Kelahiran Kembali Sang Miliarder

Kelahiran Kembali Sang Miliarder
Bab 98


__ADS_3

Linda langsung menepuk bibirnya dan berkata, "Astaga, coba lihat aku. Fredi, jangan tersinggung ya. Penyakit penasaranku kumat lagi."


Fredi hanya tersenyum.


"Bibi, nggak apa-apa. Aku bukan orang Kota Surawa. Aku dipindahkan oleh perusahaan ke sini. Tapi, aku akan bekerja di Kota Surawa selama beberapa tahun."


"Grup Wenbrokes berniat mengembangkan bisnisnya di Kota Surawa sehingga lebih banyak orang yang tahu mengenai instrumen investasi. Jadi, bisa kaya raya bersama-sama," jelas Fredi.


Kemudian, Linda langsung menepuk pahanya.


"Wah, Grup Wenbrokes, ya. Aku baru mau bilang, kenapa kedengarannya nggak asing, ya."


"Aku sudah banyak membeli banyak instrumen investasi dari Grup Wenbrokes. Aku saja sudah membeli Wenbrokes 1 senilai 400 juta rupiah. Sekarang aku mendapat untung 40 juta per bulannya. Banyak sekali untungnya, ya!"


"Oh ya, perusahaan yang menghasilkan uang banyak demi masyarakat dan memberi keuntungan bagi negara seperti kalian memang harus berkembang menjadi makin hebat!" kata Linda.


Sementara Ricky yang berada di samping sedang mengerutkan dahinya. Pantas saja gaji dan uang pensiunnya selama beberapa tahun ini telah diambil Linda. Entah untuk apa.


Bahkan, katanya bisa kaya raya. Ternyata untuk membeli instrumen investasi yang setiap bulannya dapat menghasilkan 40 juta rupiah.


Luar biasa sekali. Satu bulan bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada gajinya selama beberapa bulan.


Ricky menuangkan anggur merah, lalu menuangkannya kepada Fredi juga.


"Fredi, kamu adalah presdir di perusahaan. Apa kamu tahu Perusahaan Listrik Provinsi Damur?"


"Apa kamu kenal dengan Presdirnya, Pak Amir?"


Ricky mulai tersenyum.


Fredi menerima anggur dan juga ikut tersenyum.


"Tentu kenal. Paman Ricky, mungkin Anda tidak tahu. Perusahaan Listrik Provinsi Damur adalah pelanggan besar dari Grup Wenbrokes. Bahkan, investasi mereka tahun lalu mencapai 40 miliar rupiah!"


"Setiap bulan mereka mendapat keuntungan mencapai 4 miliar rupiah."


Ekspresi wajah Fredi dipenuhi senyuman, seolah-olah 40 miliar dan 4 miliar hanya setumpuk kertas tidak berharga.


Linda dan Ricky spontan kehabisan kata-kata saat melihat sikap Fredi.


Tidak heran bila dia seorang wakil Presdir di perusahaan besar. Auranya sangat mendominasi, tampak jelas bahwa Fredi adalah orang yang banyak pengalaman dalam dunia bisnis.


Linda sampai memutar bola mata dengan kesal ke arah Ricky, lalu berkata, "Coba lihat. Apa kubilang, Grup Wenbrokes pasti tepercaya. Bahkan, Perusahaan Listrik Provinsi Damur kalian saja ikut berinvestasi. Itu semua uang milik perusahaan kalian sendiri."


"Sekarang ada kesempatan yang begitu baik di depanmu, tapi kamu malah mencurigaiku. Takut terjadi masalah di instrumen investasi!"

__ADS_1


"Kamu ini sudah tua, ketinggalan zaman."


Linda tertawa dingin.


Ricky tidak berani bicara lagi. Sekarang dia dapat memastikan jika kenaikan pangkatnya mungkin berhubungan dengan Fredi. Bagaimanapun juga, Fredi adalah Wakil Presdir Grup Wenbrokes cabang Kota Surawa.


Fredi sering berhubungan dengan Pak Amir, tidak mengherankan juga.


Cukup bicara beberapa patah kata, Pak Amir berpikir Fredi adalah menantunya. Kemudian, menaikkan jabatan Ricky, semua itu adalah hal yang sangat mudah.


"Paman, mari bersulang. Hari ini Paman telah naik pangkat sebagai manajer departemen logistik. Kamu harus meminum segelas anggur ini."


Ricky mengangkat gelas dengan wajah penuh senyum.


Jenna agak tertegun, lalu tampak gembira. "Ayah, apa kamu naik pangkat?"


Ricky hanya tersenyum.


