
Kini adalah zaman milik bisnis properti, baik itu rumah seken ataupun rumah baru.
Selama dapat memperkenalkan rencana ekonomi 8 kuadriliun, harga properti akan terus meningkat dalam 10 tahun ke depan. Terutama, harga properti di Kota Surawa. Semua hal itu akan terhubung dengan kota-kota di sekitar Kota Surawa dan mendorong kemajuan bisnis di bidang yang lainnya. Terutama, dengan masuknya sistem pengobatan modern terbaru dan penyempurnaan dalam infrastruktur kota. Hal ini akan menyebabkan efek pemerataan bisnis yang memengaruhi beberapa kota besar dan kota sedang di sekitar Kota Surawa.
Sementara itu, di masa depan akan makin banyak penduduk yang berpindah ke Kota Surawa hingga kota ini berkembang menjadi salah satu kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi di daerah utara.
Tempat dengan penduduk yang banyak, membutuhkan properti yang lebih banyak. Permintaan terhadap properti menjamin nilai jualnya yang tinggi.
Sebelum negara melakukan pembatasan jual properti, harganya dapat terus bertambah tinggi. Harga properti yang tinggi berkaitan dengan kepadatan penduduknya!
"Kalau Pak Martin benar-benar penuh wawasan, dia tidak mungkin terkurung hingga nggak bisa keluar dari Kota Surawa...."
"Apa kamu sudah beli rumah yang aku suruh itu?"
Andre hanya tersenyum.
Irwan menganggukkan kepala. Dalam rencana akuisisi kali ini, dia sendiri mengeluarkan uang 2 miliar, yang nilainya setara dengan lima unit rumah.
Irwan memang tidak membeli rumah di harga jual terendahnya, tetapi jika harga properti naik, relokasi akan berjalan. Bukan masalah untuk mendapat keuntungan sebesar 4 kali lipat!
Gaji pokok dan bonus tahunan Irwan saat bekerja di Hotel Riverside hanya sekitar 1 miliar.
Gaji itu sudah termasuk tinggi di Kota Surawa, tetapi jika dibandingkan dengan ikut bekerja dengan Andre, 1 miliar itu terasa sangat konyol.
Lima buah rumah dalam waktu satu bulan, mungkin dapat menghasilkan uang setara dengan enam tahun gajinya yang lama....
Orang yang rajin bekerja akan menjadi kaya memang sebuah omong kosong.
"Dalam waktu dekat ini sudah nggak ada kerjaan. Sebelumnya kamu bilang sudah menemukan Jordan. Sekarang dia di mana?"
Andre mengerutkan dahi.
Irwan menganggukkan kepala. Dia memang tidak mengerti apa alasan Andre sampai begitu antusias dengan seorang pemuda yang baru lulus kuliah. Namun, Irwan akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalankan perintah Andre.
"Sama seperti yang Anda katakan, dia di Perumahan Wanega ...."
"Tapi, saya meminta bantuan teman untuk mencari tahu dari satpam kompleks. Katanya, ada seorang putra di keluarga Zena. Dia kuliah di Universitas Maranata, ayahnya sampai sempat mengadakan perjamuan untuk dia...."
"Tapi, setelah Pak Zena meninggal, si satpam tidak tahu putranya kembali ke kota atau tidak. Kalau dihitung-hitung, seharusnya sudah lulus."
__ADS_1
"Tapi, biasanya yang terlihat hanya istrinya Pak Zena dan tidak pernah ketemu dengan orang yang kamu sebut Jordan itu," kata Irwan.
Andre hanya tersenyum mendengar kata-kata Irwan. Benar dia orangnya.
Jordan selama tiga tahun tidak pernah keluar selangkah pun dari rumahnya. Seandainya bukan dipaksa oleh ibunya turun dari gedung apartemennya untuk berolahraga, lalu kalah main saham sampai menghabiskan seluruh tabungan hari tua ibunya, Jordan pasti tidak akan mencari kerja di perusahaan milik Andre.
"Baiklah, aku tahu. Maaf, merepotkan. Tunggu kalau ada waktu, aku akan mencarinya."
Andre selesai bicara, lalu menutup teleponnya. Hari ini sate taichan masih belum habis terjual, jadi Andre harus bergegas.
