
"Ayahmu dengan susah payah baru menerimamu pulang ke rumah. Kamu membeli rumah lamamu dengan uangmu sendiri. Sementara Andre, apa yang sudah dia lakukan untukmu?"
"Jessy, kamu benar-benar nggak tahu diri!"
Linda menepis Feli, dia malas berlama-lama di sana. Sekarang dia sangat murka saat melihat Jessy. Setelah masuk ke dalam lift, Linda segera menutup pintu dan langsung pulang.
Sementara di samping Lift, Jessy duduk di lantai sambil bersandar di tembok dan menangis tersedu-sedu.
Apa Jessy benar-benar telah bersalah?
Apa salah Jessy yang hanya ingin Feli punya seorang ayah?
Andre memang telah melakukan kesalahan, tetapi anak kecil tidak bersalah. Jessy tidak dapat menerima Andre, dia hanya tidak ingin Feli kekurangan kasih seorang ayah.
Sebanyak apa pun yang dapat Jessy berikan kepada Feli, tetapi Jessy tidak dapat memberikan kasih seorang ayah.
Permukaan tanah yang dingin, koridor yang gelap. Feli berdiri di samping Jessy dan menemaninya dalam diam. Air mata Jessy terus mengalir dari wajah hingga jatuh ke lantai.
Entah berapa lama, Jessy baru bangkit dari lantai....
Kemudian, Jessy baru mengajak Feli masuk ke rumah.
Dekorasi yang akrab, meja, kursi, lemari. Semuanya dibeli sejak Jessy dan Andre baru menikah.
Sekarang, enam tahun sudah berlalu. Barangnya belum berubah, tetapi orangnya sudah berubah.....
"Feli, menurutmu apa Ibu sudah melakukan kesalahan?"
Jessy meraba kepala Feli, beberapa saat kemudian. Perasaan Jessy sangat hampa.
Sementara itu....
Grup Suhandi.
Kantor kerja Martin, di samping ranjang. Martin tampak mengernyitkan alis, tubuhnya terasa lemah, lalu menghela napas.
Sementara di belakangnya, Irwan manajer umum dari Hotel Riverside sedang berdiri di sampingnya.
"Apa relokasi di Jalan Kumar benar-benar sudah dibatalkan?"
Martin melihat ke arah Irwan. Kabar ini Martin terima dua jam yang lalu, tetapi dia masih tidak percaya sampai sekarang.
Dahulu Martin bertaruh dengan Andre. Jika Jalan Kumar direlokasi, Martin akan menyerahkan Hotel Riverside kepada Andre. Awalnya, ini adalah pertaruhan yang pasti akan Martin menangkan. Namun, satu minggu yang lalu, tiba-tiba muncul kabar bahwa Jalan Kumar akan direlokasi.
__ADS_1
Tepat ketika Martin merasa akan kalah, Andre malah menjual 150 unit rumah di Jalan Kumar dengan harga tinggi!
Berikutnya, muncul berita dari pihak pemerintah yang menepis kabar Jalan Kumar akan direlokasi....
Semuanya itu bagaikan skenario yang telah ditulis dengan rapi. Sementara Andre mengetahui isi skenario dengan jelas.
Seandainya Martin tidak menyuruh orang untuk memeriksa latar belakang Andre sejak baru lahir hingga lulus universitas dan seluruh pengalaman hidupnya. Martin pasti akan mengira ada orang hebat di balik Andre.
Sementara Andre hanya seorang pesuruh ....
Namun, segala hal malah terus memberi tahu Martin bahwa Andre orang yang beruntung, atau Andre dengan tepat memprediksi setiap langkahnya!
Andre memilih jalan yang penuh risiko, tetapi tidak pernah mengalami kegagalan.....
Namun, harus Martin akui bahwa kini dia sudah benar-benar merasa takut.
Irwan menganggukkan kepala. "Dapat dipastikan kalau informasinya tepat. Rencana relokasi di Jalan Kumar telah dibatalkan...."
Martin memijat dahinya.
"Bagaimana dengan Andre, apa rencana Andre selanjutnya?"
Irwan mengernyitkan alis.
Martin menghirup napas panjang, pikiran dalam otak Martin terus berputar tanpa henti.
60 miliar telah menghasilkan 100 miliar dalam waktu tidak sampai tiga minggu!
Jika dihitung dengan modal, Andre sendiri telah memegang uang tunai sejumlah 160 miliar lebih!
Semua uang itu sudah cukup untuk mengganti uang tunai dari tangan para spekulan yang datang ke Kota Surawa.
