
Evan mengepalkan tangan dengan kuat. Dilema di dalam hatinya membuatnya sangat sengsara.
Evan ingin menjaga harga diri, tapi dia juga memedulikan masa depan ayahnya. Bahkan Evan pun kurang paham tentang masalah yang sedang Perusahaan Listrik Provinsi Damur hadapi.
Perusahaan Listrik Provinsi Damur berusaha mati-matian untuk menyembunyikan masalah ini!
Namun, Andre tahu tentang masalah ini. Selain itu, Andre terdengar yakin. Hal ini menunjukkan bahwa Andre pasti mengetahui sesuatu yang tidak Evan ketahui.....
Jika informasi yang Andre ketahui berguna, Evan dapat membantu ayahnya. Bagi Evan, ayahnya lebih penting daripada harga diri. Bagaimanapun, orang-orang menghormati Evan karena ayahnya.
Selama ayahnya masih berjaya, Evan akan dihormati orang-orang. Akan tetapi, jika ayahnya tidak berjaya lagi, orang-orang tidak akan menghormati Evan!
"Tunggu sebentar!"
Evan keluar dari private room untuk menghentikan Andre.
Andre berhenti berjalan. Bastian yang ada di samping Andre masih tampak marah.
"Ayo pergi, Kak Andre! Kita nggak usah menghiraukan
orang itu! Apa-apaan!"
"Biarkan dia terlibat dalam masalah! Tunggu ayahnya lengser, dia pasti nggak berani sombong lagi. Nggak ada yang bisa dia banggakan kelak!"
Bastian terus berjalan maju, tapi Andre menarik Bastian.
Berhubung Evan sudah terpancing, Andre tidak akan berjalan maju lagi. Sangat sulit bagi seorang pemuda untuk melepaskan harga diri. Tampaknya Amir benar-benar sedang berada dalam kesulitan.
"Bastian, berhubung Tuan William menyuruh kita datang menemui Evan, pasti ada makna di balik ini. Nggak baik kalau kita pergi begitu saja. Ayo, berhubung Pak Evan keluar untuk menghentikan kita, mari kembali lagi dan berbicara baik-baik dengannya."
Andre tersenyum.
Bastian yang sedang marah menjadi bingung. Andre tampak sangat emosi tadi, tapi Andre malah memasang ekspresi ceria dan ingin menemui Evan sekarang.
Kenapa Andre mendadak berubah sikap?
"Pak Evan, kamu sudah memikirkan hal ini baik-baik?"
Evan tertegun saat melihat senyuman Andre. Evan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Menurut Evan, dirinya ditipu oleh Andre.
__ADS_1
Namun, Evan tidak punya pilihan lain dan hanya bisa membiarkan Andre menipunya....
"Katakanlah, apa yang kamu ketahui?"
Meskipun Evan menghentikan Andre, Evan tetap tidak percaya pada Andre.
Andre tersenyum. "Masalah yang sedang Perusahaan Listrik Provinsi Damur hadapi mulai di tiga tahun yang lalu. Ayahmu, Amir, baru menjadi direktur saat itu. Dia menyadari bahwa Perusahaan Listrik Provinsi Damur memalsukan laporan keuangan. Ada banyak piutang yang nggak bisa ditagih. Saat itu, dia hanya punya dua pilihan!"
"Solusi pertama adalah mengekspos skandal ini. Konsekuensinya adalah Perusahaan Listrik Provinsi Damur yang sedang nggak stabil saat itu akan bangkrut."
"Solusi kedua adalah mempertahankan kejayaan palsu, serta pura-pura nggak tahu tentang hal ini selama mungkin!"
"Amir jelas memilih solusi kedua...."
"Harga saham Perusahaan Listrik Provinsi Damur naik terus. Tak lama kemudian, aset perusahaan ini ada di atas empat triliun. Seiring dengan berlalunya waktu, jumlah aset perusahaan ini makin mendekati jumlah aset yang dimiliki sekarang, yaitu enam triliun."
"Kalaupun ayahmu pura-pura nggak tahu tentang masalah ini, suatu masalah yang nggak diselesaikan malah menjadi makin parah. Akibat pemalsuan laporan keuangan, selisih antara nominal yang dilaporkan dan nominal yang sesungguhnya dimiliki perusahaan menjadi makin besar. Ada banyak piutang yang tetap nggak bisa ditagih setelah bertahun-tahun. Makin lama makin sulit untuk menutupi kebohongan ini...."
"Ayahmu bahkan menggunakan gaji pegawai Perusahaan
Listrik Provinsi Damur!"
