
Andre adalah ... menantu Ricky dan Linda!
Steven merasa kakinya menjadi lemas. Dia hampir terduduk di lantai. Steven bertumpu pada meja dan memaksakan diri untuk tetap berdiri.
Steven tersenyum ramah pada Andre.
Andre juga tersenyum pada Steven. Jantung Steven berdebar kencang.
Steven berpikir dalam hati, 'Untung Andre belum tahu apa yang ingin aku lakukan pada Jessy.'
Selain itu, Steven merasa bersyukur karena dirinya belum mulai beraksi!
Kalau tidak, Steven sudah bisa menduga apa yang akan terjadi pada dirinya!
Jangankan Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Steven tidak akan bisa tinggal di Kota Surawa lagi.
Sebelumnya, Ricky bercerita bahwa menantunya adalah pria yang malas dan tidak berguna. Menantunya hanya sibuk minum minuman keras dan main saham setiap hari. Uang menantunya habis karena gagal investasi. Bahkan rumah pun dijual.
Beberapa tahun ini, Jessy, suami Jessy dan anak Jessy tinggal di rumah susun.
Hidup mereka sangat mengenaskan....
Selain itu, Jessy sudah cerai beberapa saat yang lalu.
Jessy hidup sendiri dan mengasuh anak sendiri.
Untunglah Jessy masih punya sebuah rumah.
Selain itu, gaji Jessy setiap bulan 16 juta.
Steven awalnya mengincar kecantikan dan uang Jessy. Setelah itu, Steven berencana untuk mengatakan bahwa dirinya tidak cocok dengan Jessy. Steven akan menggunakan alasan ini untuk menolak Jessy dan Ricky.
Namun, kini, tak peduli Steven senekat apa pun, Steven tidak berani melirik Jessy lagi!
Steven bahkan merasa Ricky dan Linda bersekongkol untuk mencelakainya!
Ini benar-benar akan membuat dirinya celaka!
Steven terus membual tadi. Steven mengatakan bahwa dirinya akan menghubungi bos besar untuk membantu menyelesaikan urusan rumah Ricky dan Linda. Namun, Steven tidak menyangka bahwa bos besar yang dia maksud, yaitu Andre, sedang duduk di seberangnya sekarang! Andre adalah orang yang membeli Perumahan Larumnas dan Perumahan Kiwona. Andre tetap terlihat tenang setelah mengeluarkan uang puluhan miliar.
Bos besar ini adalah menantu Ricky dan Linda.
"Steven, kenapa kamu terlihat nggak nyaman?"
"Jangan takut, anggap saja ini rumahmu...."
"Jangan tegang."
Ricky bercanda. Dia sedang berusaha pura-pura bodoh.
Steven mengangguk dengan cemas. Steven tidak terlihat percaya diri seperti saat sedang membual tadi.
__ADS_1
"A... aku nggak apa-apa. Paman Ricky, i... ini siapa?"
Steven menatap Andre.
Ricky berpikir sejenak, lalu berkata sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, Steven, kamu nggak usah memedulikannya. Dia adalah kerabat jauh kami. Dia datang untuk menumpang makan. Kami sudah mengusirnya sejak tadi, tapi dia nggak mau pergi."
"Orang seperti dia sangat nggak tahu malu. Kamu bahkan boleh memarahinya secara terang-terangan. Kalau kamu nggak percaya, coba marahi dia sekarang. Dia malah akan tertawa."
Ricky memelototi Andre.
Steven buru-buru melambaikan tangan. Dia tidak berani memarahi Andre. Jangankan memarahi Andre, Steven bahkan ingin membuka pintu dan melarikan diri sekarang.
Duduk di meja yang sama dengan Andre membuat Steven merasa sangat tertekan.
Orang yang duduk di hadapannya sekarang sangat hebat. Orang ini bisa mengobrol dengan direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Amir. Selain itu, anak direktur Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Evan, sangat memuja orang ini.
Steven hanyalah seorang wakil manajer. Jangankan bergaul dengan Andre, bisa bertemu dengan Andre pun adalah kesempatan yang langka bagi Steven.
Bisa-bisanya Steven ingin merebut istri Andre sekarang.
Steven merasa dirinya sedang cari mati!
Andre tersenyum dan langsung mengekspos kebohongan Ricky tanpa ragu-ragu.
