
Namun, hanya Jessy yang di samping mereka tampak bimbang. Dia menyadari bahwa kini dia makin tidak memahami Andre. Berawal dari Pak Hendi di Desain Selaras, hingga anak Tuan William yang bernama Bastian selalu berada di samping Andre. Kemudian, sekarang Martin, orang terkaya di Kota Surawa.
Mengapa dahulu Jessy tidak tahu bahwa Andre mengenal begitu banyak orang terkenal?
Selama enam tahun ini, Andre memberi kesan bahwa dia adalah seorang pemabuk dan pemain saham. Setiap hari hanya bermalas-malasan, bangun tidur langsung pergi, tetapi tidak pernah membawa pulang uang. Jessy dan putrinya bukan melalui hidup hemat, tetapi benar-benar miskin sampai kekurangan makanan.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Apa kamu pikir Andre benar-benar menjadi kaya?"
"Jessy, dengar aku. Apa kamu sudah lupa diri?"
Linda melihat ke arah Jessy yang tampak bimbang di belakangnya.
Jessy menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Aku hanya merasa, belakangan ini bertemu dengan Andre. Dia, tampak berbeda dengan sebelumnya...."
"Apanya yang beda, aku juga sulit menjelaskannya. Aku hanya merasa, dia sudah berubah...."
Linda langsung menggebrak meja.
"Jessy, aku beri tahu ya. Jangan bilang Andre bukan siapa pun. Sekalipun dia menghasilkan uang dua miliar, aku juga nggak akan mengizinkan kamu dan Feli pulang!"
"Sekarang kamu sudah mau bercerai dengannya. Apa kamu masih mau mengajak Feli pulang dan hidup susah dengannya lagi?"
Jessy menundukkan kepala, tanpa kata. Dia hanya berkata Andre telah berubah. Namun, tindakan Andre selama enam tahu memang telah membuat Jessy sangat kecewa.
Rasa kecewa semacam ini tidak akan hilang hanya karena sedikit perubahan Andre. Rasa sakit yang telah menusuk hatinya akan sulit dipahami orang yang tidak mengalaminya secara langsung.
"Iya, aku sudah tahu Bu...."
Jessy tidak bicara lagi.
Sementara Jenna yang berada di samping mendekatinya. "Kak, dengan penampilanmu, pria mana yang nggak bisa kamu dapatkan?"
"Wajahmu cantik, memang kamu sudah punya anak. Tapi, pasti bukan masalah untuk menikah dengan orang yang kaya dan berkuasa. Dulu kamu sudah buta satu kali, apa kamu mau buta untuk yang kedua kalinya?"
"Beberapa teman kerjaku ada yang kaya dan tampan. Bagaimana kalau kau mengenalkannya kepadamu?"
Jenna mengedipkan mata ke arah Jessy.
__ADS_1
Jenna belum selesai bicara, tetapi sudah dijewer oleh Linda.
"Apa kamu masih punya waktu memperhatikan kakakmu?"
"Kamu sendiri juga sudah nggak muda lagi. Pacar saja nggak punya. Akhir tahun, tahun ini kamu harus pulang dengan membawa pacar!"
Kepala Jenna terkulai lemah, dia tidak menyangka barusan masih bicara soal Jessy. Mengapa Linda begitu cepat membahas soal dirinya?
"Iya, aku tahu Bu. Aku akan berusaha...."
Linda memelototi Jenna galak. "Oh ya, soal Andre, kalau nanti kamu ketemu dia lagi. Usir dia jauh-jauh!"
"Kalau dia berani mengganggumu, kamu langsung hubungi polisi!"
Jenna menganggukkan kepala sambil menghela napas. Andre sekarang sudah mengenal Martin, orang paling kaya di Kota Surawa. Sekalipun hanya pesuruh yang Jenna rendahkan, tetapi bisnis itu masih harus dijalankan. Jenna juga bukan manajer, bahkan dia juga bukan kepala tim. Jenna hanya seorang karyawan, atas dasar apa mau mengusir Andre?
Namun, Linda sudah terbiasa semena-mena di rumah. Mana mungkin memedulikan tentang hal ini?
"Iya aku tahu...'
Jawab Jenna. Linda menyilangkan tangan di depan dadanya dengan kesal.
