Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 68


__ADS_3

Tangan Irwan yang memegang gelas kopi langsung gemetar. Dia telah bekerja dalam dunia bisnis selama bertahun-tahun dan ikut di samping Martin begitu lama. Irwan telah bertemu dengan banyak atasan, Presdir dari dunia bisnis, dia tidak mungkin menyebutkan mereka satu per satu.


Sekalipun Irwan sangat bodoh, dia juga sudah tahu apa yang sedang terjadi!


Relokasi di Jalan Kumar masih berjalan, tetapi ada orang yang merasa harga properti di Jalan Kumar terlalu tinggi. Jadi, mereka perlu menurunkan harga properti di Jalan Kumar dan sekitarnya.


"Selain itu, bukan hanya Jalan Kumar, bahkan area di sekitar Jalan Kumar, seperti Jalan Armin dan Jalan Weru. Kedua jalan yang berdekatan dengan daerah kota tua di dekat Jalan Kumar, awalnya rumah bekas yang tidak laku. Kini harga jualnya dalam satu minggu tiba-tiba naik hingga 20 persen."


"Karena Pak Martin memilih untuk memberikan 20 miliar untukku, takutnya pertaruhan kami yang menggunakan mesin litografi dan Hotel Riverside juga sudah dibatalkan, 'kan?"


Andre menyeruput kopinya. Memang sudah masuk musim hujan, tetapi masih tetap panas. Malam-malam meminum es kopi untuk mendinginkan hati. Nikmat sekali.


Irwan menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepala. "Iya benar. Kata Pak Martin, Jalan Kumar memang nggak direlokasi. Tapi, Pak Martin juga sudah nggak mau mesin litografi. Dia mengambil 90 miliar, anggap saja sudah impas."


Andre tertawa lemah.


"Janji kami waktunya dua bulan. Tapi, Pak Martin nggak sabaran. Belum sampai tiga minggu, tapi dia sudah membatalkan perjanjian."


"Tapi nggak heran. Aku sudah memprediksi reaksi Pak Martin dan aku juga sudah tahu sejak awal kalau dia akan menarik investasi ...."


"Bagaimanapun juga, harga properti di Jalan Kumar terus jatuh. Banyak pemilik properti yang menanti ada orang mengambil alih rumah mereka. Seandainya saat ini Pak Martin membeli properti di Jalan Kumar, dia pasti merasa tidak pantas."


"Setiap orang punya rencana sendiri. Nggak perlu memaksa. Terima kasih Pak Irwan mau bicara begitu banyak denganku. Selesai minum kopi, kamu lebih baik kembali ke Hotel Riverside ...."


Andre kembali meneguk kopinya.


Sementara Irwan menggelengkan kepala dengan tatapan serius.


"Pak Andre, saya benar-benar serius. Saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Kalau Anda menolak, saya akan cari kerja di tempat lain."


"Aku nggak akan kembali ke Grup Suhandi lagi ...."


"Sekalipun Pak Martin telah banyak berjasa dalam hidupku. Tapi, selama bekerja di Grup Suhandi, aku selalu bekerja di posisi manajer umum Hotel Riverside tanpa ada kemajuan...."


"Saya ingin ikut dengan Anda, Pak Andre ...." Irwan menatap Andre.


Andre merasa tidak berdaya. Sekarang Andre miskin dan tidak punya apa pun. Bahkan, uang 20 miliar yang Martin berikan akan sangat sulit jika ingin mengambil alih properti di Jalan Kumar.


Namun, Irwan malah begitu percaya kepadanya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik? Ikut denganku, kamu bisa bangkrut kapan saja...."


"Apa kata Pak Martin tentangku ada benarnya. Aku adalah seorang penjudi. Dulu aku bermain saham hingga kehilangan anak dan istri, serta kehilangan segalanya. Sekarang aku juga berada di tengah ancaman. Seandainya gagal, mungkin akan benar-benar hancur."


Ekspresi Andre juga berubah serius.


"Kalau kamu ikut aku, aku nggak punya jaminan apa pun. Bahkan, kamu mungkin nggak dapat gaji. Aku cuma bisa bilang, apa yang akan menghasilkan uang dan kamu cukup membawa uang sendiri untuk ikut investasi denganku."


