Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 48


__ADS_3

"Kamu bilang kamu mau menyambutku dan kita akan makan bersama hari ini ...."


"Kenapa kamu telat?"


Pria ini adalah Evan.


Bastian tersenyum saat melihat Evan yang sudah mabuk.


"Aku baru pulang kerja. Kamu juga tahu, aku berbeda dengan kalian. Ada kasus yang harus aku urus setiap hari. Kalau Kak Evan datang ke Kota Surawa, aku jelas harus menyambut kedatangan Kak Evan."


"Aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian. Orang ini adalah Andre Winato. Aku memanggilnya Kak Andre. Kak Andre sangat hebat...."


"Bahkan orang terkaya di Kota Surawa, Martin, juga mengagumi Kak Andre. Selain itu, kalian tahu Irwan, 'kan? Irwan adalah manajer Hotel Riverside."


"Kak Andre menyelamatkan nyawa Irwan beberapa saat lalu!"


Bastian berbicara dengan nada misterius. Evan tertegun setelah mendengar ucapan Bastian. Lalu, Evan melirik Andre sekilas. Harga pakaian yang Andre kenakan tidak lebih dari empat ratus ribu. Andre terlihat miskin. Evan berdecak.


"Bastian, aku bukan mau menegurmu. Kita baru nggak ketemu setengah tahun, kenapa kamu berteman dengan orang yang makin nggak berkualitas?"


"Bisa-bisanya kamu memperkenalkan orang seperti ini padaku...."


"Aku kenal dengan manajer Hotel Riverside, Irwan, tapi menurutmu apa kedudukan Andre ini setara dengan Irwan?"


"Bastian, jangan-jangan kamu tertipu?"


Evan mengerutkan kening dan tertawa dingin.


Evan sebenarnya meremehkan Bastian. Ayah Evan adalah direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur, sementara Evan sendiri adalah pengusaha. Berkat kerja keras Evan selama ini dan bantuan dari ayahnya, Evan sudah punya aset sebanyak puluhan miliar.


Akan tetapi, bagaimana dengan Sebastian?


Bastian hanya beruntung dan terlahir di keluarga yang baik. Ayah Bastian, William, memang kaya. Namun, William punya dua anak laki-laki. Meskipun Bastian adalah putra sulung, William belum tentu akan mewariskan harta pada Bastian.


Bastian bergantung pada orang terkaya di Kota Surawa, Martin.


Martin memang hebat. Bahkan Evan pun harus memanggil Martin sebagai paman saat bertemu.


Akan tetapi, ayah Evan juga tidak kalah hebat. Meskipun ayah Evan tidak sekaya Martin, Perusahaan Listrik Provinsi Damur tidak kalah sukses dari perusahaan Martin.


Bastian bisa dibilang adalah anak buah Martin. Meskipun


Bastian adalah polisi, Evan tetap meremehkan Bastian.


Bagaimanapun, Evan bukan orang Kota Surawa.


Bastian terdiam setelah mendengar ucapan Evan.


"Evan, kita nggak boleh menilai orang dari penampilan. Memangnya kamu nggak tahu ajaran sesimpel ini?"

__ADS_1


Evan mendengus.


"Cuma anak kecil yang percaya bahwa kita nggak boleh menilai orang dari penampilan. Aku takut kamu ditipu. Apa kehebatan orang yang nggak berguna seperti dia?"


"Dia sudah harus bangga karena bisa makan bersama kita!"


"Saat dia bertemu dengan orang lain kelak, dia pasti akan membual dan mengatakan dia pernah makan denganku dulu."


"Bastian, kalau kamu datang untuk makan bersama, aku akan menyambutmu dengan senang hati. Lain kali jangan bawa orang yang memalukan seperti orang ini lagi...."


Evan mendengus dan menunjukkan senyuman meremehkan.


Bastian ingin membantah, tapi tidak tahu apa yang harus


dia katakan. Bastian mengepalkan tangan dan terdiam


cukup lama.


Andre mendadak tertawa setelah melihat Bastian tidak tahu harus berbuat apa.


"Pak Evan, aku nggak bisa menyangkal saat kamu bilang aku adalah orang yang memalukan. Akan tetapi, kamu bilang aku seharusnya merasa sangat bangga karena bisa makan bersamamu. Apa yang kamu katakan benar-benar sesuai dengan kenyataan...."


"Akan tetapi, apa yang kamu katakan terbalik."


"Kamu yang seharusnya merasa sangat bangga karena bisa makan bersamaku!"


Semua orang yang ada di dalam private room terdiam. Lalu, semua orang menjadi heboh.


"Andre Winato, berani-beraninya kamu berbicara seperti ini! Kamu benar-benar nggak tahu malu!"


