
Tak terasa sudah sebulan Amara tinggal di rumah Aram menjadi istrinya tapi walaupun seperti itu ia masih merasa asing.
hubungannya dengan mama Rani masih sama bahkan bisa di hitung dengan jari mereka berbicara bersama,keduanya lebih memilih menghindar ketika bertemu.
sedangkan hubungannya dengan Aram sudah membaik walau sikapnya masihlah sama tapi Aram selalu memperhatikan nya atau mungkin lebih tepatnya memperhatikan anaknya.
"mas…… mas…… bangun."saat ini Amara sedang membangunkan Aram yang masih asik dengan mimpinya.
"mass bangun."kata Amara dengan suara yang agak di keraskan.
Amara masih berdiri di samping ranjang mencoba membangunkan Aram.
akhirnya orang bermanik Hitam itu pun membuka matanya dan hal tang pertama yang ia lihat adalah sang istri yang berdiri di samping ranjang.
Aram duduk dan memeluk pinggang Amara meletakkan kepalanya tepat di perut Amara, sedangkan Amara hanya diam berdiri tanpa mengelak atau membalas pelukan Aram.
"kita pergi keluar ya."itu bukan sebuah pertanyaan tapi sebuah pernyataan yang artinya Amara harus melakukannya.
"hemm."
Aram masih tetap di posisinya tanpa mau memindahkan kepalanya dari depan perut Amara.
setelah sepuluh menitan barulah Aram melepaskan pelukannya pada perut Amara dan beranjak menuju ke kamar mandi setelah memberi sebuah kecupan di perut Amara.
itulah yang selalu mereka lakukan di pagi hari ,walau mereka sering bersentuhan tapi Aram yang selalu memulai lebih dulu dan Amara hanya diam saja tanpa membalas ataupun menolak.
.
.
.
Ting
__ADS_1
Aram meletakkan sendoknya dan membersihkan mulutnya dengan tisu.
sekarang mereka ada di meja makan mama Rani juga ada walaupun sedari tadi hanya fokus pada makanan nya.
"kami mau pergi keluar,apa mama mau menitip sesuatu?"tanya Aram lembut.
"kamu mau pergi keluar dengan dia?"tanya mama Rani dengan nada mengejek.
sedangkan Amara hanya menatap keduanya dengan wajah tenang tanpa menjawab.
"iya."jawab Aram singkat.
"tidakkah kau malu membawa wanita ini keluar dan di tambah lagi apa kata orang jika melihat mu dengan dia."kata mama Rani.
"aku akan berpakaian biasa saja dan sedikit mengubah model rambutku agar orang tidak mengenaliku kalau perlu Aram akan memakai masker."kata Aram.
"hemm."setelah berdehem mama Rani pergi begitu saja dari meja makan meninggalkan Aram dan Amara.
"gantilah baju mu dulu."suruh Aram.
.
.
.
Tangan Aram menggenggam tangan Amara ,jangan salah paham dulu ia melakukan itu agar Amara tidak hilang di mal yang besar ini dan seperti biasa Amara tidak menolak.
saat ini Aram memakai celana pendek berwarna krem dipadukan dengan baju berwarna putih ,sedangkan Amara memakai dress berwarna hijau dengan corak bunga Daisy di bagian bawahnya.
"kita ke sana dulu ya,aku mau makan makanan pedas."kata Aram menunjuk sebuah restoran.
Amara hanya mengangguk dan mereka pun memasuki restoran tsb.
__ADS_1
.
.
.
"aku ke toilet sebentar."kata Aram ,setelah itu ia langsung pergi.
tinggal lah Amara duduk dengan mengetuk jarinya berirama,mereka masih di restoran tadi dengan makanan yang sudah ludes.
sebenarnya Aram yang makan banyak ,padahal mereka baru sudah sarapan tapi Aram masih makan dengan rakus tadi seperti sudah bertahun tahun tidak memakan itu.
dan di hanya mengatakan kalau ia sangat ingin memakan makanan ini.
"aku tidak menyangka kamu menolakku karena ternyata sudah menjadi simpanan om om."
Amara mendongakkan kepalanya menatap laki laki yang baru saja berbicara.
dengan raut wajah tenang Amara berbicara.
"iya,dia kaya dan aku suka, jadi apa salahnya?"
.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like and vote ya 😉😉
__ADS_1
salam hangat dari author 😘