"Bukan hanya naik pangkat, tapi naik tiga level!"


"Tapi, semuanya karena Fredi. Pasti Fredi yang mengatakan hal itu pada Pak Amir. Kalau nggak, bagaimana mungkin aku bisa naik pangkat secepat ini!"


Ricky tertawa terbahak-bahak, lalu Jenna segera melihat ke arah Fredi.


Fredi hanya tersenyum sambil berpikir dalam hati, 'Dasar, keluarga tolol."


Dia berusaha keras agar tampak bersahaja dan elegan. Namun, pada kenyataannya, Fredi hanya lulusan diploma. Seluruh ijazah kelulusannya hanya dokumen palsu buatan orang untuk diperlihatkan Fredi pada publik.


Soal membeli apartemen dan vila, apartemen memang milik Fredi sendiri, tetapi vila dibelinya untuk Presdir Grup Wenbrokes cabang Kota Surawa.


Tepatnya vila itu dipilih Fredi untuk atasannya.


Fredi mendekati Jenna karena melihat Jenna yang cantik dan ingin bermain dengannya selama beberapa waktu. Fredi sengaja ikut pulang bersama Jenna untuk menemui kedua orang tuanya demi meruntuhkan kewaspadaan Jenna.


Apanya yang Presdir Perusahaan Listrik Provinsi Damur.


Apanya yang naik pangkat dan gaji. Semuanya tidak ada hubungannya dengan Fredi ....


Otak satu keluarga ini pasti sangat bodoh.


Fredi berpikir seperti itu di dalam hati, tetapi dia tetap tampak tersenyum lembut dan elegan.


"Malah ketahuan sama Paman. Tapi, aku hanya bicara beberapa kata saja. Paman bisa naik pangkat karena Paman sendiri sangat berbakat."


Fredi tampak tersenyum.

__ADS_1


Sementara Ricky yang berada di samping tampak sangat gembira.


"Ayo, Fredi, kita berdua minum bersama."


Ricky menuangkan segelas anggur lagi untuk Fredi.


Memiliki menantu seperti ini, Ricky kelak bisa bersikap sombong di Perusahaan Listrik Provinsi Damur.


Menantu keduanya ini jauh lebih hebat daripada Andre!


Namun, benar juga. Menantu yang dipungut sembarangan mana mungkin bisa hebat!


Bagaimana mungkin dapat dibandingkan dengan Fredi yang begitu hebat. Membandingkan Andre dengan Fredi sama dengan merendahkan Fredi.


Ricky tidak habis pikir, putri pertamanya sangat baik, tetapi kenapa dia tidak mau melepaskan Andre?


Bajingan itu, apa bisa membantu Ricky naik pangkat dan gaji atau bisa membantu Ricky menghasilkan uang?


Beberapa hari ini, dia harus mencari Jessy dan memaksanya bercerai dengan Andre!


Sementara itu, di bawah rumah susun.


Kedai sate.


Mereka tetap makan di meja restoran kaki lima, dua botol bir dan satu porsi barbeku, serta seporsi kacang-kacangan.


Andre meminum segelas bir, rasa dinginnya menjalar dari tenggorokan hingga ke seluruh tubuh.


Sementara Bastian duduk di depannya dengan sangat panik ....


"Kak Andre, aku sudah tunggu kamu selama dua hari. Coba ceritakan apa sebenarnya GW itu?"


"Perusahaan berengsek itu, selama satu bulan telah mencuci uang hingga puluhan miliar. Semua itu uang milik rakyat! Kamu makin menunda-nunda, uang yang mereka transfer ke perbatasan makin banyak!"


"Kalau kamu tahu sesuatu, tolong beri tahu aku. Masalah GW tidak boleh ditunda lagi."


Andre menatap Bastian sambil menghela napas panjang.


"Kamu buru-buru juga nggak ada gunanya."


"Masalah ini nggak bisa buru-buru. Sebenarnya tanpa perlu aku katakan, kamu juga tahu sendiri. GW, kedua kata ini, kalian sebagai pihak kepolisian pasti sudah ada target yang dicurigai."


"Kemarin malam, kamu bertanya tentang keuntungan per bulan sebesar 10% itu bisa diandalkan atau nggak. Kamu juga sudah paham dengan jawabanku ...."


"Iya, benar. GW yaitu Grup Wenbrokes adalah perusahaan penipu. Setiap bulannya mereka mentransfer uang hingga 40 miliar ke luar negeri melalui daerah perbatasan. Tapi, itu hanya sebagian kecilnya. Dimas pasti bukan satu-satunya orang yang berada di geng pencucian uang mereka!"

__ADS_1


__ADS_2