
Pulanglah, jangan mempermalukan diri sendiri lagi!"
"Nanti kalau Steven sudah datang, lalu kamu duduk di sini coba lihat dirimu itu! Astaga, takutnya harga dirimu akan diinjak-injak sampai habis oleh orang lain."
Linda bicara sambil menggerak-gerakkan tangan, seolah dia juga merasa malu karena Andre.
"Steven?"
Andre agak tertegun karena kaget.
Ternyata orang yang Linda maksud sebagai atasan Ricky adalah Steven dan merupakan teman bermain Jessy saat kecil. Apakah dia adalah Steven si wakil manajer yang pandai bersilat lidah dan bermulut besar itu? Bahkan, sebelum pulang dia sempat menyodorkan kartu namanya kepada Andre, lalu Andre membuang kartu namanya ke tong sampah.
Bagus sekali, pria sialan itu! Seandainya Andre tidak berusaha mati-matian tinggal di sana, mana mungkin dia
tahu tentang wujud asli pria itu! Linda tertawa dingin. "Iya benar. Namanya adalah Steven."
"Dulu saat ujian akhir, nilai ujian Steven lebih baik daripada Jessy. Lalu, masuk kuliah dan lulus kuliah langsung bekerja di perusahaan milik negara. Sekarang dia dipindahkan kembali ke cabang Kota Surawa dan menjadi wakil manajer di Perusahaan Listrik Provinsi Damur!"
"Coba kamu lihat orang lain, lalu lihat lagi dirimu!"
"Pria lain muda dan sukses, sementara kamu? Pecundang yang tidak berguna!"
"Jessy, aku suruh kamu ceraikan pecundang ini. Apa kamu masih belum mengerti?"
"Apa kamu sudah bilang sama dia?"
Linda berkacak pinggang dengan penuh emosi, lalu menunjuk Andre.
Jessy agak kehabisan kata-kata. Dia tidak pernah mengatakan hal ini kepada Andre. Hari ini Jessy tidak melihat Andre membuka kios, bahkan dia sempat mencemaskan Andre saat di kantor.
"Ibu, aku nggak akan menikah lagi. Masalah bercerai, usia Feli masih terlalu kecil, takutnya belum bisa menerima keadaan ini. Kita berdua sudah pisah, nggak mungkin bersama lagi."
"Tapi, Feli nggak bersalah, dia butuh seorang ayah...."
"Tunggu beberapa tahun, kamu akan mengurus surat dia dipindahkan kembali ke cabang Kota Surawa dan menjadi wakil manajer di Perusahaan Listrik Provinsi Damur!"
"Coba kamu lihat orang lain, lalu lihat lagi dirimu!"
"Pria lain muda dan sukses, sementara kamu? Pecundang
yang tidak berguna!"
"Jessy, aku suruh kamu ceraikan pecundang ini. Apa kamu masih belum mengerti?"
"Apa kamu sudah bilang sama dia?"
Linda berkacak pinggang dengan penuh emosi, lalu menunjuk Andre.
__ADS_1
Jessy agak kehabisan kata-kata. Dia tidak pernah mengatakan hal ini kepada Andre. Hari ini Jessy tidak melihat Andre membuka kios, bahkan dia sempat mencemaskan Andre saat di kantor.
"Ibu, aku nggak akan menikah lagi. Masalah bercerai, usia Feli masih terlalu kecil, takutnya belum bisa menerima keadaan ini. Kita berdua sudah pisah, nggak mungkin bersama lagi."
"Tapi, Feli nggak bersalah, dia butuh seorang ayah....'
"Tunggu beberapa tahun, kamu akan mengurus surat cerai."
Jessy menundukkan kepala, ucapannya belum selesai, tetapi Linda sudah menendang lemari saking marahnya.
Terdengar suara dentuman keras!
Hal itu langsung membuat Jessy kaget.
"Beberapa tahun? Harus tunggu beberapa tahun lagi? Apa kamu bisa terus menunda-nunda?"
"Feli ingin ayah? Bukankah Steven jauh lebih hebat daripada Andre? Dia mau ayah, bukankah kamu harus memilih ayah yang lebih baik?"
Jessy tidak tahu harus menjawab apa.
Andre hanya tersenyum. "Ibu, kenapa kamu merasa Steven lebih hebat daripada aku?"
"Mungkin dia juga orang yang luarnya kelihatan hebat. Hari ini dia bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur, siapa tahu besok dia sudah dipecat atau belum."
