
Membesarkan anak seorang diri tak pernah tampak mudah bagi siapa pun, tak terkecuali Tari. Hal itu sangat dirasakan oleh Tari, betapa melelahkannya menjadi singgel parents untuk baby Akila. Tari bekerja sangat keras untuk memenuhi kebutuhannya dan baby Akila, terlebih lagi setelah dia memutuskan untuk tinggal didesa hanya bersama baby Akila, tidak bersama sang ayah yang masih mendukungnya atas kesalahan tari dikala itu atau pun mencari sosok ayah baru untuk sang baby. Tidak, tidak sama sekali terfikirkan olehnya!
Sama seperti hari-hari biasanya Tari berjalan keluar dari toko roti sederhana miliknya, dengan memamerkan senyum diwajahnya yang masih terlihat sangat indah. Mengunci pintu, dan perlahan melangkahkan kaki nya menyusuri jalan-jalan digang-gang sempit itu.
Perlahan langkahnya terhenti dan matanya fokus tertuju kepada taman bermain mini yang terletak didekat rumah kontakannya. Senyum dibibirnya semakin terlihat, "selalu lah tertawa seperti itu nak! ". Guman Tari lirih.
Dua anak kecil yang sedang bermain ayunan itu, berhasil membuyarkan fokus Tari. Ahhh,, tidak. Bukan dua anak kecil itu, anak perempuan cantik yang sedang berayun itu tepatnya.
Dengan sangat hati-hati anak laki-laki yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas itu memberhentikan dorongan ayunannya, dia mulai menyadari kedatangan Tari. Akila yang tampak bingung bertanya dengan ciri khas suara chuby nya.
"Kakak, kenapa berhenti". Bukannya langsung menjawab anak laki-laki itu malah menutup mata kecil Akila.
"Kakak, kenapa lagi sekarang? Apa ada yang mau mengganggu ku lagi" tanya Akila polos mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Tidak, tapi bisakah kau menebak siapa yang mencarimu Kil? ". Tanya nya balik dengan suara datarnya.
"Mama! ". Ucap Akila sembari menghambur kepelukan sang ibunya tercinta.
Anak laki-laki itu hanya tersenyum tipis mengekori dari belakang. Cahya menyambut hangat pelukan putrinya itu dan dengan sigap menggendongnya.
"Hallo, Tuan putri. Bagaimana keadaan kamu? Baik! ". Tari tak segan meluncurkan pertanyaan sederhana yang sukses dijawab anggukan kecil oleh Akila.
__ADS_1
"Dan bagaimana jagoan bunda baik? ". Pertanyaan tari sekarang terlontar kepada anak laki-laki yang selalu bersama putrinya itu.
"Baik bunda. "Jawabnya sigkat.
"Mama, turunkan. Turunkan aku, aku tak ingin digendong". Rengek akila sembari meronta-ronta utuk segera diturunkan dari gendongannya.
"Mama, turunkan Akila. Akila sudah besar jangan digendong". Ulangnya lagi, Tari menurunkan Akila dengan hati-hati sembari melirik bingung kearah anak laki-laki yang beusia 10 tahun lebih tua dari putrinya itu. Sontak tatapan itu dibalas dengan kerlingan mata yang tak kalah bingungnya.
"Akila! Akila malu dengan kakak". Jawab gadis kecil itu polos.
Sontak penuturan jujur yang dibuat Akila membuat Tari dan anak laki-laki yang bernama lengkap Birendra Ekadanta Harsa itu tertawa terpingkal-pingkal dengan sikap sok dewasa yang dibuat Akila.
Iya, Birendra Ekadanta Harsa adalah seorang putra tunggal dari Danajaya Harsa dan sintya putri. Setidaknya itulah nama asli sintya sebelum menjadi istri dari seorang Danajaya Harsa pemilik perusahan property terbesar di Asia Tenggara, selain itu ayahnya Dana, Darmawijaya merupakan pemilik tambang emas dan permata terbesar di Indonesia. Hal itu sudah dipastikan bahwa siapa saja yang menjadi bagian keluarga ini, akan menjadi kaya raya tujuh turunan.(itulah yang sedang author fikirkan :p)
Tak terkecualipun saat ini. Bagi Dana masa Smp adalah masa paling rantan akan salahnya pergaulan, karna itu dia mengirim Endra kerumah salah satu anak dari saudara kakeknya. Yang mana tadinya itu adalah penjara bagi Endra.
