Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 58


__ADS_3

Lima ratus tusuk sate, berarti Andre bisa mendapatkan keuntungan sebanyak sekitar satu juta empat ratus ribu setiap hari.


Keuntungan Andre dalam satu bulan sekitar empat puluh juta.


Andre bisa mendapatkan sekitar empat ratus juta dalam satu tahun!


Irwan sangat kaget. Sebagai manajer yang bertugas untuk mengurus Hotel Riverside, Irwan terlihat kaya. Namun, sesungguhnya, jika tidak ditambah dengan dividen dan bonus, gaji Irwan setiap tahun juga hanya sekitar empat ratus juta.


Gaji Irwan setara dengan penjual sate taichan!


Suasana hati Irwan menjadi campur aduk setelah menyadari hal ini ....


Ketika gerobak sate taichan Andre sedang dikelilingi oleh banyak orang, presdir Desain Selaras, Hendi, kebetulan mengemudi melewati tempat Andre berjualan.


Hendi memandang kerumunan di seberang. Ada banyak pegawai perusahaannya yang sedang berkerumun di sana.


Hendi melihat waktu, lalu berpikir, 'Sekarang adalah jam kerja, kenapa ada banyak orang yang berkerumun di sini?'


Hendi keluar dari mobil, lalu berjalan ke arah gerobak sate taichan sambil mengerutkan kening.


"Kalian sedang apa?"


"Sekarang adalah jam kerja, kenapa kalian nggak kerja dan malah antre di sini?"


"Kalian nggak mau gaji?"


Hendi mengerutkan kening. Kini, Desain Selaras sudah jauh berbeda dengan dulu.


Sejak Desain Selaras bekerja sama dengan Grup Kreasi Baru dari Kota Senna dan mendapatkan suntikan dana, nilai perusahaan Desain Selaras naik dua kali lipat!


Hendi merasa sangat gembira dan bangga atas kesuksesan Desain Selaras akhir-akhir ini. Hendi yakin perusahaannya pasti akan menjadi makin berjaya kelak.


Ditambah lagi Hendi menaikkan gaji seluruh pegawai Desain Selaras. Hal ini membuat Desain Selaras menjadi terkenal di Kota Surawa. Desain Selaras kemungkinan besar dapat memantapkan kedudukan sebagai perusahaan desain terbaik di Kota Surawa.


Jadi, para pegawai jelas sangat menghormati Hendi.


Kebanyakan pegawai Desain Selaras menghela napas setelah melihat Pak Hendi datang. Meskipun mereka sudah antre selama beberapa jam dan bisa mendapatkan sate taichan sebentar lagi, mereka hanya bisa menyerah dan memilih untuk datang membeli Sate Taichan Andre lebih awal besok.


Sekelompok orang pergi, lalu sekelompok orang yang lain berbondong-bondong melangkah maju. Andre agak terkejut saat melihat ini.


"Ada apa?"


"Kenapa ada begitu banyak orang yang nggak sabar menunggu dan langsung pergi?"


"Jangan buru-buru, masih ada lumayan banyak sate taichan di sini. Bersabarlah untuk antre, semua orang akan kebagian!"

__ADS_1


Andre terus membakar sate taichan, mengoleskan saus dan memasukkan sate ke dalam kantong.


Salah satu orang yang sedang mengantre menjawab, "Pak, Pak Hendi dari Desain Selaras mengemudi melewati sini tadi. Dia menyuruh pegawai Desain Selaras kembali bekerja, jadi banyak orang pergi...."


Andre menarik napas dalam-dalam. Hendi bisa dibilang sedang menghambat rezeki Andre.


"Mana Hendi? Dia sudah pergi?"


Andre melihat orang yang ada di belakang kerumunan. Hendi awalnya mau masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, setelah mendengar suara yang terdengar akrab ini, Hendi menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Pak, jangan sembarang bicara. Kamu nggak boleh menyinggung Pak Hendi. Kalau sampai dia tersinggung, dia hanya butuh membuka mulut dan takutnya kamu nggak bisa berjualan di sini lagi...."


"Bagaimanapun, kamu berjualan di depan Desain Selaras. Kalau dia nggak memperbolehkanmu berjualan di sini, apa yang bisa kamu lakukan?"


Andre tertawa.


Andre justru ingin bertanya apakah Hendi berani melarang dirinya berjualan di sini.


