
"Pak Andre, saya nggak tahu orang yang berjualan di depan perusahaanku adalah Anda ...."
"Aku bingung kenapa pegawaiku antre di sini pada jam kerja. Bukankah ini akan menurunkan efektivitas kerja? Tunggu sebentar, tunggu sebentar, aku akan menyuruh mereka kembali ke sini lagi ...."
Hendi hendak menelepon perusahaan.
Andre menghentikan Hendi, lalu menyodorkan dua tusuk sate taichan pada Hendi.
"Sudahlah, sate taichan sudah mau habis. Cepat bantu aku masukkan sate taichan ini ke dalam kantong, lalu serahkan pada pembeli."
"Oh iya, jangan lupa suruh pembeli bayar delapan ribu," ujar Andre.
Andre berujar sambil menyerahkan sate taichan pada Hendi. Hendi menarik sebuah kantong plastik, lalu memasukkan sate taichan ke dalam kantong tersebut.
Pembeli yang berada di antrean terdepan menelan ludah setelah melihat Hendi.
Orang ini telah mengantre untuk membeli sate taichan sepanjang siang. Dia tidak menyangka orang yang memasukkan makanannya ke dalam kantong adalah seorang miliarder.
"Pembeli selanjutnya, silakan! Mau cabai?"
Andre menyalakan api besar, mengoleskan saus dan terus membakar sate taichan.
Irwan mengoperkan sate taichan pada Andre. Gerakan Irwan juga menjadi makin gesit.
Hendi memasukkan sate taichan ke dalam kantong dan memberikan uang kembalian.
Namun, entah kenapa, orang yang mengantre untuk membeli sate taichan tidak kunjung berkurang.
Ada banyak orang yang mendengar bahwa presdir Desain Selaras membantu menjual sate taichan di sini. Jadi, orang-orang ini datang ke sini. Sate Taichan Andre menjadi terkenal. Selain itu, ada yang mengenali pria di balik gerobak yang mengoperkan sate taichan pada Andre melalui foto.
Sepertinya orang itu adalah manajer Hotel Riverside.
"Ini sate taichan Anda, pegang baik-baik, harganya dua belas ribu."
Hendi menggantung jasnya di pagar. Hendi menyerahkan sate taichan pada pembeli sambil tersenyum, lalu menerima dua belas ribu. Kemudian, Hendi melemparkan uang ke dalam kotak.
Kadang-kadang, saat pembeli memberinya dua puluh ribu, dia harus memberikan kembalian sejumlah delapan ribu. Hendi melakukan pekerjaannya dengan baik dan bertanggung jawab.
__ADS_1
Irwan berjongkok di lantai dan menuruti perintah Andre.
Irwan terus mengoperkan sate taichan pada Andre.
Kesibukan ini berlangsung selama dua jam.
Irwan dan Hendi sangat lelah. Akhirnya sisa dua tusuk sate taichan. Andre melihat waktu.
"Mohon maaf semuanya, sate taichan yang saya bawa hari ini sudah habis terjual ...."
"Mohon datang lebih cepat besok. Saya akan ada di sini dari siang sampai sore ...."
Andre memandang antrean panjang di depannya sambil tersenyum.
Beberapa pembeli menunjuk ke arah kotak Andre. "Pak, bukankah masih ada dua tusuk?"
Andre melambaikan tangan.
"Dua tusuk ini nggak dijual. Saya hanya akan menjual lima ratus tusuk sate setiap hari kelak. Saya mau pergi menjemput anak dari sekolah dulu, datanglah lagi besok."
Andre mengelap tangan, lalu meletakkan dua tusuk sate taichan terakhir di atas pemanggang.
Hendi dan Irwan sangat capek. Mereka saling bertatapan, lalu tersenyum dengan tidak berdaya.
"Pak Hendi, kita akhirnya bertemu. Aku nggak menyangka aku akan bertemu denganmu di sini ...."
Irwan tersenyum.
Hendi tertawa dan berkata, "Aku juga nggak menyangka Pak Irwan akan datang membantu Pak Andre menjual ... apa ini namanya? Sate taichan."
