
Di rumah Jason.
Jason dan istrinya sedang duduk saling berhadapan di sofa. Istri Jason memelototi Jason dengan marah.
"Kamu menghabiskan enam miliar untuk membeli sepuluh rumah di Jalan Kumar?"
"Jason Shirta, apa kamu sudah gila?"
"Sialan! Orang lain tetap nggak mau rumah di Jalan Kumar, meskipun diberikan secara gratis. Kamu malah membeli setiap rumah dengan harga enam ratus juta?"
"Jason, kamu benar-benar nggak punya otak."
Jason mengisap rokok dan diam saja. Dulu Jason bisa sukses karena ibu mertuanya memberinya uang. Setelah Antar Cepat makin berjaya, keluarga istri Jason terus diam-diam mengatai Jason.
Menurut keluarga istri Jason, Antar Cepat bisa menjadi sesukses sekarang berkat uang yang mereka pinjamkan.
Namun, keluarga istri Jason hanya meminjamkan tiga ratus juta untuk Jason. Kalau bukan karena Jason berkemampuan, tiga ratus juta ini tidak ada gunanya.
Antar Cepat juga tidak mungkin sesukses sekarang.
"Kamu nggak tahu apa-apa, jadi kamu nggak paham...."
Jason menekan puntung rokok ke asbak, lalu memutar bola mata dan menatap istrinya dengan kesal.
"Rumah di Jalan Kumar kemungkinan besar akan dibongkar. Kalaupun nggak dibongkar tahun ini, rumah-rumah itu pasti akan dibongkar dalam kurun waktu sepuluh tahun. Memangnya kenapa aku nggak boleh membeli rumah? Kalau aku menaruh enam miliar itu di bank, jumlah bunga yang aku dapatkan sangat sedikit...."
"Pokoknya aku sudah memutuskan hal ini. Kalau kamu nggak setuju, kamu boleh kembali ke rumah keluargamu!"
Jason beranjak berdiri dan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung.
Istri Jason tiba-tiba menangis.
"Dasar pria nggak berguna! Kamu nggak mau istri lagi setelah punya uang! Kamu mulai menganggapku sebagai beban, 'kan?"
"Baiklah, berhubung kamu menyuruhku pergi, aku akan pergi!"
"Dasar pengkhianat! Kalau bukan karena ibuku memberimu tiga ratus juta beberapa tahun yang lalu, kamu nggak akan bisa sukses, juga nggak akan bisa punya enam miliar sekarang! Kamu kemungkinan sudah mati kelaparan di jalan!"
"Cerai! Aku mau cerai denganmu! Aku nggak akan memberimu uang sepeser pun!"
Istri Jason melempar asbak ke lantai.
__ADS_1
Ponsel yang terletak di atas meja tiba-tiba berdering. Jason melirik ponsel sekilas, lalu mengangkat telepon. Orang yang meneleponnya adalah agen properti yang dia hubungi beberapa hari lalu.
Rumah di Jalan Kumar awalnya sangat murah. Namun, entah kenapa, harga rumah di sana meningkat cukup banyak akhir-akhir ini. Agen properti mengatakan bahwa ada orang yang membeli banyak rumah di Jalan Kumar, jadi harga rumah meningkat.
Akan tetapi, enam ratus juta per rumah bisa dibilang tidak terlalu mahal. Jadi, Jason membeli sepuluh rumah.
Jason tidak tahu mengapa agen properti meneleponnya di saat hari sudah malam.
"Halo?"
Jason mengangkat telepon dan tidak memedulikan istrinya yang sedang menangis sambil mengeluh.
Konsultan penjualan yang bekerja di agen properti terdengar gembira. "Pak Jason, ada kabar baik!"
"Saya mendapatkan suatu kabar sore ini, katanya pemerintah kota berencana membongkar rumah di Jalan Kumar. Harga rumah di sana langsung meroket. Harga satu rumah mendekati satu miliar dua ratus juta sekarang. Harga rumah yang Anda beli naik dua kali lipat!"
Jason tertegun sebelum konsultan penjualan selesai berbicara.
Naik dua kali lipat!
Harga per rumah naik dari enam ratus juta menjadi satu miliar dua ratus juta.