Evan berjalan mendekati Andre, lalu mengayunkan tangan


dengan kuat. Evan hendak meninju tubuh Andre.


Namun, tak disangka, Andre berhasil mencengkeram pergelangan tangan Evan dan menangkis tinjuan ini.


Andre membisikkan sesuatu di sisi telinga Evan sambil tersenyum dingin. "Pak Evan, kamu nggak ingin tahu cara supaya ayahmu tetap bisa menjadi direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur?"


"Kamu seharusnya tahu tentang masalah yang sedang keluarga kalian hadapi, 'kan? Keluarga Nirota sedang terlibat dalam banyak masalah, tapi kamu tetap saja mencari masalah di luar. Kamu nggak takut akan ada orang yang balas dendam nanti?"


Evan tertegun sebelum Andre selesai berbicara.


Evan menatap Andre, lalu menatap orang-orang di belakangnya. Kemudian, Evan mengatupkan gigi dan


bertanya, "Kenapa kamu bisa tahu?"


"Apa kamu mendapatkan kabar bocoran?"


"Aku sudah sering bertemu dengan orang sepertimu. Kamu percaya atau nggak? Aku akan menyuruh Bastian langsung menangkapmu! Aku akan menuntutmu karena kamu mengancam dan memerasku!"

__ADS_1


"Aku mengancam dan memerasmu?" Andre tertawa dingin.


"Evan, sepertinya kamu salah paham. Kamulah yang


mengancamku, aku nggak mengancam kamu!"


"Kamu hanya punya satu kesempatan. Kamu mau membiarkan ayahmu masuk penjara atau menyelamatkan ayahmu? Semua ini tergantung pada keputusanmu."


Andre berbalik dan pergi setelah berkata demikian.


Seingat Andre, Perusahaan Listrik Provinsi Damur sedang dalam banyak masalah. Orang-orang yang bekerja di perusahaan ini terus bertengkar dan saling menyalahkan. Sebuah skandal yang menghebohkan akan terekspos sebentar lagi. Jika hal ini tidak dapat diselesaikan baik-baik, direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Amir Nirota, akan menjadi kambing hitam terbesar.


Amir harus bertanggung jawab atas masalah yang terjadi di Perusahaan Listrik Provinsi Damur.


Kini, masalah ini hanya diketahui oleh orang-orang yang bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Masalah ini sedang ditangani dan sudah hampir kelar.


Namun, ketika semua orang menurunkan kewaspadaan, sepucuk surat gugatan menggentarkan seluruh anggota Perusahaan Listrik Provinsi Damur!


Surat ini langsung disampaikan pada pihak yang berkuasa. Surat ini bagaikan serangan maut bagi Amir!


"Pak Evan, nggak usah percaya dengan orang yang nggak berguna itu. Berani-beraninya dia mengancammu! Ada-ada saja!"


"Iya, benar. Dia miskin, tapi sombong."


"Kalau kamu mengejarnya, ini benar-benar memalukan. Jangan mau ditakuti oleh orang yang nggak berguna itu."


Teman-teman Evan yang tidak berguna ada di belakang Evan. Mereka semua meremehkan Andre.


Hanya Bastian yang tertawa dingin.


"Kalian semua benar-benar bodoh. Kalian nggak akan bisa memahami kehebatan Kak Andre."


"Evan, nggak semua orang bodoh. Kalaupun aku bodoh, nggak mungkin semua orang juga bodoh."


"Pikirkan sendiri apa yang harus kamu prioritaskan!"


Bastian tampak marah. Andaikan Bastian tahu akan terjadi hal seperti ini di perjamuan, Bastian tidak akan membawa Andre datang ke sini. Ini benar-benar memalukan.


Bastian tidak tahu bagaimana cara menghadapi Andre selanjutnya.


Bastian juga khawatir Andre akan kesal padanya gara-gara Evan.


Setelah Andre keluar dari private room, Andre langsung tidak memasang ekspresi marah lagi. Andre sudah berumur. Andre mana mungkin emosi karena ucapan Evan?


Andre hanya kebetulan teringat pada masalah yang sedang dihadapi oleh ayah Evan, Amir. Andre ingin tahu tentang hal ini, jadi Andre menguji Evan.


Jika Evan tidak terjebak, berarti masalah yang sedang Perusahaan Listrik Provinsi Damur hadapi sudah mau. kelar. Perusahaan ini akan digugat sebentar lagi. Penggugat tidak menyembunyikan identitasnya.


Perusahaan Listrik Provinsi Damur akan menjadi kacau saat itu. Andre dapat memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan mencari keuntungan.

__ADS_1


Sebaliknya, jika Evan terjebak, Andre akan menggunakan kesempatan ini untuk membantu Amir. Evan bodoh, tapi ayah Evan seharusnya tidak sebodoh ini.


__ADS_2