
Matahari mulai menampakkan sinarnya dengan penuh kehangatan bersama dengan langit biru benar benar perpaduan yang begitu indah pada pagi ini.
Sinar matahari itu langsung menyinari tepat di wajah Aram membuat sang empu mau tak mau membuka matanya.
Manik coklat itu pun terbuka dan alangkah terkejutnya Aram saat menyadari Amara tak ada ditempat tidur.
Aram langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi, ia membukanya secara kasar namun Amara juga tidak ada disana.
Dengan cepat Aram memakai celana dan juga bajunya setelah itu ia langsung keluar.
"Apa kalian melihat Amara?"tanya Aram pada salah seorang Art.
Tapi hanya gelengan yang didapat oleh Aram.
Aram berlari menuruni tangga lalu ia menuju ke area dapur dan saat ia bertanya pada koki yang ada disana dan jawabannya tetaplah sama, mereka tak melihat Amara.
"CEPAT CARI AMARA SEKARANG!!!"Aram berteriak kesetanan.
Kali ini Aram berlari menuju pintu gerbang tanpa menggunakan alas kaki, ia tak peduli lagi bagaimana kondisi tubuhnya yang terpenting saat ini adalah Amara.
Mata Aram sudah berkaca kaca saat ini.
"Apakah Amara keluar tadi?"
"tidak tuan, sedari tadi belum ada seorangpun yang keluar pagar."kata satpam.
__ADS_1
Aram menjambak rambutnya sendiri saking kesalnya pada dirinya.
"Cepat periksa cctv dan beritahu saya kalau ada kejanggalan."perintah Aram.
Dengan langkah gontai Aram berjalan kembali ke rumah, perlahan lahan air mata mulai mengalir di pipinya.
"Jangan tinggalkan aku Amara, aku mohon."ia berkata dengan begitu pilu.
Aram kembali kedalam kamar tempat Amara ia sekap, tatapannya langsung tertuju pada bercak merah pada dinding.
Ia langsung mendekatinya dan ternyata itu adalah sebuah kalimat yang dibuat dengan darah karena Aram dapat mencium bau anyir darah.
*aku pergi. kita sudah berakhir dan tolong jaga Asa katakan padanya mamanya akan selalu mencintainya.*
Itulah kata-kata yang ada di dinding putih itu.
"Bodoh…Bodoh… kamu bodoh Aram… kamu bajingan." darah mulai mengalir di pelipis Aram dan dahinya sudah tak berbentuk lagi.
"Kamu kejam Aram…" itulah kata terakhir Aram sebelum ia menutup mata tak sadarkan diri.
.
.
Amara membuka matanya saat cahaya terang menyinari tepat di wajahnya dengan perlahan ia mencoba mendudukkan tubuhnya yang benar benar terasa remuk saat ini.
__ADS_1
"Apakah ada yang sakit?" sebuah pertanyaan langsung diterima oleh Amara saat ia duduk.
"Aku tidak apa apa."jawab Amara pada Putri.
ya, itu adalah Putri sahabatnya walupun sudah lama tak berjumpa tapi ia masih ingat rumah sahabatnya itu.
"Rasanya begitu lega tak ada lagi rasa sesak disini."kata Amara menunjuk pada dadanya.
"Tapi anakku…"Amara menunduk ketika ia kembali mengingat putranya yang sudah beberapa hari tak bertemu.
"Jika kamu ingin bebas maka ada sesuatu yang harus kamu korbankan."kata Putri serius.
Sungguh ia sangat membenci Aram, entah apa yang ada dipikiran lelaki sialan itu sampai membuat temannya menjadi seperti ini.
Saat pertama kali ia melihat Amara kemarin, ia sangat terkejut dan langsung memeluk Amara yang tiba tiba pingsan.
"Bukan berarti kamu mengorbankan Asa tapi kamu mengorbankan waktu kamu bersama Asa sampai mental kamu kembali pulih dan menjadi Amara yang dulu, Amara yang bebas dan penuh percaya diri."kata putri sambil mengelus punggung Amara.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa like dan vote ya
salam hangat dari author 😘