
Amarah Aram langsung meluap saat mendengar kalimat itu, matanya langsung menatap tajam Amara. Tangan Aram bergerak mendekati wajah Amara, dan mencengkram erat wajah Amara.
"jangan pernah kamu mengatakan kalimat itu lagi." kata Aram dengan penuh penekanan.
Amara balik menatap Aram, tak ada ketakutan lagi dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga Amara melepaskan tangan Aram dipipinya.
"Apa salahnya hah? apakah hanya kamu yang bisa mengambil keputusan disini? apakah aku nggak ada hak sama sekali buat diriku sendiri? aku ingin bebas, aku ingin…aku ingin AKGGGHHH." Amara berteriak keras, banyak yang ingin ia sampaikan tapi susah untuk mengatakannya.
"TIDAK AKAN. bagaimanapun kamu akan tetap milikku."tekan Aram menekan kedua bahu amarah.
"kamu egois mass." gigi Amara bergelutuk.
"Jangan salahkan suatu hari aku pergi dari kamu mas."lanjut Amara.
"Dan jangan salahkan aku karena mengurungmu di kamar ini."kata Aram menatap Amara dalam.
"Kau pikir kamu bisa mengurung ku hah?"
"maka lihatlah."kata Aram melepaskan tangannya dari Amara dan berjalan mendekati Asa yang sudah bangun dan menatap kearah mereka sedari tadi.
Aram mengambil bayi itu dan membawanya ke gendongannya, lalu ia berjalan menuju pintu.
Amara yang melihat itu langsung berlari mendekati Aram.
"JANGAN BAWA ANAKKU." teriak Amara marah, ia mencoba mengambil Asa dalam gendongan Aram.
dengan satu tangan Aram dapat mendorong Amara hingga membuat Amara jatuh terduduk di lantai.
__ADS_1
"kamu ingin melihat apa yang bisa aku lakukan, maka mulai saat ini lihatlah."kata Aram dan membuka pintu lalu dengan cepat ia keluar dan mengunci pintu itu dari luar.
Di dalam kamar itu Amara menggedor gedor pintu itu dengan sekuat tenaga dan terus berteriak agar Aram membuka pintunya.
.
.
.
Suara kicauan burung terdengar merdu di pagi itu ditambah lagi rasa hangat yang dihantarkan oleh matahari membuat pagi itu begitu indah.
Tapi keindahan itu tak berlaku pada seorang wanita dalam kamar yang seperti kapal pecah itu.
semuanya berantakan kaca, baju baju, dan ada beberapa bercak darah berceceran di lantai kamar itu.
ceklek
suara pintu terbuka, wanita itu tak bergerak sedikit pun tapi air matanya tiba tiba keluar dan ia hanya membiarkan tanpa menghapus.
bunyi langkah kaki terasa menggema di kamar yang hening itu.
jendela yang ia pandang tadi langsung terhalang oleh badan besar Aram yang berjongkok dihadapannya.
"Aku sudah mengira kamu akan melakukan hal ini."kata Aram menyentuh tangan Amara yang berdarah dan ada yang sudah mengering.
"Jangan menyentuh ku." kata Amara menepis kasar tangan Aram yang menyentuh tangan nya.
__ADS_1
"Kamu tau, aku sangat tidak menyukai sifat keras kepalamu itu." kata Aram menunjuk kepala Amara.
"Mana Anakku?" Amara menatap Aram.
"Dia tidak akan bersamamu selama seminggu ini karena ia sedang bersama dengan mama." jawab Aram santai.
"kembalikan Anakku."kata Amara penuh penekanan.
Sungguh, tak ada yang lebih sakit bagi seorang ibu selain berpisah dari anaknya.
Aram tersenyum melihat itu.
"bukankah kamu ingin melihat apa yang bisa aku lakukan." dalam sekejap sebuah jarum langsung menusuk lengan Amara.
setetes air mata keluar dan tak lama pandangan Amara menggelap.
.
.
.
bersambung
salam hangat dari author 😘
see you next time
__ADS_1