Mengapa si Andre sepertinya hidup lebih baik setelah meninggalkan putrinya....
Rumah susun.
Andre berdiri dari ranjang, lalu merenggangkan tubuh.
Kamar ini baunya sangat apak, tidak nyaman sekali. Andre makin ingin pindah rumah setelah pulang tidur. Namun, rumah tempat tinggalnya dan Jessy sebelumnya sudah dijual sejak lama untuk membayar utang karena Andre kalah main saham.
Andre turun ke lantai bawah dan membeli koran di kios. Kemudian, Andre makan bakwan dan semangkuk bakso di warung kaki lima. Andre sarapan sambil membaca koran.
Saat ini, seluruh jalan penuh dengan kios koran. Dapat ditemukan kios koran di tiap sudut pasar pagi dan supermarket.
Tunggu lima tahun lagi, saat smartphone merajalela. Semua orang akan memasuki zaman informasi. Kios koran, warung koran, semuanya akan bangkrut.
Andre membeli dua buah koran. Satu Koran Surawa yang merupakan koran lokal Kota Surawa. Sementara yang satu lagi adalah Berita Damur, koran milik Provinsi Damur. Pada kehidupan sebelumnya, sekalipun Andre ketagihan bermain saham, tetapi setiap hari dia pasti menyempatkan waktu membaca koran saat sedang sarapan.
Namun, waktu telah berlalu lama. 15 tahun, ada beberapa
__ADS_1
hal yang hanya samar-samar diingat oleh Andre. Jadi, dia baru dapat mengenang situasinya secara detail saat melihat koran.
Hari ini tidak ada berita penting dari Berita Damur. Malah berita utama dari Koran Surawa yang menarik perhatian Andre.
Andre langsung menghabiskan seluruh bakwannya, lalu melihat berita dengan saksama.
Bangunan dengan investasi 200 miliar di Kota Surawa milik Grup Internasional Jundra, sepertinya berakhir mangkrak?
Andre menggigit rotinya sambil mengelap tangan. Grup Internasional Jundra adalah perusahaan properti yang terkenal di kawasan selatan. Pada masa perusahaan properti berkembang tanpa kontrol, apalagi di zaman pemerintah juga melakukan konstruksi besar-besaran. Tetap ada banyak gedung yang mangkrak.
Perusahaan besar seperti Grup Internasional Jundra, menginvestasikan uang 200 miliar untuk pembangunan gedung di Kota Surawa. Akan tetapi, gedung itu tidak dapat diselesaikan pembangunannya. Wajar jika hal ini menjadi berita besar.
Masalah ini kelak akan dibuktikan hanya rumor belaka.
Faktanya, terjadi masalah internal pada Grup Internasional Jundra. Setelah Presdir seniornya pensiun, Presdir yang baru memiliki perbedaan pendapat dengan para senior di perusahaan. Kemudian, menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan.
Jadi, tidak sempat mengawasi masalah investasi gedung di Kota Surawa. Hal ini mengakibatkan pekerja terlambat digaji dan penanggung jawab proyek dipanggil kembali ke perusahaan pusat.
Namun, para pekerja dan orang lainnya sama sekali tidak paham kondisi Grup Internasional Jundra.
Hal itu menyebabkan sekelompok orang gelisah, bahkan mulai menjual bahan bangunan di lokasi proyek. Hal ini juga beberapa tahun yang akan datang diketahui oleh Andre.
Sekarang koran baru mengangkat berita ini, artinya belum banyak orang tahu mengenai kejadian yang sebenarnya.
Andre selesai sarapan, seharusnya dia masih sempat
untuk datang ke sana....
Kebetulan, Andre tahu beberapa lokasi proyek yang baru mau mulai kerja. Kini sedang kekurangan pasir dan semen. Pekerjaan ini sangat gampang.
Namun, Andre tidak punya mobil. Jadi, dia harus meminta bantuan terlebih dahulu.
Andre mengeluarkan kartu nama dari dalam sakunya.
Sebelumnya saat Andre menjual air mineral, Pak Jason dari Antar Cepat yang memberikannya. Andre dulu masih mengingatkan Jason untuk membeli properti di Jalan Kumar. Namun, takutnya Jason hanya menganggap Andre seperti orang bodoh.
jangan lupa untuk di like and gift ya guys
vote juga serta 🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1