Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 60


__ADS_3

Hendi menelan ludah saat melihat Irwan yang makan besar-besaran. Hendi melihat makanan di tangannya, tetapi tidak bernafsu makan.


Irwan mengelap tangannya hingga bersih, lalu melihat ke arah sate taichan di tangan Hendi.


"Pak Hendi, apa kamu nggak mau makan?"


Hendi mempertimbangkan untuk beberapa saat, "Aku nggak makan dulu. Aku tidak terlalu lapar. Aku bungkus saja untuk makan di rumah. Bungkus saja ...."


Ujar Hendi. Sementara Irwan hanya menganggukkan kepala, lalu berjalan ke tempat parkir mobil.


Malam ini Andre mencarinya dan ingin membicarakan masalah perumahan di Jalan Kumar.


Irwan harus bersiap-siap membereskan informasi tentang para agen perantara dan membereskan berkas kebijakan pemerintah daerah tentang proyek relokasi di Jalan Kumar.


Hendi melihat sate taichan di tangannya, setelah beberapa saat, Hendi tidak dapat menahan godaan kelezatannya. Hendi langsung melahapnya, lalu Hendi makan sambil menuju ke mobilnya.


Hendi makan sambil menganggukkan kepala dengan spontan.


Pantas begitu banyak orang yang antre, ternyata sate


taichan ini memang sangat lezat!


Hendi langsung menelan makanannya tanpa peduli akan penampilan lagi. Hendi makan dengan sangat lahap, lalu menghabiskan seluruh sate taichan dan masuk ke mobil dengan puas.


Ternyata benar, proyek yang Pak Andre perhatikan rasanya mengerikan saking menguntungkannya ....


Seandainya membuka beberapa waralaba sate taichan di Kota Surawa, mungkin bisa untung besar.


Laba tiga kali lipat, lalu cari tempat di lokasi bisnis seperti perusahaan Desain Selaras, sekolah, pusat perbelanjaan, atau area sekitarnya. Setiap toko cabang setiap hari menjual 500 tusuk.


Pendapatan per bulan 54 juta rupiah, dipotong gaji karyawan, sewa toko, air, dan listrik. Masih bisa untung bersih sebesar 40 juta rupiah.


Satu toko 40 juta rupiah, kalau membuka 10 toko keuntungannya 400 juta. Satu tahun bisa mencapai 4,8 miliar!


Hendi mengelap mulutnya. Kemampuan mendapatkan laba yang begitu besar, rasanya sangat mengerikan. Ngeri sekali! Hal ini hanya bisa terjadi pada diri Andre saja!


Namun, tampak jelas bila Andre tidak berminat melebarkan bisnis sate taichan miliknya.


Andre benar-benar melewatkan kesempatan bisnis yang bagus.


Sementara itu....


Depan gerbang TK Biru.


Andre melihat Feli yang tampak bersemangat, lalu melambaikan tangan ke arahnya sambil berjalan keluar dari gedung TK. Setelah itu, Feli langsung melompat dengan kuat ke dalam pelukan Andre.


Andre meraba kepala kecil putrinya.


Bu Ira berjalan keluar, lalu tersenyum cantik ke arah Andre.


Hari ini Bu Ira sengaja berdandan saat mendengar Feli bercerita bahwa ayahnya yang menjemputnya pulang sekolah.


"Pak, hari ini Feli sangat patuh di sekolah. Aldo juga sudah minta maaf sama Feli. Mereka berdua sekarang bermain dengan gembira."

__ADS_1


"Anak kecil ya, mana mungkin menyimpan dendam....' Н


"Mereka hanya bertengkar untuk sesaat dan bisa berbaikan lagi." Ujar Bu Ira.


Andre menganggukkan kepala. Andre tidak peduli soal Aldo minta maaf atau tidak, tidak peduli berteman dengan siapa, atau dendam dengan siapa.


Andre hanya peduli putrinya gembira atau tidak, di TK ada ditindas atau tidak.


Andre menggendong Feli. "Baiklah, aku sudah tahu. Feli, cepat pamit ke Bu Ira. Kita pulang."


Feli bicara dengan suara manis. "Bu Ira, sampai jumpa."


Bu Ira melihat Feli sambil melambaikan tangan.


"Pak, tidak tahu kapan punya waktu. Memang masih banyak masalah tentang Feli, jadi aku harap kita punya waktu untuk berbincang...."


"Begini saja, bagaimana kalau kita cari tempat, seperti kafe untuk berbincang?"


Bu Ira tersenyum ramah kepada Andre.


Seluruh tubuh Andre rasanya gemetar, lalu dia tersenyum pahit. "Tidak perlu Bu Ira. Nggak ada yang perlu kita bicarakan. Kalau kamu mau berbincang, kamu bisa mencari ibunya Feli saja."


