Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 82


__ADS_3

Andre menepis jari Ricky yang menunjuk hidungnya, lalu Menangkan Ricky yang kesal.


"Ayah, hari ini jangankan Ayah pukul aku pakai batu bata, kamu tebas aku pakai parang, aku juga nggak akan pergi!"


Sikap Andre sama sekali tidak bisa ditolak.


Kejadiannya sudah seperti ini. Apa pentingnya rasa malu? Jika membiarkan pria berengsek itu merebut Jessy, takutnya Andre akan kehilangan istri!


Andre masih bisa membandingkan mana yang lebih penting antara menghasilkan uang atau istri sendiri.


Ricky yang sudah tua sampai gemetaran saking kesalnya


hingga turun dari kendaraan umum.


Saat di koridor Ricky melihat ke arah Andre yang berjalan di belakangnya. Dia menahan rasa kesal, bahkan tangannya bergetar ketika mengambil kunci. Dia sampai gagal dua kali ketika membuka pintu.


Hal ini membuat Ricky kesal hingga beberapa kali menggedor pintu.


Linda membuka pintu, lalu menjulurkan kepala dan melihat Ricky.


"Kenapa lama sekali? Apa kamu sudah membeli iga sapi, daging ayam, dan bebek?"


"Apa kamu sudah tanya Steven, dia makan ikan atau nggak?"


Ricky tampak sangat kesal.


"Makan, makan, makan! Makan apanya!"


Linda memelototinya, lalu berkata, "Ricky, apa kamu mempermainkanku?"


"Ibu."


Andre menjulurkan kepala hingga ke depan Linda.


Hal ini menyebabkan Linda terkejut, lalu dia menunjuk Andre sambil membuka mulut. Namun, Linda tidak juga bicara setelah beberapa saat.


"Dasar, berengsek!"


Linda kembali ke dalam rumah, lalu mengambil spatula dan kembali ke depan pintu. Linda mengenakan sandal, lalu memukuli Andre dengan spatulanya.


Andre segera menghindar, tetapi masih saja kena pukulan Linda.


"Apa kamu masih berani datang ke rumah kami?"


"Aku bunuh kamu!"


"Ricky, ambilkan pisau dari dapur!"


"Orang pembawa sial ini, berani-beraninya kamu membawa dia pulang!"


"Apa kamu tahu hari apa ini?"


"Pergi! Cepat pergi dari sini!"


Linda menggunakan dua sodet kayu untuk memukul Andre hingga sodet kayu langsung patah.

__ADS_1


Ricky menghela napas panjang, lalu menatap Andre dengan mata yang dingin.


"Kamu memang pantas dipukul!"


"Cepat pergi dari sini! Jangan mengadang pintu rumah orang!"


Andre mengambil kesempatan saat sedikit celah terbuka di pintu, lalu menyelinap masuk.


Andre tidak peduli Ricky dan Linda marah seperti apa, sekarang dia sudah tidak peduli dengan rasa malu. Entah hidup atau mati, hari ini dia harus ikut makan malam.


Andre duduk di sofa.


Sementara Ricky dan Linda saling bertatapan di luar pintu.


"Bagaimana ini?" Linda melihat ke arah Ricky.


Ricky menghela napas panjang. "Mana aku tahu?"


"Sebentar lagi Steven mau datang. Apa kamu sudah telepon Jessy? Kalau nggak, suruh Jessy mengusirnya."


Linda berkata sambil melihat sodet kayu yang patah di tangannya.


"Kamu pukul saja dia. Nanti, selesai menelepon jangan lupa jemput Feli dari sekolah. Saat pulang, aku titip beli sodet kayu."


Ekspresi wajah Ricky tampak tidak berdaya.


Sudah setua ini, Ricky baru berjumpa orang tidak tahu malu seperti Andre.


"Tunggu aku kembali dari menjemput Feli, suruh Andre bawa Feli jalan-jalan. Hari ini, Steven pertama kali datang. Bagaimana mungkin membiarkan Andre mengacaukannya?"


Namun, Jessy dan Andre masih suami istri secara sah. Apa gunanya melapor polisi?


Apa harus melapor soal perdebatan keluarga, keributan keluarga?


