
Wanita paruh baya itu berpikir, 'Jangan-jangan orang ini sedang membohongiku?"
Andre menyodorkan empat puluh juta yang sedang dia pegang ke arah wanita itu.
"Anggap saja empat puluh juta ini adalah uang muka. Ayo turun bersamaku untuk mengambil tujuh ratus delapan puluh juta yang tersisa. Akan tetapi, kita harus pergi ke beberapa bank."
"Kita boleh pergi mengurus pengalihan hak kepemilikan rumah besok, bagaimana menurutmu?"
Andre menatap wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu menelan ludah. Dia berpikir, 'Orang ini tampak sangat percaya diri, sepertinya dia tidak membohongiku. Jarang ada orang yang mau bayar sebelum mengurus pengalihan hak kepemilikan. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan orang seperti ini.'
"Kalau begitu, apa yang harus aku bantu?"
"Aku kasih tahu dulu, aku nggak akan mau melanggar hukum."
Andre tersenyum. "Hal ini sangat simpel ...."
Andre turun ke lantai bawah, lalu menyalakan rokok. Saat dia menoleh ke belakang dan melihat rumah yang terang benderang, dia merasa lebih lega.
Setidaknya dirinya sudah membeli rumah kembali. Istri dan anaknya sudah punya tempat tinggal sekarang.
Keesokan paginya.
Di Desain Selaras.
Jessy menguap. Jessy mengantar anaknya ke taman kanak-kanak pagi ini, lalu memesan taksi untuk pergi ke perusahaan.
Jessy tidak punya banyak pekerjaan di perusahaan beberapa hari ini.
Atasannya mengatakan bahwa ini adalah perintah dari Pak Hendi. Pak Hendi menyuruh Jessy beradaptasi dengan lingkungan kerja dulu.
Jadi, Jessy hanya berjalan mondar-mandir di perusahaan setiap hari. Saking santainya Jessy, pegawai lain mulai bergosip. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa Jessy adalah wanita simpanan Pak Hendi.
Kalau tidak, Jessy mana mungkin begitu santai setiap hari? Jessy menerima gaji, tapi tidak perlu bekerja sama sekali.
__ADS_1
Pegawai lain yang direkrut bersamaan dengan Jessy sangat sibuk. Mereka harus membantu para desainer dari pagi hingga malam. Tidak ada pegawai yang sesantai Jessy.
Jessy juga merasa tidak berdaya. Namun, gaji Jessy setiap bulan enam belas juta. Gaji Jessy termasuk sangat tinggi di Kota Surawa. Jessy adalah ketua tim, tapi bawahannya tidak mau menuruti perkataannya. Jessy hanya bisa mengabaikan hal ini dan terus belajar.
Untungnya, meskipun Jessy sudah tidak bekerja selama bertahun-tahun, Jessy pernah kuliah dulu. Jessy masih mampu belajar. Selain itu, kecepatan belajar Jessy tidak terlalu lambat. Jessy sudah bisa memahami banyak proyek desain yang sedang Desain Selaras kerjakan.
Jessy duduk di bangkunya. Pada saat dia hendak mulai membaca sebuah dokumen, ponsel yang ada di ujung meja tiba-tiba berdering.
Jessy tertegun setelah melihat nama orang yang meneleponnya. "Halo? Kak Airin?" ujar Jessy setelah mengangkat telepon.
Orang yang menelepon Jessy adalah wanita paruh baya yang membeli rumahnya sebelumnya. Jessy sempat pergi melihat rumah itu beberapa saat lalu. Rumah itu belum terjual, tapi harganya delapan ratus juta. Jessy tidak bisa membeli rumah itu karena harganya terlalu mahal.
Delapan ratus juta dan harus dibayar secara tunai.
Meskipun Jessy mendapatkan enam belas juta setiap bulan, Jessy tetap harus mengumpulkan uang selama empat hingga lima tahun.
Tidak ada yang tahu harga rumah akan naik atau turun setelah empat hingga lima tahun. Selain itu, rumah itu entah sudah dipindahtangankan berapa kali.
