
Andre tidak ingin Jessy dan Feli tinggal di rumah Ricky. Jessy dan Feli diperlakukan dengan tidak baik dan disindir di sana. Kadang-kadang, Jessy bahkan dimarahi.
Andre keluar dari mobil, lalu pamit pada Jason.
Hari sudah sore. Langit mulai redup. Andre masuk ke dalam apartemen, lalu mendongakkan kepala dan melihat ke sekeliling. Apartemen Citranur adalah salah satu dari beberapa apartemen bertingkat tinggi pertama di Kota Surawa.
Saat baru dibangun, Apartemen Citranur adalah salah satu apartemen dengan desain interior dan fasilitas terbaik di Kota Surawa.
Hanya saja, setelah beberapa tahun berlalu, apartemen ini mulai terlihat agak kuno. Namun, jika dibandingkan dengan rumah di Jalan Kumar, Apartemen Citranur jauh lebih bagus.
Andre masuk ke dalam bangunan di mana rumahnya berada, mengeluarkan ponsel, lalu menelepon seseorang.
Saat Andre menjual rumah, Andre sengaja meminta nomor telepon orang yang membeli rumahnya. Pagi ini, Andre menelepon orang yang membeli rumahnya sebelumnya. Andre mengatakan dia ingin datang melihat rumah ini.
Saat Andre menjual rumah di Apartemen Citranur, dia memberikan diskon dan meminta pembeli melakukan pembayaran tunai. Jadi, rumah Andre hanya dijual dengan harga lima ratus juta.
Berarti harga setiap meter persegi tidak sampai lima juta.
Orang yang membeli rumah Andre tidak tinggal di rumah ini. Dia bahkan memasang spanduk jual rumah di depan rumah ini. Namun, harga yang dia buka lebih mahal, yakni delapan juta per meter persegi. Selain itu, pembeli harus melakukan pembayaran tunai. Orang yang punya uang tunai sebanyak ini hanya sedikit, jadi belum ada yang membeli rumah ini sampai sekarang.
Andre mendapatkan enam ratus juta hari ini. Selain itu, Andre sudah punya tiga ratus juta. Jumlah uang yang Andre miliki pas-pasan untuk membeli rumah ini.
Hanya saja, Andre sepertinya akan menjadi makin miskin setelah ini....
Untunglah Andre akan mendapatkan keuntungan dari rumah di Jalan Kumar. Setelah menghitung waktu, Andre menarik kesimpulan bahwa dirinya akan mendapatkan kabar akhir-akhir ini.
Rumah di Jalan Kumar akan mulai dibongkar sebentar lagi. Dalam waktu paling lambat dua bulan, Andre akan punya banyak uang dan sebuah hotel bintang lima, yaitu Hotel Riverside.
Setelah Andre menelepon orang yang membeli rumahnya sebelumnya, Andre naik ke lantai di mana rumahnya berada dan mengetuk pintu.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu dan memandang Andre dengan tatapan curiga.
"Kamu orang yang meneleponku barusan?"
Wanita itu melirik Andre sekilas.
Andre mengangguk dan berkata, "Iya, kamu seharusnya masih ingat denganku, 'kan? Rumah ini punyaku dulu."
__ADS_1
Andre tersenyum, sementara wanita itu tertawa dingin.
"Aku sudah ingat, kamu adalah orang yang punya banyak utang itu, 'kan? Rumahmu menjadi milik orang lain, istrimu dan anakmu juga meninggalkanmu, kamu benar-benar kasihan...."
"Kamu nggak kelihatan seperti orang yang punya delapan ratus juta, untuk apa kamu datang ke sini?"
"Sudah ada orang yang mau membeli rumah ini, untuk apa orang sepertimu datang melihat rumah? Kamu hanyal sedang menghabiskan waktuku!"
Wanita itu memutar bola matanya ke atas. Andre diam-diam tertawa dingin, tapi tidak mengatakan apa pun.
"Kita baru mengobrol nggak lama, dari mana kamu tahu aku nggak punya delapan ratus juta?"
"Kalau aku punya delapan ratus juta, apa kamu akan langsung menjual rumah ini padaku?"
Andre menatap wanita itu.