Sate taichan adalah makanan yang asing bagi Hendi. Hendi baru mendengar nama makanan ini hari ini.
Dulu, jangankan makan makanan yang dijual di pinggir jalan, Hendi bahkan tidak pernah memperhatikan apa saja makanan yang dijual di pinggir jalan.
Irwan menghela napas. "Haih, jangan dibahas lagi. Sebenarnya, aku datang ke sini untuk merundingkan urusan rumah di Jalan Kumar dengan Pak Andre. Kami menghabiskan enam puluh miliar untuk membeli rumah di sana. Kini, harga rumah-rumah itu naik tiga kali lipat. Pak Andre nggak mementingkan rumah-rumah yang harganya seratus delapan puluh miliar, malah sibuk berjualan sate taichan sepanjang siang."
Hendi tercengang setelah mendengar hal ini.
__ADS_1
Andre membeli rumah dengan harga enam puluh miliar. Lalu, harga rumah-rumah itu naik tiga kali lipat dalam waktu satu hari!
Hendi telah mendengar bahwa rumah di Jalan Kumar akan dibongkar. Hanya saja, Hendi tidak tahu bahwa Andre juga terlibat dalam hal ini.
Andre menginvestasikan enam puluh miliar sebelum berita tentang pembongkaran rumah di Jalan Kumar diumumkan. Ini tidak hanya menunjukkan bahwa Andre sangat berani, juga membuktikan bahwa Andre sudah menduga rumah di Jalan Kumar akan dibongkar. Hal ini benar-benar menyeramkan.
Andre seolah-olah tidak perlu mencari uang. Sebaliknya, uang akan datang mencari Andre.
"Semuanya sudah beres, terima kasih karena telah bekerja keras sepanjang siang. Dua tusuk sate taichan terakhir ini untuk kalian berdua."
"Pak Hendi, maaf karena telah mengganggu dan berjualan di depan perusahaanmu."
"Pak Irwan, aku akan meletakkan gerobak di rumah, lalu pergi menjemput anakku dari sekolah. Setelah itu, aku akan menunggumu di Hotel Riverside untuk merundingkan urusan rumah."
Andre mengelap tangan, lalu memasukkan barangnya ke gerobak. Lima ratus tusuk sate taichan terjual habis. Andre mendapatkan satu juta delapan ratus ribu hari ini.
Hendi mengambil sate taichan sambil tersenyum. "Nggak mengganggu, kok. Nggak apa-apa, Pak Andre. Kalau Anda mau, saya akan menyuruh seluruh pegawaiku datang membeli sate taichan besok."
Andre melambaikan tangan dan berkata, "Nggak usah, aku nggak sanggup membakar sate sebanyak itu ...."
"Kalau bukan karena istriku memaksaku mencari pekerjaan tetap atau berjualan, aku nggak akan datang menjual sate taichan."
"Pak Hendi, Pak Irwan, anakku sudah mau pulang sekolah sebentar lagi, jadi aku pergi dulu. Sampai jumpa."
Andre mendorong gerobak ke arah rumahnya.
Irwan memandang sate taichan yang sedang dirinya pegang. Irwan sudah sangat lapar karena bekerja sepanjang siang. Namun, apakah sate taichan benar-benar enak?
Irwan mengendus sate ini. Ada aroma jintan dan saus yang dioleskan di atas daging. Sate taichan memang sangat wangi. Irwan menggigit sate taichan.
Setelah mengunyah beberapa kali, Irwan dapat merasakan tekstur kenyal daging ayam. Perpaduan sempurna antara rasa asin dan pedas menyebar di dalam mulutnya.
Rasa sate taichan sungguh nikmat ....
Hotel Riverside adalah hotel mewah yang terkenal di Kota Surawa.
Ada banyak koki terkenal yang bekerja di Hotel Surawa. Koki-koki ini mahir memasak makanan ala apa pun, mulai dari makanan lokal hingga makanan asing. Hasil masakan koki-koki ini sangat menggiurkan.
__ADS_1
Meskipun begitu, Irwan belum pernah mencicipi makanan lezat seunik sate taichan sebelumnya.
Sate taichan benar-benar sangat lezat....