KELAM

KELAM
1.Anak yang tak diinginkan


__ADS_3

 


"Uwek, uwek, uwek" tangis seorang bayi perempuan terdengar cukup nyaring disetiap lorong rumah sakit Sijo mulya. "Alhamdulillah" ucap seorang laki-laki paruh baya yang berdiri tepat didepan ruang bersalin. Tak lama kemudian suara tangis seorang wanita ikut bergema memecahkan keheningan setiap pojok rumah sakit umum ini, tangisannya terdengar begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.


 


Sang pajar selalu mendatangkan keindahan untuk alam dipagi hari yang sangat indah terlukiskan, dan sang mentari disenja hari perlahan pergi meninggalkan bumi dengan penuh keindahan. Disetiap sela hujan dan cerah selalu ada pelangi, hal itulah yang dipercayai oleh perempuan cantik bernama cahya lestari putri itu. Setidaknya dia mengerti rasa sakit yang teramat sangat ditinggalkan sang kekasih bersama dengan kandungannya beberapa bulan yang lalu, sedikit terminimalisir oleh kehadiran putri kecilnya ini.


Namun tak bisa dia pungkiri setiap kali memandang wajah putri kecilnya ini. Semua janji palsu yang terucap oleh laki-laki itu kembali terlintas dibenaknya.

__ADS_1


"Tari, dengarkan aku. Aku pastikan! Aku akan bertanggung jawab seutuhnya atas segala hal yang akan terjadi padamu dan aku dikemudian hari". setidaknya itu lah yang telah laki-laki itu ucapkan.


Janji-janji palsu itu sangat melukainya, dia masih teringat betul kejadian beberapa bulan silam. Saat itu, kandungannya baru berumur 2 bulan. Dengan susah payah dia menemui laki-laki itu untung meminta pertanggung jawaban. Tapi, apa yang dia dapatkan. Hanya sekilas senyum simpul dan beberapatutur kata yang sangat melukainnya "Tari, aku tak bisa menikahimu sekarang. Cita-cita dan karirku masih sangat panjang. Dan tentu saja terlalu cepat bagiku untuk memikirkan pernikahan itu! ". Setelah pembicaraan singkat itu, laki-laki itu pergi entah kemana. Lari dari tanggung jawabnya, dan hilang bagaikan ditelan bumi.


 


 


Setelah menyelesaikan registrasi dirumah sakit ini, dan menyelesaikan beberapa hal yang dibutuhkan. Tari bersama dengan ayahnya pak Sartono langsung meninggalkan kota jakarta menuju pedesaan di bandung. Sedangkan Rio, ayah dari baby yang dibawa oleh Tari itu. Selalu mengikuti gerak gerik dari wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


"Maafkan aku Tari, kau tau ini jauh dari kekuasaanku". Ujarnya penuh penyesalan.


Hati Rio tak pernah tega melihat kekasih hatinya, satu-satunya wanita yang sangat di cintainya itu. Harus terluka dan menahan sakit sedalam itu sendiri. Andai wanitanya itu tau, bahwa Rio sama terlukanya melihat putri kecilnya dan kekasihnya harus menjauh darinya demi sebuah keselamatannya. Setelah ancaman yang tegas dari ayahnya 5 bulan yang lalu, sebagai putra tunggal dari G-grup terpaksa harus merelakan hatinya untuk melukai Tari pujaan hatinya. Setidaknya otu jauh lebih baik dari pada dia harus melihat tari disiksa oleh ayah dan anak buahnya. Paling tidak itu yang terfikirkan oleh Rio saat itu.


Bramastrio Gunawan. Seorang putra tunggal dari gunawansyah putra. Harusnya memang harus lebih berhati-hati. Keinginannya untuk mencari cinta nya sendiri itu memang hal yang mustahil. Sedari awal dia sangat menyadari bahwa jodohnya memang sudah ditentukan oleh sang ayah. Tapi dia hanya berpura-pura bodoh dan mencoba menepis segala kenyataan itu. Tampangnya yang selalu berhasil memukau setiap wanita yang meliriknya hanya dengan sekali lirikan. Dan pesonanya itu sangat kuat hingga seorang wanita tercuek seperti Tari pun ikut tunduk bersamanya.


Cahya Lestari Putri. Seorang gadis lugu dengan ciri khas kecuekannya akan laki-laki. Merasa menjadi gadis terbodoh yang sempat percaya akan kata cinta begitu saja. Wajah cantik yg dianggapnya belum cukup kuat untuk benar-benar mendapatkan cinta seorang Bramastrio Gunawan dengan tulus.


Dan putri cantik mereka Akila Cahya Putri, itulah nama yang diberikan Tari untuk baby kecilnya. Terlahir dari hal yang disengaja namun tidak diinginkan. Tampa seorang ayah, dan hanya hidup bersama ibunya adalak keinginannya? Ohh tentu tidak! Tapi akila bisa apa. Itu adalah garis takdir dari tangannya, setidaknya dia masih memiliki ibu yang selalu menjaganya dengan baik bukan!. Lalu apalagi yang Akila inginkan, seorang ayah? Ayolah akila tak membutuhkannya jika itu hanya akan membuat sang ibu kesayanganya terus menangis, meratap, dan berbalik mencacinya nanti. Walau pun akila sangat menginginkan untuk bertemu sang ayah. Namun, demi kedamain dia dan ibunya lebih baik keinginan itu disimpannya dalam-dalam. Biarlah permainan takdir terus mempermainkan mereka. Bukankah dunia ini memang hanya sebuah panggung sandiwara yang sudah diatur oleh sutrada di atas sana.

__ADS_1


__ADS_2