
Ricky menarik napas dalam-dalam.
Linda yang sedang meletakkan piring berisi lauk ke meja juga tertegun setelah mendengar hal ini. Linda juga adalah pegawai Perusahaan Listrik Provinsi Damur. Hanya saja, Linda lebih cepat pensiun daripada Ricky.
Namun, rumah ini diberikan oleh Perusahaan Listrik Provinsi Damur saat Linda menikah dengan Ricky dulu.
"Apa-apaan ini? Kami sudah tinggal di sini selama puluhan tahun. Memangnya Perusahaan Listrik Provinsi Damur akan mengusir pegawai lama seperti kami?"
"Orang berengsek itu kejam sekali!"
Linda yang sedang emosi menjadi makin marah setelah mendengar hal ini.
Rumah yang telah dia tinggali selama puluhan tahun akan dirampas?
Ini benar-benar sangat keterlaluan!
Steven menghela napas. "Kondisi keuangan perusahaan nggak bagus, jadi seluruh aset sampingan perusahaan akan dijual. Aku disuruh melayani seorang investor dari Kota Surawa hari ini. Orang itu bersedia mengeluarkan puluhan miliar. Dia langsung membeli seluruh rumah di Perumahan Larumnas, Perumahan Kiwona, serta rumah-rumah di sekitar Jalan Kumar."
"Paman Ricky, Tante Linda, aku akan berterus terang dengan kalian. Rumah yang kalian tinggali sudah dijual oleh Perusahaan Listrik Provinsi Damur ...."
"Akan tetapi, hal ini masih dirahasiakan. Jangan beri tahu orang lain, juga jangan mengatakan bahwa kalian mengetahui hal ini dariku."
"Pokoknya yang penting kalian harus punya persiapan mental dulu."
Steven menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Dia yakin Ricky dan Linda memahami maksudnya.
Ricky mendengus dengan dingin. "Amir benar-benar kejam. Ada begitu banyak pegawai lama, tapi mereka langsung menjual rumah-rumah ini begitu saja. Apa nggak memperbolehkan kami tinggal di rumah-rumah ini lagi?"
"Kami nggak akan pindah. Memangnya apa yang bisa mereka lakukan?"
Steven menghela napas.
"Paman Ricky, mereka punya banyak akal. Mereka mungkin akan menyiram cat atau mengutus orang untuk memaksa kalian pindah rumah. Orang-orang itu mungkin akan membongkar rumah kalian saat kalian keluar!"
"Kalian harus tahu, orang-orang itu sangat jahat! Nggak ada satu pun yang baik!"
"Pokoknya, Paman Ricky, Anda lebih berumur dariku, saya yakin Anda tahu apa yang harus Anda lakukan."
Steven sok misterius lagi.
Steven selalu bersikap seperti ini saat berbicara dengan orang yang tidak lebih berkuasa darinya. Steven seolah-olah merahasiakan sesuatu. Orang yang berbicara dengan Steven akan menjadi bingung. Mereka merasa ada makna yang terselubung dalam ucapan Steven.
Namun, setelah dipikirkan dengan saksama, sebenarnya tidak ada makna yang terselubung. Steven hanya pura-pura misterius ....
Ricky menjadi cemas. Jika apa yang Steven katakan memang benar....
Ricky dan Linda sudah tua. Jangan-jangan mereka akan tidak punya tempat tinggal suatu hari nanti!
Ricky bahkan menjadi tidak tertarik untuk menjodohkan Steven dengan Jessy saat ini.
__ADS_1
"Akan tetapi, masih ada jalan keluar. Aku kebetulan kenal dengan bos yang mau membeli dua perumahan ini. Aku bahkan bertukar kartu nama dengan bos itu hari ini. Bos itu bernama Andre. Dia tampak tampan dan berwibawa. Dia jelas sangat kaya."
"Aku akan merundingkan masalah rumah kalian dengan bos itu nanti. Jangan-jangan rumah kalian nggak akan dibongkar. Kalau rumah kalian dibongkar, kemungkinan kalian bisa mendapatkan rumah baru sebagai kompensasi."
"Bagaimanapun, ini adalah hal sepele bagi bos itu ...."
Steven mengambil lauk, lalu memasukkan lauk ke dalam mulut. Tatapannya tertuju pada Jessy.