"Baiklah kalau begitu, aku masih sibuk, nggak punya banyak waktu. Kami pulang dulu ...."


Andre bicara, lalu berbalik badan sambil menggendong Feli untuk pulang. Hal itu menyebabkan Bu Ira kesal hingga mengentakkan kaki.


Ibunya Feli berusia sekitar 30 tahunan, bagaimana mungkin dapat dibandingkan dengan dirinya sendiri. Padahal Bu Ira baru berusia 20an tahun.


Padahal si Jessy itu adalah wanita tua!


Bu Ira tidak percaya kalau di dunia ini masih ada pria setia yang tidak pernah selingkuh!


Bu Ira harus membuat Andre si orang kaya ini bertekuk lutut di kakinya!


Andre menggendong Feli pulang ke rumah. Sementara Feli tampak cemberut dan agak kesal.


Andre meliriknya singkat, lalu meraba wajah kecil Feli.


"Feli, kenapa bersedih. Siapa yang sudah menindasmu?


Apa kamu bisa memberi tahu Ayah?"


Feli menggelengkan kepalanya.


"Feli bukan bersedih, Feli hanya merasa Bu Ira sepertinya bukan orang baik. Ayah, kelak jangan pedulikan Bu Ira lagi ya...."


"Aku rasa, Bu Ira punya maksud tidak baik sama Ayah."


Feli bicara dengan suara yang sangat imut hingga


menyebabkan Andre tertawa terbahak-bahak.


"Feli, kenapa kamu bisa tahu Bu Ira orangnya nggak baik?"

__ADS_1


"Untuk apa dia bermaksud buruk sama Ayah?"


Andre menggendong Feli di lehernya.


Feli berpikir sebentar, lalu bergumam, "Hari ini saat Feli di sekolah, Bu Ira terus bertanya informasi tentang Ayah. Dia tanya apa pekerjaan Ayah, aku jawab Ayah pengangguran. Tapi, dia nggak percaya."


"Tapi, ibu bilang, kalau Ayah adalah pengangguran....'


"Bu Ira juga bertanya tentang apa hobimu. Aku bilang, Ayah suka main saham dan minum minuman keras. Bu Ira masih nggak percaya. Tapi, itu semua diberi tahu sama ibu..."


Andre sampai tertawa terbahak-bahak. Apa-apaan sih ini!


Jessy memang bicara jujur, tetapi apa yang ingin ditanyakan Bu Ira bukan tentang hal ini!


Putrinya sendiri termasuk tidak sengaja menggagalkan Bu Ira untuk mendapat informasi tentang Andre!


"Benar apa kata ibu, tetapi itu adalah Ayah yang dulu. Sekarang Ayah sudah nggak begitu lagi. Sekarang Ayah sudah punya pekerjaan."


"Ayah punya satu toko sate taichan. Tunggu nanti saat Feli liburan, Ayah akan ajak Feli makan sate taichan, ya."


Air liur Feli mengalir setelah mendengar kata makanan.


"Ayah, apa itu sate taichan? Enak nggak?"


Andre menggendong Feli di punggungnya dan berjalan ke arah Apartemen Citranur ....


"Sate taichan sangat enak. Terutama sate taichan yang Ayah buat. Setiap hari ada banyak orang yang mengantre."


"Feli pasti akan suka makan sate taichan ...."


Kemudian ....


Pukul tujuh malam.


Andre menguap sambil masuk ke Hotel Riverside.


Setelah mengantar Feli pulang ke rumah, Andre memanggil taksi dan datang ke Hotel Riverside.


Memang akan muncul banyak masalah mengenai relokasi Jalan Kumar.


Seandainya tidak dibereskan dengan baik, modal Martin sejumlah 60 miliar dan ditambah keuntungan mengambang sejumlah 120 miliar. Semuanya ada kemungkinan mengalami kerugian.


Oleh karena Andre ingat dengan jelas, persoalan relokasi di Jalan Kumar hanya rumor!


Oleh karena harga properti di kota yang naik pesat, modal relokasi juga naik. Jadi, pemberitahuan mengenai relokasi di Jalan Kumar akan ditarik kembali.


Semenjak saat itu, tanpa perlu diragukan lagi. Harga properti di Jalan Kumar yang naik pesat langsung turun drastis. Harga rumah yang mencapai 40an juta per unitnya, jatuh drastis ke harga 30an juta per unit.


Jadi, uang dari bisnis ini hanya dapat meraup keuntungan hingga angka 120 miliar!


Sudah saatnya menjual 150 unit rumah di tangan Andre!


Cukup menunggu sampai satu minggu, tunggu sampai harga properti jatuh hingga titik terendahnya, baru akan ada tindakan selanjutnya. Kemudian, perintah relokasi akan keluar.

__ADS_1


Bahkan, properti di sekitar Jalan Kumar juga termasuk bagian yang akan direlokasi.


__ADS_2