
Entah dari mana munculnya orang itu, tetapi dia berani mempertanyakan soal kemampuan Timmy dalam proyek investasi.
Apalagi Grup Wenbrokes tidak akan terkena masalah dalam waktu singkat. Timmy menggunakan uang perusahaan untuk menghasilkan lebih banyak uang dan bisa menghasilkan uang untuk dirinya sendiri. Mengapa tidak melakukan hal yang sama-sama menguntungkan seperti itu, 'kan?
Melihat Timmy yang tampak penuh keyakinan, kecurigaan Amir juga ikut mereda.
Amir menganggukkan kepala. "Baiklah, kalau begitu sudah tidak ada masalah. Lanjutkanlah pekerjaanmu."
"Cepat periksa masalah Grup Wenbrokes dengan jelas, jangan sampai terjadi sesuatu. Sekarang Perusahaan Listrik Provinsi Damur sedang berada dalam kondisi kritis. Aku tidak berharap terjadi masalah apa pun!"
Ujar Amir, lalu Timmy menganggukkan kepala dan berjalan keluar dari kantor.
Sementara itu, di dalam ruang keamanan Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
Andre dibawa ke ruang keamanan oleh Yono yang membawa pentungan, lalu dia diusir dengan pentungan tersebut.
Tempat sialan ini, datang sekali saja susahnya luar biasa. Kelak jika tidak diajak kemari oleh Evan, Andre pasti tidak mau kemari seorang diri.
Namun, kedatangan Andre hari ini bisa dianggap sia-sia.
Andre harus mulai menyusun rencana, begitu Perusahaan Listrik Provinsi Damur terekspos, takutnya diri Andre akan ikut terkena masalah juga.
Sepertinya Andre harus mencari cara untuk menghasilkan uang.
Andre berjongkok di depan pintu gerbang Perusahaan Listrik Provinsi Damur sambil merokok..
Sekarang di tangan Andre ada uang pinjaman sejumlah 280 miliar rupiah. Dia telah menghabiskan 60 miliar untuk membeli rumah dari spekulan properti di Provinsi Heratu. Kemudian, menghabiskan 60 miliar untuk membeli Perumahan Larumnas dan menghabiskan 60 miliar lagi untuk membeli Perumahan Kiwona. Selain itu, masih ada 20 miliar untuk membeli 50 rumah di Jalan Kumar.
Pinjaman sejumlah 280 miliar rupiah, ditambah lagi dengan uang 20 miliar yang Martin berikan. Jadi, sisanya 100 miliar.
Uang sejumlah 100 miliar kelihatannya banyak, tetapi pinjaman Andre di bank dan ditambah dengan bunganya telah mencapai 300 miliar!
Perjalanannya masih jauh dari keberhasilan!
"Dasar bocah sialan, kalau mau merokok, pergi yang jauh!"
"Aku beri tahu ya, kalau aku masih melihatmu muncul di sekitar taman ini, kamu pasti akan celaka!"
Ricky menunjuk Andre yang berada di luar pintu gerbang. Kemudian, melempar sebutir batu. Andre segera berdiri dan batu kebetulan mendarat di tempat Andre duduk tadi.
__ADS_1
Ricky benar-benar melemparnya dengan maksud untuk mencelakai Andre!
Andre cepat-cepat menghabiskan rokoknya, lalu berbalik meninggalkan area Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Jika tidak berani mencari masalah, Andre masih bisa menghindar!
Ricky telah menahan emosi dalam hatinya!
Biasanya Andre hanya minum-minum, main saham, dan tidak pulang, serta bersikap buruk kepada Jessy dan Feli.
Namun, sekarang?
Bisa-bisanya Andre ikut pulang untuk menumpang makan dan bolak-balik ke tempat kerja Ricky sebanyak beberapa kali untuk mengganggu pekerjaannya!
Kali ini jauh lebih keterlaluan, Andre malah langsung mencari masalah di depan Pak Amir. Seandainya Pak Amir sampai membencinya, maka Ricky yang akan celaka!
Takutnya Ricky akan kehilangan pekerjaan lebih cepat!
Pensiun lebih cepat, lalu ditambah dengan pemecatan. Hal ini bukan masalah kecil!
