Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 42


__ADS_3

Jason sekarang memang belum bisa dikatakan patuh akan semua ucapan Andre, tetapi setiap ucapan Andre tetap dipertimbangkan dengan saksama oleh Jason.


Terutama Jason juga merenungkan, mengapa Andre melakukan hal tersebut?


Memang ada beberapa hal yang begitu didengarkan terasa tidak masuk akal, tetapi setelah direnungkan, seandainya tidak ada hal yang tidak masuk akal itu, mana mungkin bisa menghasilkan banyak uang?


Lantai ruang perawatan VIP.


Andre dan Jason keluar dari lift. Andre hendak menuju ke ruang perawatan Irwan, tetapi Jason yang berada di sampingnya malah menarik Andre.


Andre melirik Jason dengan tatapan bingung.


Kemudian, Andre melihat Martin yang datang bersama dua orang asisten. Mereka sedang berbincang dengan perawat di depan kamar pasien.


Martin berada di dalam kota, jadi lebih dekat daripada Andre. Tidak heran jika Martin tiba terlebih dahulu.


"Ada apa, Pak Jason?" Andre merasa bingung.


Jason tampak sangat bersemangat. "Andre, itu Martin. Orang paling kaya di seluruh Kota Surawa. Hotel Riverside adalah bisnis miliknya!"


"Aku sebelumnya beruntung dapat bertemu dengan dia di salah satu seminar bisnis."


"Entah kenapa Pak Martin kemari...."


Andre tersenyum pahit, dia terlalu meremehkan posisi Martin di depan para pebisnis di Kota Surawa.


"Andre, ayo jalan. Kita sapa dia dulu. Temanmu sudah


menerima pertolongan pertama, jadi dia pasti akan baik-baik saja. Kita ke sana malah akan mengganggu."


Jason menarik Andre untuk menghampiri Martin.


Sementara Martin mengernyitkan alis, ekspresinya tampak agak gelisah. Irwan sudah ikut bersama Martin sejak dia mulai merintis bisnisnya. Selama bertahun-tahun, Irwan selangkah demi selangkah bekerja dengan baik hingga menjadi manajer umum di Hotel Riverside.


Hubungan mereka berdua sangat dekat, sudah tidak bisa dinilai dengan hubungan antara atasan dan bawahan biasa.


Martin sama sekali tidak menyangka, Irwan yang suka memancing nyaris saja meninggal.


Martin menghirup napas panjang, tepat ketika Martin hendak masuk ke dalam kamar VIP malah ditahan oleh Jason.


"Pak Martin, Anda apa kabar? Saya Jason dari perusahaan Antar Cepat. Ini adalah kartu nama saya. Sebelumnya saya pernah bertemu Anda. Mungkin Anda sudah tidak ingat tentang saya."


Wajah Jason tampak penuh senyum, lalu menyerahkan kartu namanya.


Marti agak kesal, Irwan nyaris celaka. Dia datang kemari untuk menyelesaikan masalah Irwan. Namun, pada saat ini malah bertemu Jason yang menyodorkan kartu nama kepadanya. Bagaimana mungkin ekspresi Martin dapat terlihat baik?


"Nggak perlu. Aku sedang sibuk. Kalau ada perlu, kamu bisa cari aku di kantor. Maaf, permisi."

__ADS_1


Martin menyuruh orang untuk mengadang Jason dan berjalan menuju ke kamar pasien.


Ekspresi Jason tampak sedikit canggung, lalu dia berbalik badan dan melirik Andre.


"Andre, suasana hati Pak Martin tidak baik. Kita sapa dia lain kali saja."


Andre hanya tersenyum, tadi Andre kebetulan berada di belakang saat Jason menyapa Martin. Bahkan, Martin tidak mengangkat kepalanya sama sekali untuk melihat Jason, wajar bila tidak melihat Andre juga.


"Pak Jason, sesibuk apa pun Pak Martin, tetapi dia pasti akan menerima selembar kartu nama."


Andre mengambil kartu nama Jason, lalu berjalan ke arah Martin..


Jason sedikit panik, tampak jelas jika kini suasana hati Martin sangat buruk. Jason sudah menyodorkan kartu namanya satu kali, sekarang Andre menyodorkan kartu namanya sekali lagi. Bukankah itu sama saja dengan menyinggung perasaan Martin?


Andre bisa menghindar kapan saja. Namun, Jason tidak bisa. Masih banyak bawahannya di perusahaan Antar Cepat. Seandainya Martin marah, bukankah akan menjadi masalah bagi Jason sendiri?


"Andre, Andre!"


Jason masih telah menahan Andre, sementara Andre telah menahan Martin.


