
Cukup lama mereka terdiam. Aram terus menatap Amara sedangkan Amara hanya mengelus perutnya sambil terus menenangkan diri.
"Amara."Aram memanggil dengan begitu pelan.
Amara tak menyaut sama sekali dia hanya diam menatap perutnya yg membesar.
Kini Aram kembali memegang tangan Amara yang akhirnya tidak di tepis lagi oleh Amara, tentu saja Aram bahagia karena itu.
"aku mohon maafkan aku Amara, sungguh saat itu aku lepas kendali dan aku tidak ada berniat menyakitimu saat itu, cuman Amarah benar benar melingkup hatiku."kata Aram dengan suara yang sangat lembut.
karena tak ada respon dari Amara, Aram melanjutkan ucapannya.
"Rasa cemburu benar benar memenuhi aku, rasa tak rela milikku di pegang orang lain membuat aku berpikir harus mendisiplinkan kamu agar kamu tau bahwa kamu hanya milikku."
"Dan tanpa aku sadari apa yang aku lakukan adalah kebodohan yang berujung penyesalan bagi diriku sendiri."kata Aram menunduk sedih.
Mata Amara bergerak beralih menatap Aram, mendengar nada suara parau Aram membuat hati Amara sedikit iba.
Dengan keadaan seperti ini sulit bagi Amara untuk membenci Aram, selain Aram kepada siapa lagi ia bisa bergantung apalagi dengan keadaan yang sedang mengandung anak Aram.
sungguh Amara ada di posisi yang benar benar sulit.
"entahlah mas, sebenarnya jauh di lubuk hati ku, aku sangat ingin membenci mu, pergi meninggalkan rumah ini dan mendapatkan kehidupan yang bebas diluar sana."
__ADS_1
sembari berkata tangan Amara merapikan rambut di dahi Aram. Aram menatap Amara dalam diam.
"tapi aku juga tau akan kondisiku saat ini, Luntang lantang dengan perut buncit mencari pekerjaan apalagi hanya memiliki satu ijazah siapa yang akan menerima aku?"diakhir kalimat Amara tersenyum miris.
"Saat ini kamu tempat aku bersandar mas, apa pun yang kamu lakukan hanya memaafkan yang mampu aku berikan, mungkin itu yang akan selalu terjadi."kata Amara sembari mengelus pipi Aram lembut dan perlahan mata Amara meneliti seluruh wajah tegas suaminya.
Aram menutup matanya ia menikmati sentuhan jari Amara pada seluruh area wajahnya.
"pada akhirnya aku akan selalu kembali pada kamu, mas."ucap Amara sambil terkekeh pelan diakhir kalimatnya.
"mari kita memulai kembali Ara, meskipun aku tidak tau apa yang akan terjadi esok tapi aku akan berusaha untuk membahagiakan dan tidak menyakiti kamu."kata Aram terdapat kesungguhan di bola mata hitam itu.
pandangan Amara tak terlepas dari mata itu seakan akan mata itu mengiring ia ke dimensinya sendiri mengikatnya dan tidak membiarkan ia lepas.
__ADS_1
"memang seperti itu seharusnya."kata Amara.
"semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita dan juga anak kita."kata Aram sambil mengelus perut Amara.
"dan juga mudah mudahan tak ada kata akhir dihubungkan kita ini."kata Aram lalu ia membawa tubuh Amara dalam pelukannya, tak terlalu erat karna takut menyakiti sang buah hati.
perlahan lahan tangan Amara membalas pelukan itu dengan senyuman yang terpatri diwajahnya.
memang seperti inilah seharusnya.
.
.
.
bersambung
salam hangat dari author π
udah lama ya author nggak update βΊοΈ
__ADS_1
semoga ini adalah awal yang baru agar author dapat lebih rajin lagi dan semoga kalian selalu suka sama cerita cerita author π