Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 65


__ADS_3

Andre hanya tersenyum.


"Bukan rumor...."


Irwan tertegun. "Bukan rumor?"


Andre tidak menjelaskan lebih jauh.


"Simpan uangnya dengan baik. Aku akan melakukan hal besar tiga hari lagi."


"Tunggu sampai harga rumah jatuh ke titik terendah, kita yang akan ambil alih. Bantu aku hubungi para spekulan dari kawasan pesisir ke Kota Surawa. Katakan kalau aku mau beli rumah yang ada di tangan mereka."


Ujar Andre. Kini Irwan yang benar-benar tercengang.


Pihak pemerintah sudah jelas-jelas membantah bahwa tidak ada pernyataan tentang relokasi di Jalan Kumar. Berita yang sebelumnya tersebar hanya rumor belaka.


Saat ini malah mau mengambil alih rumah di Jalan Kumar, bukankah sama saja menjatuhkan diri dalam masalah?


"Pak Andre, apa Anda nggak mau mempertimbangkannya lagi ?^ prime prime


"Apa benar-benar mau menghubungi para spekulan dari kawasan pesisir itu?"


Tanya Irwan.


Andre meletakkan sate taichan di tangannya.


"Beberapa minggu yang lalu, aku bilang, rumah di Jalan Kumar akan direlokasi. Kalian nggak percaya, Pak Martin malah bertaruh sendiri denganku. Kalau aku menang, dia akan memberikanku Hotel Riverside."


"Sekarang, rumor tentang relokasi Jalan Kumar mulai tersebar. Lalu, harga properti naik tiga kali lipat. Aku bilang, sudah waktu dijual. Kalian nggak percaya, akhirnya hari ini pihak pemerintah memberi kabar, kalau rumah tidak jadi direlokasi...."


"Sekarang aku beri tahu kamu, bukan cuma rumor dan aku berencana mengambil alih rumah dari tangan spekulan di kawasan pesisir. Kalian tetap nggak percaya


"Pak Irwan, aku bisa bersabar kalau kamu nggak percaya satu kali, juga bisa menerima rasa nggak percaya yang kedua kali. Sementara yang ketiga kali, aku harap nggak dicurigai lagi, tapi dipatuhi."


Suara Andre terdengar serius dan kuat hingga Irwan tercengang.


"Aku mengerti, Pak Andre ...."


Andre menutup telepon dan lanjut membakar sate taichan. Ada banyak pelanggan di sekitar tampak kaget dengan aura Andre yang mendominasi.


Andre barusan, mana mirip dengan bos ramah yang menjual sate taichan.


Andre lebih mirip dengan petinggi yang berada di puncak kejayaan!


"Andre, aku dengar kata Jenna, beberapa waktu yang lalu, kamu sudah menjual 150 unit rumah milik Pak Martin."


Tanya Jessy sambil merendahkan suaranya.


Andre hanya tersenyum. "Iya benar. Sudah dijual dan mendapat untuk 100 miliar lebih."


Jessy mengernyitkan alis.


"Kamu ceroboh sekali. Jalan Kumar akan segera direlokasi. Katanya, relokasi satu rumah dan dapat ganti rugi tiga kali lipat. Apalagi dengan uang ganti rugi, untungnya sebanyak apa? Sekarang kamu malah menjualnya, bukankah tindakanmu bodoh sekali?"

__ADS_1


Andre menggelengkan kepala. "Jalan Kumar, belum bisa direlokasi dalam waktu dekat ini ...."


Jessy bicara dengan kesal.


"Kamu bilang batal direlokasi, terus benar-benar batal. Apa pihak pemerintah punya keluargamu ...."


"Ya sudah, malam ini ingat jemput Feli pulang...."


Jessy berbalik dan pergi dari sana. Sebenarnya Jessy ingin


bicara baik-baik agar Martin tidak menyinggung orang seperti Martin. Namun, siapa sangka Andre sama sekali tidak menggubrisnya.


Apa hebatnya menghasilkan uang 100 miliar? Bukankah uang itu bukan milik Andre? Martin hanya peduli menghasilkan lebih banyak uang. Dia juga tidak akan berterima kasih pada Andre yang telah menghasilkan 100 miliar.


Jessy terlalu memahami seperti apa orang kaya itu.


Jika dibandingkan, lebih baik membuka kios sate taichan. Pendapatannya memang tidak terlalu banyak, tetapi dapat hidup dengan tenang.


Bagi Andre sudah cukup bila dalam satu tahun dapat


membeli rumah di Kota Surawa.


Namun, selama beberapa tahun ini, Andre tidak pernah mendengarkan saran Jessy. Dahulu seperti itu dan sekarang juga....


Sekalipun Andre telah berubah pesat, Jessy juga sudah tidak terlalu anti terhadap Andre. Namun, mereka berdua tetap tidak bisa kembali seperti dahulu lagi.


