
"harusnya kau berterima kasih kepada ku karena telah mau menikahi wanita seperti mu."
perkataan yang diucapkan oleh Aram bagai melodi menyakitkan yang terus menerus berputar di kepala Amara.
sudah 3 jam Aram pergi dan selama itu Amara masih duduk di tempatnya tadi,di depan jendela dan menatap ke langit.
"Amara nggak sanggup lagi Bu... Amara mau menyerah saja ,Amara tidak bisa melalui semuanya."kata Amara menatap ke arah langit berpikir di balik langit itu ada ibunya yang sedang menatapke arahnya.
tanpa terasa suatu cairan bening kembali mengalir di pipinya.sakit yang dirasakan oleh Amara seperti luka yang di siramkan air garam terus menerus.
tanpa dia sadari sekarang mental Amara sedang dalam keadaan yang tidak baik ditambah lagi tidak ada tempat untuk mengadu.
Amara mengambil sebuah pisau lipat kecil yang ia dapatkan di dapur ,ia menatap ke arah pisau itu dengan tatapan nanar dan sebuah senyuman.
perlahan lahan pisau kecil itu mulai menggores kulit lengan Amara,membuat darah mulai menetes perlahan lahan.
"ssshhk."desis Amara merasakan sebuah sakit tapi terasa lebih indah dari pada sakit dalam hatinya.
dengan tetap tersenyum Amara terus menggores lengan atasnya,sampai rasa sakit itu mampu menghilangkan rasa sakit yang ada dalam hatinya.
"ternyata ini menyenangkan."kata Amara masih tetap tersenyum.
darah terus mengalir dari lengan Amara ,kini kulit yang biasa putih mulus itu telah bertukar menjadi banyak luka.
"ouhhh ini benar benar menghilangkan rasa sakitnya."kata Amara sambil meraba luka luka yang ada di lengannya.
.
.
.
__ADS_1
sekitar jam setengah sembilan malam Amara keluar dari dalam kamarnya karena perutnya yabg lapar,walau bagaimanapun keadaannya Amara masih mengingat kalau sekarang ada satu nyawa yang ada dalam perutnya ia tidak mau kehilangan lagi.
Amara menuruni tangga karena kamarnya yang berada di lantai dua.
rumah Aram tidaklah luas betul tapi memiliki fasilitas yang sangat lengkap ,rumahnya cuman dua tingkat,dengan tingkat ke dua diisi oleh kamar anggota keluar dan lantai satu diisi ileh ruang makan , ruang keluarga,ruang tamu dan juga kamar tamu.
Amara menarik kursi yang berada di depan mama Rani yang sudah selesai makan.amara duduk tanpa mempedulikan mama Rani yang menatap dia tajam.
"emang ya orang miskin itu tidak tau sopan santun."sindir mama Rani dengan suara yang kencang.
Amara masih diam,bohong jika ia tidak merasa tersindir oleh mama Rani.
Amara mengambil makanannya dan mulai memakan dengan tenang masih tanpa menghiraukan orang di depannya.
Amara masih tetap fokus pada makanannya.
tiba tiba
brak bruk BRAK
terdengar suara barang yang terjatuh dan ternyata mama Rani lah yang terjatuh dari tangga dan kepalanya mulai mengeluarkan darah yang banyak.
__ADS_1
Amara mendengar suara itu tapi ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari piringnya.
Amara tetap lanjut makan meskipun di sana kepala mama Rani telah berdarah darah.
.
.
.
Aram keluar dari kamar mama Rani yang selesai di tangani dokter.mama Rani tidak di bawa kedokter karena ia sangat tidak menyukai bau rumah sakit.
di rumah Aram memiliki fasilitas alat medis yang tersimpan di ruang bawah tanah.
"apa kau tidak punya hati Amara ,mertua mu sedang sekarat dan kau mas…"perkataan Aram terpotong oleh Amara
"iya."
.
.
.
bersambung
jangan lupa like and vote ya 😉😉
salam hangat dari author 😘😘
__ADS_1