Namun waktu dan keadaan sangat berbanding terbalik setelah kehadiran Akila kedalam kehidupannya. Rumah kontrakan Akila yang bersebelahan dengan rumah bibi Endra, membuat dia menjadi sangat akrab dengan gadis kecil cerewet itu.
Sejak kedatangan akila 3 tahun silam tepatnya 5 bulan setelah kehadirannya di desa ini. Endra menjadi punya alasan kepada dirinya sendiri kenapa harus bertahan yaitu baby kecilnya Akila. Setiap kali dia ingin meratap dan mengutuk ibu dan ayahnya atas keputusan mereka, Akila lah yang mampu meredam segalanya. Hanya dengan sedikit senyum dari bibir kecil itu membuat Endra tenang seakan mendapatkan obat penenang.
Waktu beputar sangat cepat sekarang akila sudah berumur 6 tahun, dan Endra. Ahhh tentu saja dia sudah duduk dibangku Sma. Tapi, waktunya untuk bersama akila sepertinya sudah selesai untuk sementara waktu. Endra terpaksa kembali mengikuti keinginan ibunya untuk kembali ke kota jakarta, dan melanjutkan sekolah disana karna ayahnya meninggal dunia tampa diketahui penyebab pastinya.
__ADS_1
Sangat berat untuk Endra meninggalkan gadis kecil cerewetnya itu. Apalagi mengingat Endra menyimpan rasa sayang yang sangat besar untuk bocah 6 tahun itu. Yahh,, sedikit aneh dan tidak masuk diakal memang, rasa sayang yang dimiliki Endra rasanya sudah lebih dari perasaan kakak ke adik kecilnya. Tapi mengingat umur mereka yang tidak terlalu mencolok adanya kenapa tidak? Hanya saja Endra cuman menunggu sedikit waktu lebih lama untuk mangatakannya, mungkin saja jika ibunya tidak memintanya untuk kembali saat ini.
"Akil, kakak pergi dulu yah. Akila jangan bandel. Apalagi sampai membantah bunda, ingat nasehat kakak, itu... "
"Tidak baik, dan itu dosa"
"Pintar, apa gadis milik kakak ini akan terus sepintar ini nantinya"
"Tentu saja. Akil akan menjadi gadis yang sangat pintar"
"Janji.. "Endra mengacungkan kelingkingnya.
"Akil, janji". Memautkan kelingkingnya yang kecil.
Endra berjalan kearah mobil yang sudah menjemputnya, sang ibu berdiri menatap nanar kedua anak itu.
"Kakak". Akila berlari mengekori Endra dan memeluk kaki nya. Tangisannya terisak.
"Tenanglah, kakak akan menjemput mu nanti. Jadilah gadis yang baik. Perhatikan pergaulanmu. Jangan bantah bunda". Ucap Endra sembari mengusap lembut rambut Akila. Dan berjalan memasuki mobil dengan mata yang berkaca-kaca. Tangisan Akila pecah, hati Endra benar-benar tidak tega melihatnya.
"Mom, apa aku bisa menikahi Akila jika sudah besar nanti". Ucapnya sembari mengusap air matanya didalam mobil yang sedang melaju memecah keheningan jalanan pedesaan.
__ADS_1
"Konsistenlah nak. Jadilah anak yang sukses, berikan kemewahan pada Akila nantinya. Jangan ragukan pendirianmu sayang. Acuhkanlah wanita penggoda diluar sana. Momi akan sangat mendukungmu dengan akila. Setidaknya momi tidak punya alasan kenapa momi harus menolak gadis secantik Akila". Jawab Sintya menyakinkan putranya.