Steven terus membual, tapi Steven merasa Jessy tetap bersikap dingin terhadap dirinya.
"Lihatlah, Steven benar-benar hebat. Steven bahkan bisa betukaran kartu nama dengan bos sehebat ini!"
"Jessy, kamu harus mensyukuri kesempatan ini, suruh Steven bantu keluarga kita. Aku dan ayahmu nggak ingin kehilangan rumah saat sudah tua."
Linda mengambilkan sepotong daging untuk Steven.
Linda terus tersenyum.
Jessy sedang makan. Dia tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ricky membanting sendok ke meja.
"Jessy Irawan, apa kamu bisu? Steven jarang-jarang bisa makan di rumah kita, kenapa kamu nggak mau berbicara dengannya?"
Jessy meletakkan sendok dan mendongakkan kepala.
"Aku tahu betul bagaimana sifatnya. Aku nggak ingin membahas hal ini lebih lanjut lagi."
Jessy beranjak berdiri dan mengambil jaket. Jessy berniat untuk pulang.
Meskipun Jessy tidak pernah menghubungi Steven selama bertahun-tahun, Jessy tahu bahwa Steven langsung putus dengan pacar saat SMA.
Selain itu, Steven mendekati banyak perempuan. Jessy tahu betul tentang hal ini.
Sejujurnya, Steven bukan pria yang baik. Steven suka merayu orang lain dengan gombalannya.
Meskipun Andre tidak meyakinkan, suka menghabiskan waktu untuk main saham dan sering minum minuman
Keras, akhlak Andre jauh lebih bagus daripada Steven.
prime Jessy ...."
Saat Jessy berniat untuk pergi, pintu kamar tidur terbuka.
Andre sedang memegang obeng. Dia berhasil membobol kunci pintu. Lalu, dia membawa Feli keluar.
Feli langsung berlari ke arah meja.
"Lapar! Lapar!"
__ADS_1
"Feli mau makan daging! Feli mau makan ikan dan ayam!"
"Nenek, Feli mau makan."
Feli langsung duduk di meja makan tanpa sungkan-sungkan.
Ricky membelalakkan mata saat melihat Andre.
Ricky terus berpesan dan menyuruh Andre jangan keluar. Namun, Andre akhirnya tetap keluar!
Andre menarik Jessy.
"Jangan buru-buru pulang. Ibu telah bersusah payah untuk menyiapkan begitu banyak makanan. Duduklah, makan sedikit dulu sebelum pulang."
Andre berkata demikian.
Jessy berpikir sejenak, lalu duduk lagi.
Andre mengambil dua kursi. Andre duduk di samping Jessy.
Ricky memelototi Andre. Ricky benar-benar berharap Andre bisa lenyap.
Andre bersikap cuek. Dia mengambil sepotong daging, lalu melahap daging sambil mengangguk.
"Lumayan enak. Kemampuan memasak Ibu nggak mengalami kemunduran. Tampaknya aku harus sering makan di rumah kalau ada waktu luang."
"Ayo makan, jangan melamun."
Andre menyuruh semua orang makan.
Ricky menendang Andre.
"Bukankah aku menyuruhmu jangan keluar? Siapa yang menyuruhmu keluar?"
Andre tersenyum dan berkata, "Ayah, Feli lapar. Kamu nggak mungkin melarang Feli makan, 'kan? Feli sedang dalam masa pertumbuhan. Kalau kamu melarangnya makan di saat seperti ini, itu namanya sedang mempersulitnya."
"Lagi pula, aku juga lapar ...."
Andre terus tersenyum.
Ricky memandang Steven, lalu tersenyum dengan tidak enak hati.
Ada sesuatu yang tidak Ricky sadari. Sejak Andre keluar, hingga saat Andre duduk di meja makan, Steven terus menatap Andre. Tubuh Steven menegang. Steven tidak berani bergerak. Steven membuka mulutnya, tapi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan Steven terlihat sangat kaget!
Andre memanggil Ricky ayah dan memanggil Linda ibu ....
Namun, marga Andre adalah Winato. Andre jelas bukan anak Ricky. Lagi pula, Steven berteman dengan Jessy sejak kecil. Jessy adalah anak tunggal. Steven tidak pernah mendengar bahwa Jessy punya adik.
Berarti Andre adalah suami Jessy ....
__ADS_1