Mereka juga tidak berkelahi, bahkan Andre tidak


membalas saat dipukul dan dimarah.


Andre benar-benar susah dihadapi!


Linda menganggukkan kepala, tatapan matanya penuh kebencian.


Tidak ada cara lain, punya hubungan dengan orang semacam Andre adalah kesialan besar bagi keluarga Irawan! Andre tidak akan melepaskan keluarga mereka dengan mudah.


Ricky turun ke lantai bawah, sementara Linda kembali ke dalam rumah. Kemudian, emosi Linda memuncak ketika melihat Andre yang duduk di sofa dengan santai.


"Setiap hari nggak kerja dan cuma mikir soal makan!"


"Dasar, nggak tahu malu!"


Linda memaki Andre sambil membanting spatula dan panci hingga menyebabkan suara berisik.


Andre duduk di sofa, menonton TV untuk menyenangkan diri sendiri. Pada zaman sekarang, TV LCD adalah barang yang jarang ada. TV di rumah masyarakat pada umumnya makin besar, makin bagus. Tahun lalu, Linda dan Ricky menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli TV bermerk. Bahkan, para tetangga juga memuji TV milik mereka.


TV ini tidak ada kelebihan lain, resolusinya rendah, bahannya juga tidak bagus, tetapi menang karena layar yang besar.

__ADS_1


Puas sekali menonton dengan TV ini.


Bukan hanya bisnis TV, rata-rata semua bisnis peralatan elektronik dikuasai oleh barang tiruan buatan dalam negeri. Selain itu, masih ada peralatan elektronik yang diselundupkan dari kawasan pesisir. Dua jenis peralatan elektronik itu telah menguasai setengah pasar peralatan elektronik di Intrana.


Mengenai setengah pasar lagi karena teknologi yang terisolasi, biaya penelitian yang mahal sehingga tidak bisa balik modal. Jadi, hingga kini perkembangannya sangat sulit dan tidak produktif.


Merk dari produk buatan Intrana belum terkenal di dunia


internasional. Sekarang tidak ada bedanya dengan negara


berkembang di sekitar Intrana. Produk Intrana hanya bisa


dilabeli produk murah, produk tiruan, dan produk


produsen peralatan asli.


"Ibu, kenapa memasak begitu banyak?"


Andre duduk di sofa sambil menonton TV, lalu mendengar suara pintu yang terbuka.


Jessy yang baru pulang kerja berjalan ke dalam rumah, lalu melihat ke arah dapur. Linda mendengus dingin dan mengabaikan Jessy. Hal ini menyebabkan Jessy bingung, rasanya hari ini dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa malah membuat Linda marah lagi?


Selesai membuka sepatu, Jessy berbalik dan melihat Andre yang duduk di sofa.


"An... Andre?"


Jessy tampak melongo, dia sama sekali tidak menyangka, bagaimana cara Andre meyakinkan ibunya sampai dia bisa duduk di sofa secara terang-terangan.


Andre berdiri dari sofa.


"Jessy, baru pulang kerja ya?"


"Kamu pasti sudah lelah seharian, cepat duduk. Malam ini ibu telah memasak banyak makan. Ayah ke pasar untuk membeli iga sapi, ayam, bebek, dan ikan. Semuanya adalah makanan kesukaanmu."


"Istirahatlah dulu, ayah sedang menjemput Feli."


Andre hendak merangkul Jessy.


Jessy masih bingung. Mengapa ucapan Andre seolah mereka adalah keluarga harmonis yang bahagia? Rasanya,


seluruh keluarga tidak marah atas kedatangan Andre ....


Linda memotong sayur di atas talenan dengan pisau.


"Andre, ucapanmu hanya omong kosong!"


"Kamu yang nggak tahu malu numpang makan di rumah kami. Ricky beli bahan makanan untuk mengundang atasannya, pemuda teman main Jessy saat kecil!"


"Apa hubungannya denganmu?"


"Dia pergi menjemput Feli karena tidak tahan melihatmu di rumah. Aku baru mematahkan sodet karena memukulmu, aku sudah suruh dia beli yang baru!"


"Kenapa kamu begitu percaya diri?"


"Andre, orang sudah tahu umur harus tahu batasan!

__ADS_1


__ADS_2