Jessy mendengar suara tawa Kak Airin. "Kamu adalah Jessy Irawan, 'kan? Wah, rupanya kamu masih ingat denganku. Apa kamu punya waktu luang? Aku ingin mentraktirmu makan."
"Kak Airin, saya sedang bekerja. Selain itu, saya harus menjemput anak dari sekolah malam ini. Bagaimana kalau kita bertemu lain hari saja?"
Jessy bertanya demikian.
Kak Airin tersenyum. "Dik, aku agak buru-buru karena hal ini berhubungan dengan rumah. Bagaimana kalau kita bertemu untuk membahas hal ini secara mendetail?"
Jantung Jessy berdegup kencang setelah mendengar apa yang Kak Airin katakan. Jessy selalu ingin membeli rumah itu kembali.
Kini, Kak Airin datang mencarinya untuk membahas masalah rumah. Hanya ada dua kemungkinan. Kak Airin mungkin mau menjual rumah itu padanya, atau rumah itu mungkin sudah terjual....
Namun, tak peduli bagaimanapun, ini adalah kesempatan terakhir. Jessy akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.
"Baik, Kak Airin, aku akan minta cuti...."
Setelah memilih tempat untuk bertemu, Jessy pergi ke kantor Hendi dan minta cuti dengan tidak enak hati. Jessy merasa dirinya tidak benar-benar bekerja beberapa hari ini.
__ADS_1
Tak disangka, Hendi sama sekali tidak keberatan saat mendengar Jessy mau minta cuti. Hendi langsung menyuruh Jessy pulang untuk menyelesaikan urusannya.
Hendi sedang sibuk mengurus kontrak dengan Grup Kreasi Baru dan membeli saham akhir-akhir ini. Saking gembiranya, Hendi bahkan tetap tersenyum saat sedang tidur.
Semua ini berkat bantuan Andre. Hendi tidak akan melupakan kebaikan Andre. Jadi, Hendi akan memperlakukan Jessy dengan baik juga.
Meskipun Andre dan Jessy tidak akur saat ini, mereka adalah keluarga. Menurut Hendi, jika dirinya baru menjilat Jessy setelah Andre dan Jessy berbaikan, itu sudah terlambat.
Jessy meninggalkan perusahaan dengan bingung. Jessy memesan taksi, lalu pergi ke suatu restoran kecil yang ada di Kota Surawa.
Restoran ini ada di dekat Apartemen Citranur. Jessy sengaja memilih tempat ini.
Saat Jessy tiba di restoran, Kak Airin sudah menunggu lama. Mereka memesan teh dan kue. Sekarang sudah lewat dari jam sarapan, Jessy dan Kak Airin juga sudah makan.
"Kak Airin." Jessy duduk.
Kak Airin melambaikan tangan. "Kamu nggak usah sungkan denganku. Ayo duduk, minum teh dan makan kue dulu. Kita nggak buru-buru, aku akan menjelaskan kenapa aku mencarimu pelan-pelan...."
Jessy sangat bingung, tapi Jessy tetap duduk dan minum. seteguk teh dulu.
"Kak Airin, ada apa? Katakan saja, saya masih harus kembali bekerja nanti...."
"Apa Anda mau menjual rumah itu?"
Kak Airin tersenyum sambil memikirkan cara penyampaian yang Andre ajarkan. Semalam, Andre mengantarkan delapan ratus dua puluh juta ke rumah Kak Airin. Lalu, Andre dan Kak Airin menandatangani kontrak.
Andre memberi Kak Airin biaya tambahan sebanyak dua puluh juta. Dia meminta Kak Airin membantu bersandiwara hari ini.
Andre juga mengatakan bahwa hak kepemilikan rumah ini langsung dialihkan ke Jessy saja.
Kak Airin awalnya merasa Andre adalah orang yang jahat dan tidak berguna. Tak disangka, Andre lumayan baik dan setia.
"Jessy, aku membeli rumah itu dari kamu dan suamimu
"Saat aku membeli rumah itu, aku pikir aku bisa tinggal di sana, tapi tak disangka mendadak muncul sedikit perubahan. Aku mau pindah ke luar negeri dan nggak akan pulang lagi...."
__ADS_1