Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 50


__ADS_3

Andre paham bahwa pembongkaran rumah di zaman sekarang berbeda dengan lima belas tahun kemudian, di mana pemerintah melarang pembongkaran rumah. Pada zaman sekarang, pembongkaran rumah bisa membuat seseorang menjadi kaya.


Selain kompensasi berupa uang tunai dan rumah, harga rumah akan dihitung berdasarkan ukuran rumah. Uang yang Andre dapatkan dari satu rumah mungkin bisa digunakan untuk membeli tiga rumah!


Meskipun harga rumah rendah, Andre punya banyak rumah!


Andre menginvestasikan enam puluh miliar. Andre kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan sebanyak tiga kali lipat!


Selain itu, Andre juga bisa mendapatkan suatu properti


yang sangat dia inginkan, yaitu Hotel Riverside.


"Akan dibongkar? Benar-benar akan dibongkar?" Bastian menelan ludah. Suasana hati saat mendengar desas-desus jelas berbeda dengan saat mengetahui waktu yang pasti.


Berdasarkan desas-desus di luar, rumah di Jalan Kumar mungkin akan dibongkar, tapi mungkin juga tidak akan dibongkar.


Namun, informasi dari Evan pasti adalah informasi tangan pertama. Menurut Evan, orang Kota Surawa akan mendapatkan kabar bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar malam ini!


Informasi ini pasti benar!


Bastian berpikir, 'Untunglah aku membujuk ayahku untuk membeli dua rumah di Jalan Kumar!'


Bastian akan mendapatkan banyak uang sekarang!


Meskipun keluarga Bastian tidak kekurangan uang, ini adalah uang yang Bastian hasilkan sendiri. Rasanya berbeda dengan meminta uang dari ayahnya!


Evan terdiam. Enam puluh miliar naik tiga kali lipat dalam sekejap....


Jangankan melihat orang yang bisa menghasilkan uang secepat ini, Evan bahkan tidak pernah mendengar tentang hal seperti ini!


Keuntungan sebesar tiga ratus persen.


Mana ada bisnis seperti ini?


Namun, Andre sedang berdiri di hadapan Evan sekarang....


Evan awalnya tidak percaya. Akan tetapi, dia mau tidak mau harus percaya sekarang. Andre tahu bahwa ayahnya sedang berada dalam kesulitan. Selain itu, Andre bisa memprediksi bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar. Jadi, Andre membeli seratus lima puluh rumah dan menunggu rumah-rumah itu dibongkar.


Evan sadar bahwa dirinya tidak boleh menyinggung Andre


Evan bahkan ingin tahu apa Andre didukung oleh orang yang tidak dia ketahui!

__ADS_1


Tidak akan ada orang yang bisa menghasilkan keuntungan seratus dua puluh miliar dalam sekejap!


Andre pasti sudah mendapatkan kabar terlebih dahulu! Inilah alasan mengapa Evan menjadi makin menghormati Andre.


Andre tetap memasang ekspresi datar. "Aku sudah menduga bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar. Mengenai masalah Pak Amir, kamu boleh menyuruh Pak Amir datang mencariku sendiri ...."


"Kalau dia nggak mau datang mencariku juga nggak apa-apa, kalau dia bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, aku nggak masalah...."


Andre mengangkat bahu.


"Sudah dulu, aku masih punya urusan lain, kalian lanjut makan saja...."


Andre pada dasarnya memang tidak mau mengikuti perjamuan seperti ini, terutama jika orang-orang lain yang hadir masih muda. Meskipun usia Andre sebaya dengan mereka, Andre sudah hidup lima belas tahun lebih lama dari mereka pada kehidupan yang lalu. Usia psikologis Andre sudah hampir mencapai lima puluh tahun. Andre mana mungkin bisa bergaul dengan para pemuda?


Bastian tertawa dingin, lalu mengikuti Andre. Bastian keluar dari private room dengan bangga.


Bastian berpikir dalam hati, 'Orang-orang yang tidak berguna ini mengabaikanku tadi. Mereka bahkan berani meragukanku! Mereka sudah menyaksikan kehebatan Kak Andre sekarang!'


Evan menarik napas dalam-dalam.


Tak peduli bagaimanapun, Evan akan mempertemukan ayahnya dengan Andre.


Teman-teman Evan yang ada di belakang Evan menelan ludah.


Evan mengangkat tangan dan mengisyaratkan mereka untuk jangan berbicara. Ekspresi Evan tampak serius, sementara tatapan Evan terlihat suram..


"Lain kali, jangan menyinggung orang ini di Kota Surawa!"


