-terangan.
Timmy hanya membuka mulut tanpa berani bicara lagi. Seandainya Andre memberi tahu Amir tentang latar belakangnya, Timmy takut akan kehilangan pekerjaan ini dan tidak bisa bergelut dalam bidang ini lagi.
Ricky segera maju dan menepuk kepala Andre!
"Andre, untuk apa kamu bicara sembarangan?"
"Berani-beraninya berdebat tentang investasi dengan Pak
Timmy!"
"Pak Timmy lulusan universitas luar negeri dan seorang profesor di bidang apa itu namanya. Kenapa kamu nggak ngaca dan lihat dirimu sendiri orang macam apa!"
"Pergi, cepat pergi dari sini!"
Ricky menarik Andre keluar dari ruangan.
Sementara Andre hanya tertawa pahit kepada Amir.
"Pak Amir, Anda harus benar-benar mempertimbangkan masalah Grup Wenbrokes...."
Andre yang ditarik oleh Ricky juga tidak banyak bicara lagi, lalu segera ditarik keluar dari ruangan. Sementara di depan pintu, satpam yang bernama Yono menatap Andre dengan ekspresi penuh kemarahan juga.
Padahal dia hanya lengah untuk sesaat, tetapi malah membuat Andre berhasil naik ke mobil Pak Amir!
Untung Andre masih memiliki akal sehat dan tidak melakukan hal yang keterlaluan. Jika tidak, takutnya Yono telah kehilangan pekerjaannya sebagai satpam!
Jangankan dia, bahkan ayah mertua Andre, si Ricky, juga akan terkena masalah!
Sementara itu, di dalam ruang kerja....
Amir duduk di kursinya sambil melihat ke arah Timmy.
"Pak Timmy, apa kamu yakin tidak ada masalah tentang Grup Wenbrokes?"
Timmy mengangkat tangan dengan wajah serius.
"Pak Amir, aku berani bersumpah kalau tidak ada masalah dengan investasi di Grup Wenbrokes. Andre hanya bicara sembarangan dan membual!"
"Berani-beraninya dia mengajariku cara berinvestasi dengan kemampuannya yang kecil itu?"
"Bukankah itu omong kosong!"
__ADS_1
Sekarang Timmy merasa sangat kesal begitu teringat akan Andre.