"Pak Steven, apa yang ayahku katakan memang benar.
Jangan sungkan-sungkan. Kamu berteman dengan istriku sejak kecil. Selain itu, kalian pernah satu sekolah. Anggap saja tempat ini adalah rumahmu. Ayo makan."
Steven mengangguk, lalu mengambil sepotong daging ayam dengan sendoknya. Steven terlihat cemas.
Ricky mengerutkan kening dan memandang Andre. Ricky sangat emosi!
"Andre, apa maksudmu?"
"Jangan bersikap seperti ini!"
"Kamu tahu nggak? Steven adalah pejabat Perusahaan Listrik Provinsi Damur, juga adalah atasanku. Kamu mana boleh bersikap seperti ini saat berbicara dengannya?"
"Kamu bahkan memerintahnya untuk makan?"
Andre merasa sedikit tidak berdaya. Begitu Andre keluar, Andre langsung mengenali Steven. Orang ini mengikuti dirinya dan Evan hari ini. Selain itu, orang ini bersikap sangat sopan dan memberinya selembar kartu nama.
Jika Andre tidak mengatakan apa-apa, Steven akan terus melamun dan tidak berani makan.
"Ayah, kamu salah paham, aku hanya ingin menyuruh Pak Steven makan, aku nggak punya maksud lain ...."
"Pak Steven, menurutmu, apa aku mengancammu?"
Andre tersenyum pada Steven. Steven tersentak dan langsung meneteskan keringat dingin. Steven buru-buru melambaikan tangan dan menggelengkan kepala.
"Nggak, nggak!"
__ADS_1
"Pak Andre sedang menyemangati dan menggiatkan saya. Saya merasa sangat bangga karena bisa makan bersama Pak Andre hari ini. Paman Ricky, Tante Linda, kalian jangan berpikir yang nggak-nggak."
"Saya akan makan, saya akan makan sekarang juga...."
Steven menundukkan kepala, mana ada sikap seorang manajer. Sikapnya persis seperti seorang junior.
Dia duduk di sini sambil memegang sendok, lalu menyuapkan lauk dan nasi secara bergantian dalam diam, serta hanya fokus kepada makanannya.
Ricky dan Linda saling memandang. Mereka merasa Steven agak tidak beres. Mengapa rasanya semenjak Andre keluar dari dalam ruangan, sikap Steven tampak seperti tikus yang ketakutan saat bertemu kucing?
Mereka sekeluarga makan semeja dan rasanya aneh sekali.
"Pak Steven, jangan makan nasi saja, ayo tambah lauknya"
Sapa Andre kepada Steven.
Steven menganggukkan kepala, lalu segera melahap beberapa lauk hingga kekenyangan dan tidak bisa makan lagi.
Makan malam selesai dalam waktu setengah jam.
Semua orang di meja makan hening tanpa suara. Tidak peduli apa pun yang Ricky katakan, Steven hanya mengiakan dengan terbata-bata, tetapi tidak menjawab.
Steven benar-benar tidak tahu harus bicara apa di depan Andre.
Ricky dan Linda, sepasang suami istri ini, apa mereka sengaja menjebak Steven?
Seandainya Steven salah bicara, lalu membuat Andre membencinya. Jangan harap Steven bisa punya masa depan lagi di Kota Surawa.
Andre tetap makan, dia juga diam saja.
Steven ini memang karakternya kurang baik, tetapi dia orang yang cerdas juga.
Setelah makan dua piring nasi, Steven meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian, duduk tegak di meja makan, bahkan dia hanya berani duduk setengahnya kursi.
"Pak Steven, apa sudah selesai makan?"
Andre meletakkan sendok dan garpu, lalu melihat ke arah Steven.
Steven menganggukkan kepala. "Iya, Pak Andre, aku
sudah selesai makan."
Andre hanya tersenyum.
"Kalau sudah selesai makan, cepatlah pulang. Hari sudah larut, kendaraan di jalan sudah sepi. Nggak aman."
Andre melambaikan tangannya.
Steven segera bangkit dan berkata, "Pak Andre, terima kasih atas perhatiannya. Paman Ricky, Tante Linda, aku pamit dulu."
Ricky juga ikut berdiri karena ingin menahan Steven.
__ADS_1