"Aku nggak berani menjamin apa yang akan dia lakukan pada kalian. Takutnya dia akan membuat kalian menghilang tanpa jejak dari Kota Surawa!"


Ucapan Evan membuat suhu di dalam private room terasa lebih dingin. Teman-teman Evan menggigil.


Akan tetapi, apa yang Evan katakan memang benar. Saat Evan berada di dekat Andre, Evan dapat merasakan aura yang lebih menyeramkan daripada aura ayahnya.


Sesaat kemudian, Evan lanjut berkata, "Kalau kalian punya kesempatan untuk bergaul dengannya, masa depan kalian pasti akan cemerlang...."


Di Grup Suhandi.


Di menara kembar Kota Surawa.


Martin sedang berada di dalam kantor. Dia bersandar di samping meja rapat. Martin dan beberapa pejabat eksekutif lainnya sedang mendengar laporan keuangan kuarter ketiga.

__ADS_1


adalah ketiga kalinya Martin gagal membuka pasar di Provinsi Damur.


Seluruh investasi yang Martin lakukan di kota madya Provinsi Damur dan kota-kota sekitar gagal.


Martin seolah-olah dihalangi oleh sebuah tangan raksasa yang tidak terlihat. Tangan raksasa ini diam-diam menangkis seluruh serangan Martin.


"Pengeluaran terbesar Grup Suhandi dalam kuarter ketiga adalah uang yang Hotel Riverside gunakan untuk berinvestasi. Grup Suhandi mengeluarkan enam puluh miliar. Ini adalah pengeluaran terbesar Grup Suhandi. Pak Martin menyuruh departemen keuangan langsung menyetujui alokasi dana. Hingga sekarang, pihak departemen keuangan belum menerima informasi mengenai alur dana ini...."


"Pak Martin, kita butuh menjelaskan investasi ini pada dewan direksi...."


Para pejabat eksekutif mengalihkan tatapan mereka ke


arah Martin.


Martin tetap terlihat tenang. Martin adalah pemilik Grup Suhandi. Sebagai pemegang saham terbesar dan direktur, Martin menduduki posisi tertinggi di dewan direksi.


Namun, tetap ada pemegang saham lainnya. Meskipun jumlah saham yang mereka miliki tidak banyak, mereka juga memegang saham Grup Suhandi.


Martin tetap butuh menjelaskan apa yang terjadi di perusahaan pada para pemegang saham.


Martin tersenyum dan berkata, "Ini hal sepele. Aku memberikan uang ini pada Irwan untuk diinvestasikan. Katanya dia membeli seratus lima puluh rumah di Jalan Kumar."


"Dia menghabiskan enam puluh miliar, sepeser pun nggak


tersisa."


Jawaban Martin membuat seluruh pejabat eksekutif merasa agak bingung.


Rumah di Jalan Kumar? Bukankah tempat itu adalah wilayah kumuh? Tempat itu menjadi sangat kotor dan kacau sejak bertahun-tahun yang lalu. Kenapa Pak Martin mendadak tertarik untuk berinvestasi di sana? Perusahaan sedang dalam keadaan sulit sekarang, tapi Pak Martin malah mengeluarkan enam puluh miliar untuk membeli seratus lima puluh rumah di sana.


Martin sadar bahwa semua orang sedang memandangnya dengan bingung.


Martin merasa tidak berdaya. Sampai sekarang, Martin tetap merasa bahwa menyetujui permintaan Andre adalah suatu kesalahan.


Namun, Martin sudah sepakat untuk bertaruh dengan Andre. Martin tidak boleh ingkar janji. Kalau sampai orang-orang tahu bahwa Martin tidak menepati janji, Martin akan merasa sangat malu.


Terutama Martin mempertaruhkan Hotel Riverside, sementara Andre mempertaruhkan mesin litografi. Andre pasti kalah. Meskipun seratus lima puluh rumah itu dijual rugi dua puluh persen, Martin tetap akan mendapatkan banyak keuntungan.


"Ada orang yang memberitahuku bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar. Aku nggak percaya, jadi aku bertaruh dengannya. Kalau rumah di Jalan Kumar dibongkar, aku akan memberikan Hotel Riverside padanya. Kalau rumah di Jalan Kumar nggak dibongkar, dia akan memberiku sebuah mesin berharga senilai ratusan miliar."


Martin mengangkat bahu. Martin sudah pernah bertanya pada pihak Elektronik Damur. Kalau mesin yang Andre miliki adalah barang asli, mesin itu memang berharga senilai ratusan miliar.

__ADS_1


Selain itu, Elektronik Damur bersedia langsung membeli mesin itu.


"Rumah di Jalan Kumar mana mungkin dibongkar?


__ADS_2