"Pak Martin, untuk apa terburu-buru begitu. Sampai tidak mendongak sedikitpun." Ujar Andre sambil tersenyum.


Jason merasa putus asa. Celaka! Kali ini, Pak Martin pasti akan mengingat dirinya dan perusahaannya, Antar Cepat. Terutama nada suara Andre, pasti telah menyinggung


Martin!


"Maaf, maaf Pak Martin. Dia adalah temanku yang tidak tahu sopan santun. Maafkan kami. Maaf."


"Silakan lanjutkan kesibukan Anda."


Jason menarik Andre, lalu hendak pergi dari sana. Mereka tidak boleh berlama-lama di tempat ini dalam situasi seperti sekarang. Kalau tidak, akibatnya pasti akan sangat buruk bila Martin mengamuk.


Martin menghentikan langkahnya, lalu melihat Andre yang ditarik oleh Jason dan berbicara.


"Tunggu dulu...."


Jason langsung merinding dan putus asa. Jantungnya berdebar kencang ketakutan.


Andre menepuk-nepuk Jason, lalu menyodorkan kartu namanya ke depan Martin.


"Pak Martin, lebih banyak relasi dapat memberi lebih banyak jalan. Pak Irwan akan baik-baik saja untuk sementara. Bukankah dia sudah pulang dengan selamat? Apa yang kamu cemaskan lagi?"


Jason melihat Andre yang menyodorkan kartu namanya kepada Martin.


Martin ragu untuk beberapa waktu, lalu menerima kartu nama dan memasukkannya ke dalam saku.


"Sebelum Irwan kecelakaan, apa kamu pernah berpesan agar dia jangan memancing selama beberapa waktu ini?"

__ADS_1


Martin melihat ke arah Andre.


Andre hanya tersenyum. "Bisa dibilang begitu. Dahi Pak Irwan belakangan ini tampak gelap. Takutnya akan mengalami kecelakaan. Jadi, aku menyarankan agar dia jangan memancing sendirian. Nggak disangka, ucapanku terjadi juga...."


"Tapi, untung saja. Pak Irwan nggak pergi sendirian dan masih bisa diselamatkan."


Martin menganggukkan kepala, wajahnya masih tetap kelihatan datar tanpa ekspresi.


"Seandainya Irwan kali ini dapat bertahan hidup, aku berutang satu jasa kepadamu...."


Andre hanya tersenyum.


"Pak Martin, tidak perlu. Saat kamu menyerahkan Hotel Riverside kepadaku, jangan lupa untuk memberikan Pak Irwan untukku juga."


Martin mengernyitkan alis dan terdiam untuk beberapa saat.


Apa kamu benar-benar merasa Jalan Kumar bisa direlokasi?"


"Ini saja sudah mendekati akhir bulan, tapi aku masih belum mendengar berita apa pun. Aku dengar kata Irwan, kamu telah membeli 150 unit rumah sejumlah 60 miliar, "kan?"


Andre hanya mengangkat bahu dengan santai. "Siapa yang tahu?"


"Kehidupan itu adalah sebuah pertaruhan. Kalau pertaruhan ini menang, aku akan menang. Kalau kalah... aku akan jatuh miskin." Martin tertawa dingin.


"Kamu selalu gagal investasi dulu. Kalau nggak, kamu nggak akan berutang enam ratus juta. Istri dan anakmu juga nggak akan meninggalkanmu...."


Andre tersenyum. Andre tahu Martin pasti akan menyelidikinya sebelum memberinya uang. Semua orang tahu apa yang pernah Andre lakukan sebelumnya.


Bagaimana Andre bisa kenal dengan Tuan William dan Bastian juga tidak sulit diselidiki. Martin hanya butuh menelepon jika ingin tahu tentang hal ini.


"Apa yang Pak Martin katakan memang benar, itu adalah dulu...."


"Mulai dari sekarang, aku nggak akan gagal investasi lagi. Pak Martin, kamu berani bertaruh denganku?" Andre tersenyum.


Martin diam saja. Martin sudah sadar bahwa Andre sangat nekat. Namun, apa yang Andre katakan selama ini selalu benar. Martin benar-benar tidak tahu mengapa ramalan orang seperti Andre selalu begitu tepat.


Apakah Andre benar-benar seberuntung itu?


Jika Martin kalah dan rumah di Jalan Kumar benar-benar akan dibongkar, Martin akan langsung kehilangan Hotel Riverside dan Irwan.


Jika ini adalah dulu, Martin mungkin masih punya alasan untuk menyuruh Irwan mengundurkan diri dari Hotel Riverside.


Akan tetapi, Andre menyelamatkan nyawa Irwan kali ini.


Jangan lupa untuk di like and gift ya guys


vote juga serta 🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


__ADS_2