Semenjak Desain Selaras menandatangani kontrak dengan Grup Kreasi Baru, Andre sudah cukup lama tidak bertemu dengan Hendi.


"Pak Hendi adalah teman saya juga. Suruh dia datang ke sini. Dia nggak boleh mengusir orang yang mau membeli sate saya....


"Saya masih mau terus berjualan di sini!"


Orang-orang yang sedang mengantre mencemooh Andre.


"Pak, kamu benar-benar nggak tahu malu. Pak Hendi adalah bos terkenal di Kota Surawa. Kamu bilang dia adalah temanmu?"


"Takutnya kamu tahu siapa dia, tapi dia nggak tahu siapa kamu!"


Semua orang tertawa terbahak-bahak.


Andre juga ikut tertawa. "Hendi Susanto! Pak Hendi! Jangan buru-buru pergi, cepat datang ke sini ...."


Hendi akhirnya mendengar suara teriakan Andre.


Hendi menoleh. Begitu Hendi melihat Andre, Hendi segera menutup pintu mobil dan berlari kecil ke arah Andre.


Pakaian pria yang sedang membakar sate di belakang gerobak penuh dengan noda minyak. Hendi benar-benar tidak sadar bahwa pria itu adalah Andre!


Hal ini ada di luar dugaan Hendi ....


Dalam benak Hendi, orang hebat seperti Andre seharusnya sibuk menyusun strategi dan mengambil keputusan penting.


Ketika Andre punya waktu luang, Andre seharusnya pergi menikmati makanan lezat, jalan-jalan, atau bermain dengan binatang peliharaan.

__ADS_1


Tak disangka, orang sehebat Andre malah menjual makanan dengan gerobak di luar Desain Selaras!


Jangan-jangan ini adalah cara baru untuk menikmati hidup?


Apakah Andre tertarik pada industri kuliner pinggir jalan? Apakah Andre akan beraksi dan berinvestasi dalam industri ini?


Hendi berjalan maju sambil memikirkan hal ini. Ada banyak kemungkinan yang muncul di dalam benaknya. Seluruh pegawai di sekeliling membuka jalan untuk Pak Hendi.


Andre melambaikan tangan ke arah Hendi.


"Hendi, jangan melamun, ayo datang ke sini untuk membantuku membakar sate. Aku pergi buat saus dulu, saus ini sudah mau habis...."


Hendi mengambil beberapa tusuk sate taichan yang sedang Andre pegang. Saat Hendi menundukkan kepala, Hendi melihat Irwan menyerahkan sate taichan pada Andre.


"Pak Irwan...."


Hendi agak kaget.


Irwan tersenyum pahit. "Pak Hendi ...."


Hendi dan Irwan tersenyum setelah saling bertatapan. Hendi adalah presdir Desain Selaras yang memiliki aset sejumlah puluhan miliar. Irwan adalah manajer Hotel Riverside. Irwan punya banyak kenalan di Kota Surawa. Selain itu, Irwan adalah pegawai orang terkaya di Kota Surawa, Martin. Irwan sangat terkenal.


Bahkan Hendi dan Irwan pun tidak menduga hal ini.


Mereka berdua bukan bertemu di ruang rapat, hotel mewah, kafe, atau restoran, melainkan bertemu di gerobak sate taichan yang ada di persimpangan jalan.


"Pak, kamu benar-benar kenal dengan Pak Hendi!"


Banyak pegawai yang bekerja di sekitar dan sedang antre menunjukkan tatapan terkejut.


Bisa-bisanya seorang penjual sate taichan kenal dengan presdir Desain Selaras.


Ini bisa dibilang mustahil.


Andre yang sedang membuat saus sambil melayani pembeli melambaikan tangan.


"Pak Hendi adalah teman saya, saya sangat akrab dengannya...."


"Hendi, jangan suruh pegawai Desain Selaras kembali bekerja. Mereka sudah antre sangat lama. Cuaca siang ini sangat panas. Mereka akhirnya sudah mau mendapatkan giliran, tapi kamu malah menyuruh mereka pulang."


"Bukankah ini sama saja dengan sedang menghambat rezekiku?"


Andre beranjak berdiri, menuangkan saus yang sudah dia racik ke dalam ember, lalu mengambil sate taichan yang sedang Hendi pegang.


Hendi menghela napas dan menunjukkan ekspresi tidak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2