Linda tertawa dingin dan berkata, "Andre, apa kamu mengalami kemunduran otak karena main kartu dan minum minuman kertas setiap hari? Dia adalah karyawan tetap, kamu mana bisa memecatnya sesuka hati?"
Akan tetapi, jika Steven berniat jahat, Andre jamin Steven yang terlihat sukses sekarang akan turun pangkat sebelum malam hari tiba. Steven akan menjadi penjaga ruang arsip.
Lalu, Steven akan bekerja di ruang arsip seumur hidup.....
Andre tidak berbicara lagi. Dia duduk di sofa bersama Jessy.
Suasana langsung menjadi agak canggung. Andre bisa pura-pura tidak memedulikan apa-apa di hadapan Linda dan Ricky, tapi Andre tidak bisa bersikap seperti itu di hadapan Jessy.
"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"
Andre merasa agak kikuk.
Jessy menjawab dengan suara pelan, "Lumayan baik. Semuanya lancar."
Andre mengangguk.
Setelah itu, tidak ada yang berbicara untuk waktu yang cukup lama.
"Feli akhir-akhir ini berkelahi dengan anak lain lagi di TK
"Akan tetapi, guru Feli sangat perhatian pada Feli. Anak-anak di TK juga memperlakukan Feli dengan sangat baik. Ada banyak anak-anak yang menemani Feli dan bermain dengan Feli."
__ADS_1
"Kamu membawa sertifikat tanah Pak Martin ke TK sebelumnya. Nggak apa-apa, 'kan?"
Jessy tetap menundukkan kepala.
Andre sempat ingin memberi tahu Jessy bahwa 150 rumah itu bukan milik Martin. Andre setidaknya punya ratusan rumah sekarang.
Bahkan tempat di mana Jessy berada saat ini, yaitu rumah Linda dan Ricky, juga milik Andre.
Namun, Andre tahu tidak ada gunanya memberi tahu Jessy. Jessy tidak akan percaya.
Andre menikah dengan Jessy selama enam tahun. Andre sangat memahami istrinya. Jessy bukan wanita yang mata duitan. Bagi Jessy, uang bukanlah hal yang penting.
Andre punya utang lain. Jessy putus asa pada Andre karena Andre terus berbohong sebelumnya. Selain itu, setiap kali Andre tidak jujur, kebohongannya selalu makin parah....
Namun, hubungan Andre dan Jessy menjadi seburuk sekarang akibat kesalahan Andre sendiri.
Andre hanya berharap Jessy bisa melupakan hal ini, menjalani hidup dengan baik, jangan terlalu membencinya, dan memberinya sebuah kesempatan untuk kembali ke rumah. Andre ingin kembali ke sisi istri dan anaknya.
"Nggak apa-apa, aku sangat akrab dengan Pak Martin...."
Andre agak ragu saat melontarkan kalimat ini.
Sejak Andre merekrut Irwan, Andre diboikot dari seluruh aset milik Grup Suhandi. Andre mengatakan dirinya akrab dengan Martin dalam keadaan seperti ini. Hal ini sebenarnya kurang pantas....
Akan tetapi, Andre tidak ingin Jessy khawatir.
"Buka pintu, buka pintu ...."
Ricky yang pergi membeli sayur sudah pulang. Dia sedang berdiri di luar pintu sambil menggandeng Feli.
Linda membuka pintu. Ricky masuk dan berjalan ke arah sofa. Ricky menarik Andre, lalu membawa Feli dan Andre masuk ke dalam kamar tidur.
Ricky tampak sangat marah.
"Andre, aku kasih tahu kamu dulu, kamu dan Feli nggak boleh keluar dari kamar tidur. Kalian baru boleh keluar saat aku suruh!"
"Sebelum aku mengizinkan kalian keluar, kamu nggak boleh keluar!"
"Apa kamu sudah paham?"
Ricky berkata demikian. Sebelum Andre sempat berbicara, Feli yang mungil mengelus perut.
"Akan tetapi, Kakek, Feli sangat lapar, Feli mau makan. Feli lihat Kakek membeli banyak makanan yang enak. Nenek juga sudah selesai memasak. Kenapa Feli nggak boleh keluar?"
Feli mendongakkan kepala untuk memandang Ricky.
Ricky memasang ekspresi datar dan berkata, "Kamu nggak akan kelaparan. Kamu dan ayahmu jangan keluar dari kamar tidur dulu. Tunggu kami yang ada di luar sudah selesai makan, kami akan memanggil kalian untuk keluar makan."
__ADS_1
"Pokoknya kalian berdua nggak boleh keluar tanpa izin dariku!"