"Bagaimana? Syaratku yang menyulitkan seperti ini, apa kamu masih bersedia ikut denganku?"


Andre melihat ke arah Irwan.


Irwan menganggukkan kepala dengan kencang. Irwan tipe orang yang tidak akan berubah setelah mengambil keputusan.


Tidak peduli apa hasilnya ketika mengikuti Andre. Irwan akan berusaha keras dengan pilihannya!


Hal terburuk yang dapat terjadi, Irwan melamar kerja sebagai wakil manajer di salah satu hotel dan menghabiskan sisa hidupnya.


Kehidupan sudah seperti ini, jadi sudah tidak bisa mundur


lagi....


Andre angkat cangkir, lalu bersulang dengan Irwan. Terdengar suara nyaring dari cangkir yang bertabrakan, lalu mereka menghabiskan sisa kopinya.


Siapa pun tidak menyangka, seseorang yang kelak akan menjad penguasa bisnis terkaya dengan kekayaan triliunan di seluruh negeri dan rajanya para pekerja dengan nilai kekayaan miliaran, malah bekerja sama di sebuah warung kumuh sambil minum kopi dan makan kacang.


Setelah itu ....


Andre sedang berbaring di atas ranjang jeleknya di rumah susun. Andre berbalik badan, sementara terdengar suara kipas


angin yang berbunyi dengan berisik. Ponsel Nokia miliknya


juga terus berbunyi di atas meja.


Kemarin malam, tidak tahu Andre dan Irwan berbincang hingga jam berapa. Perbincangan sepanjang malam dan Andre belum bangun sampai sekarang.


Andre meraba ponsel di sampingnya.


"Halo?"

__ADS_1


Terdengar suara seorang pria dari telepon.


"Kak Andre, saya Evan. Sebelumnya kita sempat makan bersama di tempatnya Bastian. Apa Anda masih ingat saya?"


Terdengar suara Evan yang malu-malu. Hal ini cukup mengejutkan Andre. Dia adalah tuan muda dari Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Dahulu, sikap Evan tidak seperti ini kepada Andre.


"Pak Evan, tentu aku ingat. Kenapa hari ini ada waktu untuk meneleponku?"


Andre bangun dari ranjang sambil menguap, lalu memakai sendal dan pergi sikat gigi.


Rumah susun ini memang tidak terlalu leluasa. Kelihatannya setelah menghasilkan uang, Andre harus segera membeli rumah.


Lebih baik beli yang besar sekalian dan langsung beli sebuah vila.


Harga properti di Intrana sepuluh tahun yang akan datang, dalam kondisi meningkat dengan pesat dan cepat. Jadi, sekalipun lokasi rumah kurang bagus, lantainya kurang bagus, kualitas kurang bagus, tetapi tidak menunda naiknya hagar rumah itu.


Semuanya mengikuti kecenderungan seluruh situasi yang terjadi....


Terdengar suara Evan yang menghela napas panjang.


Dia sengaja meminta nomor Andre dari Bastian, bahkan karena hal ini Bastian sempat mengejek Evan.


Bisa dibilang, harga diri Evan benar-benar direndahkan.


Namun, masalah kali ini, kalau tidak diselesaikan. Penyokong terkuat Evan akan jatuh, masih ada berapa orang yang peduli akan posisinya sekarang?


Bukan hanya kata-kata saja jika orang bilang kehormatan seorang anak bergantung kepada ayahnya.


Setelah merenungkan untuk beberapa waktu dan berbincang dengan ayahnya, Amir, hampir sepanjang malam. Evan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Andre.


"Kak Andre, jangan mengejekku lagi. Sebelumnya kamu bilang ada solusi untuk Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Kalau boleh tahu, apa ya solusinya?"


Evan bertanya menyelidik.


Andre hanya tersenyum. "Pak Evan, minta gratisan bukan kebiasaan yang baik ya...."


"Tentu ada solusi bagi Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Bahkan, solusinya sangat mudah. Tidak masalah juga untuk memberitahukannya kepadamu. Jawabannya sangat mudah, kekurangan uang!"


Andre menguap singkat.

__ADS_1


Bibir Evan tersenyum sinis, bukankah ucapan Andre adalah omong kosong?


__ADS_2