Akhirnya, sate taichan habis terjual sekitar jam empat atau lima sore, lalu Andre menyeka keringatnya.
Hari ini, dia tetap tidak bertemu dengan Jessy. Beberapa hari ini, Andre selalu berada di luar Perusahaan Desain Selaras, tetapi Jessy tidak juga keluar.
Andre dengan susah payah menciptakan hubungan akrab dengan Jessy, tetapi semuanya malah dihancurkan oleh Ricky dan Steven!
Untung saja, setidaknya Andre tahu bahwa Jessy tidak terlalu membenci Andre seperti sebelumnya.
Hal ini adalah permulaan yang baik.
Malam ini, Andre ada janji makan malam bersama Bastian di lantai bawah.
Sementara itu, Andre sendiri hanya menyerahkan solusi penyelesaiannya saja agar Bastian dapat memastikan siapa tersangka utamanya. Mengenai masalah lainnya sudah bukan urusan Andre lagi.
Andre hidup 15 tahun lebih banyak karena telah melewati kehidupan pada zaman lampau dan ditambah dengan kehidupan di zaman ini.
Andre tahu benar, ada beberapa hal yang berada di luar kemampuannya dan tidak dapat diselesaikan sendiri.
Perumahan Larumnas.
Sementara itu, di rumah Ricky.
Ricky dan Linda, keduanya membuka pintu untuk menyambut calon menantu baru mereka.
"Jenna, apa kamu nggak mengenalkan siapa ini?"
Linda tersenyum, lalu melihat pria tinggi dan tampan yang berdiri di samping Jenna. Pria ini mengenakan setelan jas dengan kacamata berbingkai emas. Si pria tampak bersahaja dan elegan, bahkan dari penampilannya dapat dilihat bahwa dia adalah orang berpendidikan tinggi.
Jenna agak malu-malu, mana ada sikap galak dan kasar saat memaki Andre. Kini, Jenna tampak seperti gadis muda yang pemalu.
__ADS_1
"Astaga, mengenalkan apanya sih ...."
"Dia adalah pacarku. Namanya Fredi Gunawar. Dia adalah Wakil Presdir Grup Wenbrokes cabang Kota Surawa."
"Fredi, ini ayahku, Ricky. Lalu, ini ibuku, Linda."
Jenna memperkenalkan Fredi kepada mereka, lalu Fredi tersenyum kecil ke arah keduanya.
"Apa kabar, Paman, Bibi?"
Ricky dan Linda merasa sangat gembira, lalu mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.
Jenna menggandeng lengan Fredi dengan perasaan romantis. Dia tidak menyangka kebahagiaan tiba dengan cepat. Dia dan Fredi baru kenal setengah bulan ini.
Fredi yang berinisiatif datang berkunjung ke rumahnya.
Tepatnya setengah bulan yang lalu, Fredi mendatangi Properti Trust karena ingin membeli dua unit apartemen dan satu unit vila. Dua unit apartemen jika ditotal, harganya telah mencapai 2 miliar lebih.
Asal tahu saja, Kota Surawa tidak memiliki kompleks vila yang banyak.
Jenna mengajak Fredi berkeliling di seluruh Kota Surawa selama satu minggu hanya demi menemukan rumah yang sesuai keinginannya.
Hubungan keduanya makin akrab hingga saling menyukai seiring berjalannya waktu. Tidak lama kemudian, mereka berpacaran dan menjadi sepasang kekasih.
Jenna merasa seperti sedang bermimpi karena dapat bertemu dengan pria idamannya.
Mereka sekeluarga duduk bersama, lalu Linda menyajikan makanan ke meja makan.
Fredi mengucapkan terima kasih kepada Linda dengan sikap yang sopan.
Linda hanya tersenyum, lalu melambaikan tangan. "Anak ini, kenapa begitu sungkan. Kamu sudah datang, jadi anggap keluarga sendiri saja. Fre... Fredi, ya?"
"Kampung halamanmu di mana? Berapa saudara? Apa pekerjaan orang tuamu?"
Linda bertanya dengan tidak sabaran.
Jenna yang berada di samping langsung memelototinya.
"Ibu, kamu ngapain, sih? Apa kamu itu polisi yang menginterogasi orang?"
__ADS_1