Wanita itu terdiam dan melipat kedua tangannya. "Kamu pikir aku nggak tahu kamu siapa? Dulu kamu menjual rumah ini padaku karena kamu gagal investasi, jadi kamu nggak punya uang untuk bayar utang!"
"Orang sepertimu nggak akan punya uang selamanya!"
"Dompetmu pasti kosong, dari mana kamu bisa punya delapan ratus juta untuk beli rumah?"
"Aku benar-benar punya delapan ratus juta dan sanggup membeli rumah ini, tolong kasih aku masuk, aku ingin melihat kondisi di dalam rumah ...."
Andre mengeluarkan dua ikat uang dari sakunya. Empat puluh juta. Andre tidak bisa membawa uang lebih. Dua ikat uang ini sudah sangat berat.
Wanita itu melirik Andre sekilas, lalu menyamping.
Andre masuk ke dalam rumah. Desain interior dan perabot di dalam rumah terlihat tidak asing. Bahkan televisi yang Andre beli dan pasang pun masih ada.
Ada sebuah rak buku di beranda. Selain itu, ada rak sepatu dan sofa juga. Barang di kamar tidur dan balkon masih lengkap. Ada dua kamar dan satu ruang keluarga di dalam rumah ini. Sirkulasi udara di dalam rumah juga bagus.
Andre dan Jessy membeli rumah ini saat mereka baru tamat kuliah. Mereka sangat gembira saat itu. Siapa sangka rumah ini akan dijual untuk membayar utang setelah tidak sampai tiga tahun....
"Sudah puas melihat?"
Wanita paruh baya itu agak tidak sabar. "Kamu dan istrimu benar-benar lucu, kalian datang melihat rumah ini secara terpisah. Istrimu bertanya apa dia boleh bayar secara mencicil, lalu aku langsung menolaknya!"
__ADS_1
"Istrimu lebih miskin darimu. Dia bahkan nggak punya empat puluh juta. Berani-beraninya dia datang melihat rumah. Selain itu, dia menyuruhku jangan menjual rumah ini!"
"Ada-ada saja, mana mungkin!"
"Aku menghabiskan lima ratus juta untuk membeli rumah ini dulu. Aku setidaknya harus menjual rumah ini dengan harga delapan ratus juta sekarang...."
Andre ingin tertawa saat melihat sikap angkuh wanita paruh baya di hadapannya.
Wanita itu entah beruntung atau benar-benar yakin bahwa harga rumah akan meningkat seiring waktu.
Kondisi pasar real estat sangat buruk akhir-akhir ini. Harga rumah tidak bisa naik dalam beberapa tahun terakhir. Wanita itu membeli rumah ini dengan harga lima ratus juta. Dia sudah harus bersyukur kalau rumah ini bisa terjual dengan harga enam ratus juta.
Jika wanita itu ingin menjual rumah ini dengan harga delapan ratus juta, wajar saja rumah ini tidak terjual sampai sekarang.
Namun, bagi Andre, rumah ini bukan rumah biasa. Rumah ini berisi rasa rindunya terhadap istri dan anaknya selama lima belas tahun. Andre, Jessy dan Feli pernah hidup bersama di dalam rumah ini.
Bagi Andre, ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Andre tidak merasa dirugikan meskipun harus bayar delapan ratus juta.
"Aku mau beli rumah ini. Aku akan memberimu delapan ratus dua puluh juta, tolong bantu aku."
Andre menatap wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu tertegun. Sebenarnya dia tahu bahwa delapan ratus juta sangat mahal. Jika ada pembeli yang benar-benar menginginkan rumah ini, dia bersedia menurunkan harga.
Namun, wanita itu tidak menyangka Andre tidak menawar harga!
Andre bahkan berinisiatif untuk menaikkan harga!
"Kamu benar-benar punya delapan ratus dua puluh juta?"
Wanita paruh baya itu memandang Andre dengan tatapan tidak percaya. Saat Andre dan Jessy pindah dari sini dulu, mereka sangat miskin bagaikan gelandangan.
Kenapa Andre mendadak jadi sekaya ini setelah beberapa tahun tidak bertemu?
Jangan lupa untuk di like and gift ya guys
__ADS_1
vote juga serta 🌟🌟🌟🌟🌟