Jason tidak bisa berkata-kata. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku, lalu menyalakan dan mengisap rokok tersebut.
"Rumah di sana benar-benar akan dibongkar?"
Konsultan penjualan itu tertawa. "Pak Jason, apa maksud Anda? Memangnya saya akan membohongi Anda?"
"Akhir-akhir ini ada sekelompok spekulan properti yang datang dari kawasan pesisir. Mereka berminat untuk membeli rumah di Kota Surawa dengan harga tinggi. Mereka juga mengincar rumah-rumah yang belum dijual untuk umum. Kalau Anda ingin menjual rumah-rumah ini, saya bisa membantu Anda menjual rumah-rumah ini dengan harga tinggi."
Jason ragu sejenak setelah mendengar ucapan konsultan penjualan. Kemudian, Jason memilih untuk menolak.
Rumah di Jalan Kumar akan segera dibongkar. Begitu pembongkaran dimulai, harga rumah-rumah ini pasti ada di atas satu miliar dua ratus juta.
"Nggak usah. Aku akan menghubungimu lagi kalau aku berminat untuk menjual rumah-rumah itu."
Jason mengakhiri panggilan dan duduk di sofa. Dia mengisap rokok, lalu mengembuskan napas panjang. Jason sangat gembira.
Istri Jason merasa Jason terlihat agak aneh. Istri Jason melirik Jason sekilas.
"Aku mendengar bahwa ada rumah yang akan dibongkar?"
__ADS_1
"Rumah di mana yang akan dibongkar?"
Jason tertawa dingin dan menjawab, "Rumah di Jalan Kumar akan dibongkar...."
"Harga rumah di sana naik dua kali lipat hari ini. Agen properti datang bertanya apa aku mau menjual rumah-rumah itu atau tidak. Aku mendapatkan enam miliar dalam waktu satu hari."
Wajah istri Jason yang awalnya pucat menjadi kemerahan. Dia melihat asbak yang dia lempar ke lantai, lalu membungkukkan badan untuk memungut asbak itu. Kemudian, dia meletakkan asbak itu di samping Jason. Istri Jason tidak mengungkit masalah cerai lagi.
Jason tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
Jason merasa dirinya mengambil risiko yang tepat!
Jika Jason ragu-ragu saat itu, Jason akan melewatkan kesempatan untuk menjadi kaya raya!
Jason baru bergaul dengan Andre selama dua minggu, tapi sudah mendapatkan sepuluh miliar!
Jason tidak tahu bagaimana cara untuk berterima kasih pada Andre.
Di bawah Apartemen Citranur.
Andre duduk di kursi yang ada di taman apartemen. Andre mendongakkan kepala untuk memandang lantai delapan belas bangunan blok C. Lalu, Andre menyalakan rokok. Api rokok terlihat secara samar-samar di bawah penerangan lampu jalan. Setelah Andre mengisap rokok beberapa kali, rokok Andre sisa setengah.
Andre sudah tahu bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar sejak awal ....
Hal ini pasti akan terjadi. Namun, dibandingkan dengan pembongkaran rumah, Andre lebih peduli pada Jessy dan Feli.
Jessy tidak pernah hidup bahagia satu hari pun setelah menikah dengan Andre. Anak Andre, Feli, bahkan tidak pernah pergi ke taman bermain, tidak punya pakaian baru, juga tidak punya sepatu baru.
Dalam enam tahun ini, hampir seluruh pakaian Feli adalah hadiah dari kerabat, teman dan tetangga.
Jessy dan Feli sangat hemat. Hidup mereka sangat menyedihkan dan memprihatinkan.....
Rumah ini hanyalah langkah awal yang Andre ambil untuk menebus kesalahan pada istri dan anaknya.
Kota Surawa dan Provinsi Damur bukan apa-apa bagi
Andre.
Andre ingin menciptakan sebuah kerajaan bisnis yang belum pernah ada sebelumnya. Andre tahu apa yang akan terjadi lima belas tahun ke depan. Selain itu, Andre pernah memiliki aset sejumlah puluhan triliun. Andre mengetahui hal yang belum pernah orang lain alami.
Membeli mesin litografi dan rumah yang akan dibongkar adalah langkah pertama untuk memupuk kekayaan.
__ADS_1