
"Apalagi belum ada kepastian masalah Jalan Kumar akan direlokasi atau nggak. Waktu dua bulan juga belum sampai. Kita membatalkan pertaruhan secara sepihak, bukankah sedikit keterlaluan?"
Irwan melihat ke arah Martin.
Martin mengernyitkan alis dengan sepasang mata yang memerah. Kemudian, menggebrak meja.
"Irwan, kamu bicara dengan siapa?"
Terdengar suara dentuman yang kencang, lalu tangan Martin bergetar dan kemerahan. Keheningan di dalam ruang kantor terasa mengerikan.
"Kamu adalah karyawan Grup Suhandi. Kamu adalah manajer umum di Hotel Riverside. Aku yang secara perlahan mengangkatmu hingga ke posisi saat ini!"
"Apa kamu sekarang mau melawanku hanya demi Andre?"
Martin melihat lurus ke arah Irwan.
Irwan menghirup napas panjang. "Pak Martin ... Pak Andre pernah menyelamatkan nyawaku...."
"Saya nggak bisa membalas jasanya karena telah menyelamatkan nyawa saya. Saya juga nggak bisa menuruti keputusan perusahaan. Kalau Anda nggak puas dengan sikap saya, Anda bisa memecat saya."
"Menjadi manusia harus bisa balas budi. Jasa Anda sangat besar bagi saya dan saya juga nggak bisa membalasnya. Tapi, Pak Andre juga sama...."
"Saya, Irwan, seumur hidup ini nggak pernah melakukan tindakan yang luar biasa, selain menjadi karyawan Pak Martin. Saya telah menjadi asisten Anda selama 5 tahun. Saya menganggap Anda sebagai seorang senior. Anda yang dulu, selalu menepati ucapan Anda dan setia kawan. Saya kagum kepada Anda dan bersedia bekerja di samping Anda."
"Tapi, sekarang...."
"Kak Martin, kamu sudah berubah. Beberapa pemegang saham di jajaran komisaris, apa mereka benar-benar bisa menggoyahkan keputusanmu?"
"Ataukah saran mereka cocok dengan apa yang kamu pikirkan!"
Suara Irwan makin lama, makin emosional.
Martin mengepalkan jari tangannya sambil mengernyitkan alis dan menggertakkan gigi dengan kesal.
"Sudah cukup!"
"Pergilah ...."
"Kamu nggak berutang apa pun kepadaku. Kamu sudah membayar jasa-jasaku selama bekerja selama bertahun-tahun di Grup Suhandi. Balas budi atas pertemuan dapat dibayar dalam sepuluh tahun."
"Karena kamu berutang nyawa kepada Andre, kamu carilah dia...."
"Aku telah berusaha mendapatkan 20 miliar dari tangan para komisaris. Kamu berikan kepadanya juga. Kelak aku mungkin nggak akan bertemu dengan Andre lagi."
__ADS_1
"Andre adalah seorang investor yang cerdas, tetapi dia bukan pebisnis yang berkualitas."
"Aku lebih memilih melihat bisnisku dapat berjalan dengan stabil dibandingkan keuntungan yang lebih besar
"Ucapanmu memang benar. Aku sudah berubah, 20 tahun yang lalu, aku nggak punya apa pun. Sekalipun gagal, aku juga nggak takut mulai dari awal lagi."
"Tapi, sekarang berbeda. Ada ribuan karyawan yang bekerja di Grup Suhandi. Mereka mewakili ribuan keluarga. Kalau Grup Suhandi bangkrut, apa yang harus mereka lakukan?"
"Aku memang bersalah pada Andre, tapi aku nggak bersalah pada Grup Suhandi."
Martin selesai bicara, lalu Irwan berbalik dan keluar dari ruangan Martin.
Setelah nyaris mati, Irwan sudah berpandangan terbuka mengenai banyak hal. Kini, Martin ataupun Grup Suhandi adalah kegembiraan sesaat saja.
Irwan mulai mempertimbangkan, setengah dari hidupnya akan digunakan untuk apa....
Irwan adalah manajer umum di Hotel Riverside. Namun, selama bertahun-tahun Irwan bagaikan boneka yang didorong ke depan umum oleh Martin.
Irwan baru mengikuti Andre selama satu bulan dan dia telah mengetahui betapa ajaibnya Andre.
Bukan hanya mengenai relokasi di Jalan Kumar. Namun, sikap Andre menghadapi kehidupan. Selama Irwan menjadi manajer umum di Hotel Riverside, pebisnis yang Irwan temui sudah mencapai ribuan orang.
