
Orang yang ingin membeli rumah-rumah ini harus punya uang tunai sejumlah 60 miliar. Takutnya bahkan orang tekaya di Kota Surawa, Martin, pun akan kesulitan untuk mengeluarkan uang sebanyak ini.
Jadi, menurut Steven, orang yang ada di hadapannya pasti sangat berkuasa!
Selain berkuasa, orang ini juga sangat kaya!
Pekerjaan di Perusahaan Listrik Provinsi Damur hanya bisa memberi Steven reputasi yang bagus. Namun, jumlah uang yang Steven dapatkan tidak banyak.
Jika Steven ingin menjadi kaya, Steven harus mendekati para bos besar.
"Usia Pak Andre sepertinya hampir sama dengan saya. Pak Andre sudah bisa menjadi investor terkenal di Kota Surawa. Saya merasa sangat kagum."
"Pak Andre, saya selalu mengagumi orang yang hebat sejak kecil. Dulu, saya merasa Pak Evan sudah sangat hebat. Dia berprestasi pada usia muda. Setelah bertemu dengan Pak Andre, saya baru sadar bahwa masih ada orang yang lebih hebat lagi."
Steven menghela napas.
Sudut mulut Evan berkedut. Evan merasa orang ini lebih pandai menjilat daripada dirinya.
Hanya Andre yang tersenyum tipis. "Pak Steven terlalu menyanjungku. Jumlah uang yang seseorang miliki nggak penting, yang penting adalah harus menjadi orang yang baik hati. Jangan banyak memikirkan yang nggak-nggak."
Steven baru berusia dua puluhan tahun. Begitu Steven berbicara, Andre langsung bisa mengetahui isi hati bocah ini.
Sayangnya, bagi Andre, orang yang suka menjilat orang berkuasa seperti Steven sangat tidak berguna. Mungkin Steven mendapatkan banyak kemudahan di Perusahaan Listrik Provinsi Damur.
Namun, begitu Steven keluar dari Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Andre yakin cara seperti ini pasti tidak berguna.
Evan mengerutkan kening. "Steven, nggak usah bahas hal lain, lanjut bahas tentang rumah...."
"Harga pasaran setiap rumah 300 juta. Kalau orang yang mau beli adalah Kak Andre, pasti nggak boleh menggunakan harga ini. Dia membeli begitu banyak rumah sekaligus, dia bisa dibilang telah membantu Perusahaan Listrik Provinsi Damur melewati krisis keuangan."
"Selain dua perumahan ini, apa masih ada properti di tempat lain ...."
Steven menjadi pusing setelah mendengar apa yang Evan
katakan.
Steven tidak memahami apa yang sedang terjadi. Steven memang ingin menjilat Andre. Steven ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan banyak keuntungan. Namun, Steven tidak bersikap seperti Evan. Evan lebih mementingkan keuntungan Andre!
__ADS_1
"Selain Perumahan Larumnas dan Perumahan Kiwona, sisanya adalah 50 rumah di Jalan Kumar. Perusahaan Listrik Provinsi Damur baru membeli 50 rumah ini di dua bulan terakhir. Kebanyakan rumah ada di lantai 17 dan lantai 18 Apartemen Sintora."
"Rumah di sana lebih mahal. Harga setiap rumah 340 juta. Kalau Pak Andre mau beli, harga setiap rumah setidaknya 400 juta."
"Akan tetapi, harga totalnya murah, hanya 20 miliar."
Andre menghitung harga saat Steven berbicara. Andre telah menghabiskan 60 miliar untuk membeli rumah milik spekulan properti di Provinsi Heratu. Selanjutnya, harga rumah di Perumahan Kiwona 60 miliar. Harga rumah di Perumahan Larumnas juga 60 miliar. Totalnya 180 miliar. Ditambah dengan 50 rumah milik Perusahaan Listrik Provinsi Damur di Jalan Kumar, totalnya menjadi 200 miliar.
Harga ini bisa diterima. Jika dikurangi dengan diskon dari Evan dan Amir, Andre bisa hemat sekitar 20 miliar.
Andre membelakangi pintu dan memandang peta yang ada di hadapannya.