Namun, kalau begitu, Martin akan menjadi pengambil alih terakhir di relokasi Jalan Kumar.
Martin menghela napas panjang.
Dia berdiri di samping jendela, lalu membuka laci dan mengeluarkan sekotak rokok dari dalam laci.
Martin telah sepuluh tahun tidak merokok. Sekotak rokok ini, Martin sendiri juga yang meletakkannya di dalam laci meja untuk menyambut tamu. Namun, hari ini Martin masih menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya.
Martin merasa sudah cukup tenang.
Perumahan di Jalan Kumar, Martin sudah membicarakannya dengan para komisaris perusahaan di rapat hari ini.
__ADS_1
Semua orang merasa Martin seharusnya segera mengambil kembali uang 160 miliar yang berada di tangan Andre. Kemudian, Martin dapat memberikan bonus 10 miliar kepada Andre.
Bagi orang seperti Andre, 10 miliar sudah cukup banyak. Bahkan, dapat dikatakan Andre tidak akan bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam seumur hidupnya.
Namun, Martin tetap merasa serbasalah.
Dia tahu, cara itu adalah solusi terbaik, tetapi hatinya tetap tidak tenang!
Grup Suhandi telah beberapa kali mencoba untuk memasuki pasar di Provinsi Damur, tetapi selalu mengalami penolakan. Orang-orang pada umumnya akan sulit memahami kekuatan tidak terlihat yang menguasai segala hal di balik itu semua. Sesuatu yang membuat Martin tidak berdaya dan tidak mampu melawan.
Sekarang keuangan perusahaan Martin nyaris kosong, jumlahnya sekitar 100 miliar.
Pilihan ini membuat Martin kesulitan untuk memilih.
Pertama-tama, apakah dia harus memilih menarik kembali uang investasinya untuk menutupi keuangan perusahaan yang nyaris kosong?
Pilihan yang satu lagi, apakah Martin harus melanjutkan pertaruhan yang luar biasa ini dengan Andre?
60 miliar mungkin akan menjadi satu triliun atau dua triliun!
Martin mengisap rokoknya, tatapannya melihat ke kejauhan. Sementara Irwan yang berada di belakang Martin hanya terdiam. Dia tahu betul hal yang menjadi kesulitan Martin saat ini.
Seharusnya, Martin mendengarkan keputusan tim komisaris. Namun, perasaan Martin sulit menerima akhir yang seperti ini ....
Andre sendiri yang menghasilkan keuntungan 100 miliar itu. Dia menghadapi keraguan, ketidakpercayaan, bahkan mengeluarkan mesin litografi EUV untuk bertaruh dengan Martin. Setelah itu, Andre baru mendapatkan modal 60 miliar!
Namun, Grup Suhandi sekarang malah berniat menyingkirkan Martin!
Irwan menggertakkan gigi dengan kesal.....
Martin selesai mengisap sebatang rokok, abu rokok jatuh ke tangannya. Kemudian, melihat ke arah tangan yang terkena bara rokok tanpa ekspresi.
Manusia punya banyak pilihan penting dalam hidupnya, ada kalanya, melakukan satu kesalahan mungkin akan menyebabkan kegagalan dalam hidup.
Martin tahu betul, tetapi Martin sudah tidak sanggup bertaruh ....
"Tarik kembali modalnya. Ambil 20 miliar untuk diberikan kepada Andre. Katakan saja, ini adalah ungkapan terima kasih Grup Suhandi atas investasi yang telah dilakukannya."
"Awalnya para anggota komisaris hanya ingin memberikan 10 miliar, sisanya yang 10 miliar lagi ... aku sendiri yang memberikannya."
"Kali ini, anggap aku, Martin, yang berutang jasa kepada Andre. Mengenai Hotel Riverside dan perumahan di Jalan Kumar. Sampai sekarang perumahan di Jalan Kumar nggak direlokasi, jadi aku nggak bisa menyerahkan Hotel Riverside kepada Andre. Namun, mesin litografi EUV itu juga sudah nggak aku butuhkan. Suruh dia bawa pergi saja
Martin mematikan rokoknya di dalam asbak.
__ADS_1
Irwan mengepalkan jarinya. "Pak Martin, bukankah hal ini sedikit keterlaluan? Bukankah 110 miliar itu dihasilkan oleh Pak Andre? Secara logika, kita juga tidak pantas mengambil begitu banyak uang. Setidaknya berikan 50 miliar, atau berikan kompensasi yang lainnya ...."