Ricky melihat kepergian Andre, lalu berbalik masuk ke gedung Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
Gedung di daerah timur lantai tiga baris kedua adalah kantor tempat Ricky bekerja. Masih ada tiga sampai empat orang staf teknis yang sekantor dengan Ricky.
Ada dua orang pekerja tua di antara mereka, tetapi lebih telat masuk 10 tahun dibandingkan Ricky. Mereka termasuk masih muda, bahkan anak mereka masih bersekolah.
Mereka semua punya hasrat, tetapi berwawasan sempit. Mereka meremehkan gaji yang kecil, tetapi merasa bahwa pekerjaan ini sangat stabil. Mereka malas dan juga serakah, tidak mau belajar, bahkan malas bergerak.
Setelah bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur, pekerjaan teknis yang mereka pelajari tidak banyak, tetapi kebiasaan bermalas-malasan malah mereka pelajari dengan baik.
Ricky duduk di meja kerjanya sambil minum teh, lalu menghela napas panjang.
Semenjak mulai bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur hingga kini telah bekerja selama 40 tahun.
Selama 40 tahun, Ricky selalu bekerja dengan hati-hati karena takut menyinggung orang lain. Entah sudah berapa banyak Presdir yang telah berganti selama dia bekerja di sini. Ricky sejak 15 tahun yang lalu telah menempati posisi ketua tim.
Padahal sudah 15 tahun berlalu, tetapi dia tidak juga berpindah dari posisinya.
Sebaliknya, para anak muda, seperti Steven yang baru kembali, malah sudah menduduki jabatan wakil manajer. Mereka bekerja sebagai atasannya. Bahkan, Ricky juga harus bersikap hormat saat bertemu dengan mereka.
Ah, sialan sekali dunia ini!
__ADS_1
Namun, Ricky juga tidak bisa mengeluh. Sekalipun Ricky telah berusaha keras, tetap tidak ada gunanya karena pihak atasan tidak menyukainya dan para bawahannya tidak berguna.
Apalagi ditambah dengan latar belakang Ricky yang hanya orang biasa dan tanpa dukungan. Untuk apa orang lain mendukungnya?
Ricky juga sudah tidak muda lagi, 'kan?
Ricky yang merasa kecewa mengambil koran, minum teh, lalu bersandar di kursi kerjanya.
"Ricky, kenapa kamu sudah kembali?"
Seorang manajer yang lewat di pintu depan melihat Ricky.
Ricky meletakkan korannya. "Ada apa, Pak Lorey?"
Pak Lorey melirik ke arah Ricky sambil tersenyum. "Pak Amir barusan menyuruhku untuk memanggilmu. Aku kira kamu di luar. Lalu, aku kembali dan melihat kamu sudah ada di ruanganmu."
"Pak Amir sedang berada di ruang rapat. Kamu ke sana dulu."
Ricky tertegun sejenak. Ekspresinya menjadi agak suram.
Jangan-jangan direktur tersinggung padanya gara-gara Andre sialan itu?
Gawat. Ini benar-benar gawat. Kehilangan pekerjaan adalah masalah kecil. Jika dirinya dipecat, masa tuanya akan menjadi mengkhawatirkan!
Ricky bekerja keras di Perusahaan Listrik Provinsi Damur selama puluhan tahun, ternyata kariernya berakhir seperti ini!
Ricky menjadi cemberut. Dia membanting koran ke atas meja dan berjalan ke arah ruang rapat dengan marah.
Tidak peduli apa pun konsekuensinya, Ricky akan menerima nasib!
Namun, Ricky akan mengingat bahwa semua ini disebabkan oleh ulah Andre!
Mulai dari sekarang, tidak peduli Ricky pergi ke mana pun, asalkan Ricky bertemu dengan Andre, Ricky akan membawa sebuah pisau dapur dan menyerang Andre dengan pisau itu!
Dasar bajingan!
Ricky keluar dari area kantor sambil menggertakkan gigi.
Pak Lorey agak bingung. Kenapa Ricky begitu marah di saat tidak terjadi apa-apa? Saat direktur menyuruh Ricky pergi mencarinya, direktur berbicara sambil tersenyum.
__ADS_1
Kenapa Ricky terlihat seperti mau pergi mengorbankan nyawa?
Dasar orang gila....