Steven yang ada di belakang Andre melirik ke arah pintu. Dia menyadari bahwa Ricky ada di luar. Ricky sedang melambaikan tangan ke arah Steven.
"Steven, Steven...."
Steven mengerutkan kening dan merasa agak marah. Dia sudah memberi tahu Ricky bahwa dia sedang sibuk, tapi Ricky malah datang ke sini untuk mencarinya. Ricky benar-benar menjijikkan!
Kalau bukan karena Steven menyukai anak Ricky, Jessy, Steven tidak akan berinisiatif untuk menghubungi Ricky!
Nada bicara Steven terdengar marah.
Ricky menepuk paha dan berkata, "Steven, jangan marah. Istriku menyuruhku bertanya padamu, apa kamu mau makan ikan?"
Steven nyaris muntah darah saking kesalnya.
Apa-apaan ini!
Makan ikan? Sialan, makan ikan apanya!
Sekarang ini, di dalam ruangan tengah duduk putra dari Presdir Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Sementara, satu orang yang lainnya adalah investor terkenal dari Kota Surawa. Investor ini tipe orang yang cukup menggerakkan tangannya dan dapat mengeluarkan uang ratusan miliar!
Namun, saat kondisi krusial yang dapat memengaruhi hidupnya!
Ricky malah datang dan menanyakan Steven, apa mau makan ikan?
"Boleh, makan apa saja boleh. Jangan tanya aku lagi. Pergi dulu sana!"
__ADS_1
Steven mendorong Ricky keluar.
Ricky melirik sekilas ke arah ruang rapat. Salah satunya adalah Evan, putra tunggal dari Amir yang merupakan Presdir Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Evan adalah keturunan keluarga kaya yang sudah hidup mewah sejak kecil, dia juga sering datang ke area bisnis, jadi Ricky mengenalinya.
Sementara Ricky hanya samar-samar melihat salah satu sosok yang lainnya. Siapa orang itu?
Ricky mengernyitkan alis, kenapa dia merasa orang ini mirip dengan Andre?
Namun, Andre si pecundang itu tidak mengerti apa pun dan hanya bisa malas-malasan, serta bergaul dengan preman. Bagaimana mungkin bisa datang ke Perusahaan Listrik Provinsi Damur dan ditemani oleh putra tunggal Presdir? Bahkan, Steven, sang wakil manager, sekarang hanya bisa jadi pengikut mereka.
Ricky pasti terlalu banyak berpikir. Jika hal itu benar-benar terjadi pasti hanya dalam mimpi!
Steven berjalan kembali ke ruang rapat. Evan meliriknya sekilas dan sangat tidak puas dengan sikap Steven.
Wakil manajer ini malah menyombongkan diri. Padahal dia yang membutuhkan Andre, tetapi kenapa malah mendahulukan bawahannya?
Evan sudah salah langkah, kelak tidak boleh memanggil Steven lagi.
Andre melipat tangannya, lalu mengambil keputusan.
"Perumahan Kiwona dan Perumahan Larumnas, aku mau semuanya. Oh ya, lima puluh unit rumah di Jalan Kumar. Aku juga mau semuanya."
"Pak Evans, kamu dapat meminta Pak Amir untuk menyiapkan kontra. Aku akan mengutus orang untuk menandatangani kontraknya."
Perintah Andre sambil menatap Evans. Transaksi kali ini pasti akan untung.
Andre tahu betul setelah relokasi Jalan Kumar maka Perumahan Kiwona dan Perumahan Larumnas juga akan menerima pemberitahuan soal relokasi.
Jika sekarang membelinya pasti tidak akan rugi.
Satu-satunya hal yang membuat Andre sakit kepala, mungkin karyawan lama Perusahaan Listrik Provinsi Damur yang tinggal di Perumahan Kiwona dan Perumahan Larumnas akan terkena masalah.
Semua properti di sana atas nama Perusahaan Listrik Provinsi Damur, tetapi hak peggunanya berada di tangan para pekerja lama.
Beberapa dari para pekerja lama ada yang sudah meninggal, ada yang sudah pensiun, dan ada yang masih
bekerja di Perusahaan Listrik Provinsi Damur seperti Ricky sekarang.
__ADS_1