"Kamu ingin tahu lebih jelas?"
Andre tertawa dingin dan tidak berbicara lagi. Wajah Evan menjadi pucat. Evan merasa kedinginan. Teman-teman Evan yang ada di belakang Evan menelan ludah. Mereka tidak menyangka Andre akan menjelaskan hal ini secara begitu mendetail.
Mereka hanya mendengar bahwa keluarga Evan sedang berada dalam masalah akhir-akhir ini....
Namun, tidak ada yang menduga bahwa masalah yang sedang keluarga Evan hadapi separah ini!
"Ka... kamu benar-benar bisa membantu ayahku?"
Evan tidak berani bersikap tidak sopan pada Andre lagi. Volume suara Evan menjadi lebih kecil.
Bastian tertawa dingin. "Evan, temanku adalah orang yang memalukan. Orang hebat sepertimu merasa dia sangat nggak berguna. Apa kamu tahu mengapa aku datang ke sini hari ini?"
Bastian akhirnya bisa melampiaskan kekesalannya sekarang. Bastian meletakkan kedua tangannya di belakang punggung dan menatap Evan.
Evan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Bagaimana proses pelaksanaan pembongkaran rumah di Jalan Kumar sekarang? Aku rasa kamu lebih tahu tentang hal ini daripada aku...."
"Kak Andre menginvestasikan enam puluh miliar untuk membeli seratus lima puluh rumah di Jalan Kumar. Menurutmu apa masalah ayahmu adalah masalah besar bagi Kak Andre?"
Evan sangat kaget setelah mendengar ini. Sekujur tubuh Evan gemetar.
Rumah di Jalan Kumar baru akan mulai dibongkar. Hal ini diajukan di pertemuan rutin dengan pemerintah kota. Kebetulan pemerintah kota mendapatkan dana khusus
untuk memperbarui jalanan seperti Jalan Kumar.
Pada dasarnya ada banyak tempat yang harus diperbarui di Kota Surawa, termasuk asrama polisi juga butuh direnovasi.
Namun, tak disangka, masalah yang terjadi saat gempa sebelumnya menarik perhatian pemerintah pusat. Beberapa rumah di Jalan Kumar roboh. Tempat itu berbahaya. Pemerintah pusat mengatakan bahwa masalah di Jalan Kumar harus diselesaikan.
Jadi, rumah di Jalan Kumar pasti akan dibongkar.
Namun, Evan baru mengetahui hal ini hari ini. Walaupun Evan ingin pergi membeli rumah sekarang, sudah tidak sempat lagi.
Bisa-bisanya Andre mengetahui hal ini terlebih dahulu. Evan berpikir, 'Berani-beraninya aku memarahi orang yang tahu rumah di Jalan Kumar akan dibongkar tadi! Aku menyebutnya sebagai orang yang memalukan dan teman Bastian yang tidak berkualitas!"
"Jalan Kumar? Rumah di sana mana mungkin dibongkar? Jangan berkhayal...."
"Lima tahun kemudian, rumah di sana mungkin akan roboh atau dijual dengan harga rendah. Belum terlambat untuk membongkar rumah di sana pada saat itu."
"Benar. Tempat itu adalah wilayah kumuh. Ada banyak bangunan ilegal dan rumah bedeng. Selain itu, sering terjadi kebakaran di sana...."
Orang-orang yang ada di belakang Evan ingin menjilat Evan. Jadi, mereka meremehkan investasi Andre.
Kebanyakan dari mereka adalah orang Kota Surawa. Mereka tidak asing dengan Jalan Kumar.
Pada dua puluh tahun yang lalu, Jalan Kumar adalah wilayah mewah. Namun, Jalan Kumar bisa dibilang adalah wilayah kumuh sekarang.
Kebanyakan orang yang tinggal di sana adalah tenaga kerja asing dan orang lanjut usia. Jalan di sana juga sangat jelek.
Siapa yang mau membeli rumah di tempat seperti itu? Apalagi langsung menginvestasikan enam puluh miliar dan membeli seratus lima puluh rumah!
Ini sangat tidak masuk akal!
Orang-orang ini mendengus.
__ADS_1
Hanya Evan yang diam saja dan tampak serius. "Proyek pengembangan Jalan Kumar sudah diajukan. Aku nggak tahu kenapa kalian bisa tahu tentang hal ini, tapi berita ini seharusnya akan tersebar pada malam ini...."
"Harga rumah di Jalan Kumar setidaknya akan naik dua kali lipat...."