Rintangan dalam hati Jessy bagaikan setebal gunung es di Kutub Selatan....


Entah berapa tahun harus terlewati, baru dapat


Apartemen Citranur.


Perjalanan pulang, Jessy membawa kotak bekal, lalu berjalan masuk ke daerah tempat tinggalnya. Jessy melihat Andre yang sedang menemani Feli bermain, tiba-tiba muncul perasaan yang aneh dalam benak Jessy.


Bahkan, Jessy sendiri tidak mengerti, apa yang terjadi belakangan ini ....


Padahal hatinya sangat benci pada Andre, tetapi Jessy tidak anti akan kehadiran Andre di dekatnya.


Mengapa bisa begini....


"Jessy, kamu sudah pulang...."


Andre menyerahkan Feli kepada Jessy, sementara Jessy tampak sedikit termenung.


Wajah Feli tampak penuh senyum. "Ibu, kata Ayah, akhir pekan nanti mau ajak Feli liburan ke taman bermain. Apa Ibu juga mau ikut pergi dengan kami?"


Jessy spontan ingin menolak, tetapi wajah merah Feli tampak penuh harap. Jessy menghentikan penolakan yang nyaris terucap.


"Akhir pekan nggak terlalu banyak pelanggan, jadi aku tutup kios. Tutup satu hari untuk mengajak kamu dan Feli ke taman bermain."


"Feli sudah sebesar ini, tetapi belum pernah ke taman bermain ...."


Andre meraba kepala Feli.

__ADS_1


Jessy menggendong Feli, lalu berkata, "Lihat nanti saja. Mungkin akhir pekan aku mau lembur. Kami masuk dulu."


Andre berdiri di lantai bawah, sambil memandang punggung Jessy dan Feli hingga suara mereka menghilang. Setelah Jessy dan Feli masuk ke dalam lift, Andre baru menyalakan sebatang rokok, lalu menghela napas panjang.


Kelihatannya, Jessy masih tidak bersedia memaafkannya.


Jessy yang masuk ke dalam lift hanya terdiam. Feli seolah dapat merasakan Jessy yang bersedih, lalu Feli diam saja sambil bersembunyi di balik tubuh Jessy.


Setelah pintu lift terbuka dan Jessy hendak keluar, tampak sesosok bayangan yang menyambutnya di samping lift hingga Jessy terkejut.


Jessy memperhatikan dengan saksama, batu merasa tenang.


"Ibu, kenapa kamu bisa di sini?"


Jessy melihat ke arah Linda.


Linda tersenyum dingin. "Kenapa aku bisa di sini? Kalau aku nggak ke sini, aku nggak tahu kalau kamu dan si berengsek Andre itu masih punya hubungan!"


"Jessy, kamu ya! Kamu benar-benar nggak kapok ya!"


"Apa hatimu sudah lupa seperti apa sikapnya dulu kepada kalian?"


"Jessy, dia nggak akan bisa berubah!"


Linda tampak sangat murka, lalu menendang Jessy.


Jessy berdiri di tempat, matanya memerah karena tendangan kaki Linda. Jessy hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani bergerak.


Linda berkacak pinggang sambil menunjuk hidung Jessy. "Kehidupanmu baru membaik tidak lama ini, apa kamu mau mengulangi kesalahanmu yang dulu lagi?"


"Apa bagusnya si Andre itu?"


"Coba beri tahu aku, selama enam tahun ini, apa kamu masih belum cukup disakiti sama dia?"


"Aku suruh kamu bercerai sama dia. Cepat ceraikan Andre. Kamu malah nggak cerai, apa kamu ingin bawa dia pulang ke rumahmu? Apa kalian ingin hidup bersama lagi?"


"Jessy, aku beri tahu ya. Nggak mungkin!"


"Cuih!"


"Kelak aku yang akan antar jemput Feli. Suruh Andre menjauh dari Feli!"


"Sejak saat ini, kita keluarga Irawan nggak punya hubungan apa pun sama keluarga Winato lagi!"


"Kalau sampai aku lihat kalian masih berhubungan, kamu juga menjauh dari kami. Kami keluarga Irawan nggak punya putri seperti kamu!"


Linda mengangkat tangan, lalu menampar wajah Jessy.


Feli segera mendorong Linda, lalu berteriak pilu, "Nenek, jangan. Aku yang mau ayah menjemputku. Jangan pukul Ibu, jangan pukul Ibu...."


Linda melihat ke arah Feli, hatinya melunak, tetapi ekspresi marahnya malah tampak meningkat.


"Kamu nggak lihat dirimu sendiri. Kamu nggak punya

__ADS_1


kemampuan yang hebat dan nggak akan berhasil. Coba kamu lihat anakmu juga, anakmu masih kecil. Apa mau kembali ke hidup penuh penderitaan itu lagi?"


__ADS_2