
"Lain kali, tak peduli apa yang ayahmu katakan padamu, kamu harus langsung memberitahuku. Kamu masih terlalu kecil, jangan bertengkar dengan anak-anak lain."
"Kalau kamu tetap nakal, aku nggak akan memperbolehkan ayahmu pergi menjemputmu lagi."
Feli menundukkan kepala, memoncongkan mulut dan diam saja setelah mendengar ucapan Jessy.
Feli tidak berbohong. Ayahnya benar-benar mengeluarkan banyak sertifikat tanah. Akan tetapi, ibu Feli tetap tidak percaya....
Ibu Feli bahkan mengancam Feli dengan cara tidak memperbolehkan ayah Feli menjemput Feli di sekolah. Namun, Feli ingin ayahnya datang menjemputnya di sekolah. Jadi, Feli memilih untuk tidak berbicara.
Feli sedang berpikir entah kapan ayahnya baru bisa pulang
Andre berdiri di bawah sambil merokok. Sesaat kemudian, setelah Andre melihat lampu rumah di lantai delapan belas menyala, barulah Andre berbalik dan pergi.
Andre masih harus pergi berjualan besok. Andre menyiapkan dua ratus tusuk sate taichan kemarin. Sate taichan yang Andre siapkan habis dalam waktu dua jam. Jadi, Andre hanya bisa pulang lebih awal. Dilihat dari keadaan ini, Andre merasa dirinya setidaknya harus menyiapkan lima ratus tusuk sate taichan baru cukup.
Andre sibuk sampai tengah malam, lalu tidur selama tujuh hingga delapan jam.
Keesokan siangnya, di luar Desain Selaras.
Sate Taichan Andre mulai berjualan tepat waktu.
"Sate taichan, sate taichan, ada sate taichan yang enak dan bersih di sini."
"Ada sate taichan harga kaki lima rasa bintang lima di sini."
Tak lama setelah Andre meneriakkan slogan, orang-orang yang membeli sate taichan kemarin langsung datang.
"Pak, apa kamu sudah menyiapkan sate taichan yang cukup hari ini?"
"Kemarin aku nggak kebagian setelah antre lama!"
"Pak, tolong bakar sate dengan cepat, aku mau bungkus karena jam istirahat makan sudah mau habis!"
Orang-orang di sekeliling Andre terus berceloteh.
Andre terus menggerakkan tangan untuk membakar sate taichan. "Tenang saja, semuanya akan kebagian, jangan buru-buru. Saya menyiapkan lima ratus tusuk sate hari ini. Stok hari ini pasti cukup untuk kalian semua."
"Sate taichan, sate taichan, ada sate taichan yang enak dan murah di sini."
Gerakan Andre menjadi makin sigap. Andre awalnya membakar tiga tusuk sate secara bersamaan. Kini, Andre bisa membakar lima hingga sepuluh tusuk sate secara bersamaan. Akhirnya, pemanggang sate Andre penuh dengan sate taichan.
__ADS_1
Orang yang berkerumun di sekitar menjadi makin banyak. Setelah Andre menjual sekitar seratus tusuk sate taichan, jumlah orang yang mengelilinginya tidak berkurang jauh.
Saat Andre sedang sibuk, ponsel yang Andre letakkan di saku tiba-tiba berdering. Andre langsung mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Pak Andre, apa Anda punya waktu sekarang?"
"Saya butuh mendiskusikan urusan rumah dengan Anda.
Ada banyak agen properti yang menelepon saya beberapa hari ini."
Irwan mengeluh melalui telepon. Andre memandang para pembeli yang ada di hadapannya.
"Begini saja, datanglah ke seberang Desain Selaras. Aku sedang berjualan di persimpangan Jalan Dorha. Kita akan membahas urusan ini setelah aku selesai berjualan."
"Sudah dulu, aku akan mengakhiri panggilan, aku sedang sibuk."
Andre mengakhiri panggilan dan terus membakar sate taichan setelah berkata demikian.
Irwan merasa sangat bingung. Urusan rumah di Jalan Kumar belum kelar, kenapa Andre malah pergi berjualan di jalan?
Lagi pula, memangnya berapa jumlah uang yang bisa didapatkan dari berjualan di jalan?
Namun, urusan rumah di Jalan Kumar tidak bisa ditunda lagi.