Namun, mereka semua tidak memiliki sikap tenang dan kesabaran, serta kepercayaan diri dalam memprediksi sesuatu seperti Andre.
ingin mengambil untung sebesar mungkin.
Yakin dengan akhir suatu rencana, lalu berani membuat keputusan itu namanya energi keberanian!
Energi keberanian semacam ini tidak dimiliki oleh Martin. Bahkan, seluruh pebisnis di Kota Surawa juga tidak memilikinya!
Irwan tidak tahu tindakannya benar atau salah, dia juga tidak tahu masa depan akan seperti apa.
Namun, Irwan hanya tidak ingin tetap hidup seperti ini. Dia tidak ingin tetap bekerja di Hotel Riverside dan menyia-nyiakan sisa hidupnya.....
Irwan ingin melihat-lihat keluar dan mencari pengalaman. Melihat-lihat Provinsi Damur, melihat-lihat dunia bisnis di kawasan selatan dan kawasan utara. Bahkan, ingin keluar dari Negara Intrana.
Kemampuan Irwan terbatas, pada akhirnya tidak mampu menerobos berbagai hambatan.
Namun, Irwan percaya pada Andre pasti mampu melakukannya. Entah kenapa, ini semacam kepercayaan yang buta dan tidak berdasar.
Menurut Irwan, kelahiran Andre memang seharusnya berada di puncak kejayaan bisnis!
Suatu toko sate di bawah rumah susun.
__ADS_1
Andre memesan satu porsi kacang dengan dua gelas kopi. Dia mengenakan sandal jepit dan celana pendek, lalu minum dengan Irwan yang berada di seberangnya.
"Apa Martin yang menyuruhmu memberikan 20 miliar ini untukku?"
Andre bersendawa.
Irwan menganggukkan kepala. "Pak Andre, maaf ya. Keuntungan 110 miliar telah diambil oleh Grup Suhandi dan sekarang hanya sisa 20 miliar."
"Awalnya dewan komisaris hanya ingin memberikan 10 miliar untuk Anda. Pak Martin yang berusaha dan memberikan Anda lebih 10 miliar."
Andre tertawa singkat. Awalnya Andre masih berniat menggunakan 160 miliar untuk melakukan hal yang lebih besar. Andre ingin mengambil alih properti dari tangan spekulan asal kawasan pesisir yang datang ke Kota Surawa.
Hasilnya, Andre berniat mengambil keuntungan dari Martin, malah rugi....
Andre belum sempat menjalankan rencananya, tetapi sudah gagal karena Martin menarik modal.
"Aku mengerti. Grup Suhandi gagal masuk ke dunia bisnis di Provinsi Damur dan menghadapi serangan balik. Takutnya, akun mereka sekarang sudah nyaris kosong. Martin sudah nggak bisa bertahan...."
"Sayang sekali, seandainya modal 160 miliar bisa tetap tertulis di akun keuangannya. Dalam waktu satu bulan bisa naik tiga kali lipat lagi!"
"Rencana relokasi di Jalan Kumar masih terus berlangsung. Coba kamu cari tahu kalau nggak percaya. Lihat saja tingkat penjualan rumah bekas belakangan ini di Jalan Kumar...."
"Seluruh tempat tinggal di Jalan Kumar, setelah turun drastis dari 40 juta malah tetap bertahan di harga 30 juta
"Ada orang yang mengambil alih lebih cepat satu langkah dari kita. Coba kamu tebak, siapa yang mengambil alih properti itu?"
Andre membuka sebuah kacang dan memakannya.
Irwan menggelengkan kepala. "Nggak tahu. Takutnya orang itu berani mati karena mengambil alih properti di saat seperti ini."
"Pihak pemerintah telah mengeluarkan pernyataan bahwa properti di Jalan Kumar tidak akan direlokasi. Apa orang-orang itu nggak takut rugi saat mengambil alih?"
Andre hanya tersenyum kecil.
"Perusahaan Listrik Provinsi Damur, Perusahaan Elektronik Kota Surawa, Grup Bahan Bakar Intrana Cabang Surawa...."
Serangkaian nama langsung membuat Irwan terperangah.
Semua itu adalah perusahaan milik negara di Kota Surawa, bahkan di Provinsi Damur.
Pada satu sisi, pihak pemerintah Kota Surawa mengumumkan penjelasan yang berkata Jalan Kumar tidak akan direlokasi dan semuanya hanya rumor.
Sementara itu, di sisi lain, berbagai perusahaan milik negara di Provinsi Damur malah membeli properti secara gila-gilaan di Jalan Kumar.....
__ADS_1
Bukankah ini adalah hal yang bertolak belakang dengan kenyataan?