Awalnya, saat Irwan membeli seratus lima puluh rumah, ada banyak orang yang diam-diam mengatai Irwan.
Sekarang, sikap semua orang berubah....
Irwan tiba di persimpangan Jalan Dorha yang terletak di seberang Desain Selaras.
Irwan memarkir mobil di kejauhan. Ada banyak orang yang sedang mengerumuni suatu gerobak makanan di persimpangan. Alhasil, persimpangan itu tidak bisa dilewati.
Tulisan di depan gerobak makanan itu sepertinya adalah
Sate Taichan Andre?
Apa itu sate taichan? Irwan belum pernah mendengar nama makanan ini sebelumnya.
Irwan menelepon Andre lagi.
Andre sedang sibuk membuat saus. Andre langsung memberi tahu Irwan bahwa dirinya berada di tempat yang paling ramai. Berhubung Andre sedang dikelilingi banyak orang, Andre menyuruh Irwan menerobos kerumunan.
__ADS_1
Irwan menjadi pusing setelah melihat seratusan orang yang ada di depannya. Setelah berpikir sejenak, meskipun Irwan mengenakan jas yang mahal, Irwan tetap memutuskan untuk menerobos kerumunan.
"Hei, hei, apa yang sedang kamu lakukan? Jangan potong antrean!"
"Pergi antre di belakang! Aku sudah menunggu dua jam, giliranku sudah mau tiba! Kalau kamu mau makan, kamu juga harus antre!"
Irwan terus berjalan maju sambil mendengar orang-orang di sekitar memarahinya.
Irwan menerobos kerumunan sambil mengoceh. Dirinya bukan datang untuk makan sate taichan! Dirinya datang untuk mencari Andre!
Andre mengabaikan bisnis yang bisa membawakan keuntungan puluhan miliar dan malah datang berjualan sate taichan!
Ini benar-benar tidak waras!
Akan tetapi, menjual makanan di pinggir jalan memang menguntungkan. Ada banyak orang yang sedang antre. Irwan pernah melihat orang lain berjualan makanan sebelumnya. Bahkan tempat menjual makanan yang ramai pun hanya ramai di jam tertentu. Ada banyak orang yang membeli makanan sebelum pergi kerja atau setelah pulang kerja.
Namun, pegawai-pegawai ini sudah harus mulai bekerja sebentar lagi. Kenapa masih ada banyak orang yang antre?
Setelah bersusah payah dan mendengar umpatan banyak orang, Irwan akhirnya berhasil menemukan Andre.
"Pak Andre, Pak Andre!"
Jas mahal Irwan kusut karena Irwan berdesak-desakan di tengah kerumunan tadi. Irwan menjadi terlihat tidak rapi.
Andre melambaikan tangan ke arah Irwan.
"Kamu sudah datang! Jangan santai saja, bantu aku ambil dua tusuk sate. Cepat, pembeli sedang menunggu!"
Andre menyeka saus yang ada di tangannya, lalu memerintah Irwan tanpa sungkan-sungkan.
Irwan merasa tidak berdaya, tapi Irwan tetap berjongkok dan menyodorkan satu tusuk sate taichan pada Andre ....
"Kamu harus lebih cekatan, ambil beberapa tusuk sate sekaligus. Lihatlah, ramai sekali. Satu jam kemudian, aku rasa lima ratus tusuk sate yang aku bawa hari ini akan habis...."
"Tampaknya aku harus menyiapkan lebih banyak sate. Stok yang aku siapkan tetap tidak cukup."
Andre menghela napas. Irwan terus mengoperkan sate taichan pada Andre. Irwan sama sekali tidak memedulikan bahwa dirinya adalah manajer Hotel Riverside. Selain itu, Irwan juga sudah lupa tentang pembongkaran rumah di Jalan Kumar.
Andre menjadi makin gesit. Andre membakar sate taichan, membungkus sate, lalu menyerahkan sate pada pembeli yang ada di luar.
Irwan melongo saat melihat kecepatan Andre. Irwan kira-kira bisa tahu, modal untuk membuat satu tusuk sate taichan hanya tidak sampai seribu.
__ADS_1
Setiap tusuk sate dijual dengan harga empat ribu. Keuntungannya tiga kali lipat!