
Hari ini benar benar hari yang buruk untuk Aram. Mulai dari banyak proyek proyek yang tak jalan dan juga ada salah seorang bawahannya yang mengambil uang perusahaan yang bisa dibilang cukup banyak.
Hal ini benar benar membuat kepala Aram menjadi pusing.
Sudah pukul sepuluh malam dan Aram masih berkutat dengan laptopnya.
"Lebih baik ini kita sambung besok saja tuan karena tampaknya tuan sudah sangat lelah."kata Sam yang sedari tadi berada di sofa yang tak jauh dari meja kerja Aram.
Aram mengangguk dan langsung mematikan laptopnya.
"Kita ke bar dulu."kata Aram sebelum berjalan keluar.
"iya tuan."
.
.
.
Sudah lebih dari dua jam Aram duduk di sofa yang terletak di ujung bar itu dan juga sudah lebih dari lima botol yang ia minum.
Dan nampaknya ia sudah sangat sangat mabuk.
"Kamu tau Sam, sebenarnya aku ini nggak mau nyakitin dia tapi aku nggak suka dengan istri pembangkang."kata Aram mabuk.
"Dia…dia itu cantik hehehe."kata Aram sambil terkekeh.
"tapi keras kepala."kata Aram cemberut.
__ADS_1
"Dan aku tidak suka orang yang pembangkang." raut wajah Aram marah.
Sam sudah biasa dengan ini, Aram akan membicarakan semua yang rahasianya saat dia mabuk maka itulah saat Aram mabuk Sam akan menjaganya karena jika tidak mungkin akan banyak orang yang memanfaatkan Aram.
"Dadaku rasanya sesak saat dia natap aku dengan tatapan kosong." Aram menunduk dan mengusap wajahnya.
"Tapi jika tidak seperti itu, dia pasti pergi dari sisiku seperti wanita itu." yang dimaksud Aram adalah cinta pertamanya.
"Ayo pulang tuan."kata Sam langsung membopong Aram.
Aram pun hanya pasrah saat Sam membawanya.
.
.
Sam membukakan pintu mobil untuk Aram dan Aram langsung keluar dari dalam mobil dengan sempoyongan.
"kamu pergi saja, aku bisa sendiri."kata Aram mendorong bahu Sam.
"Baik tuan, saya permisi."kata Sam dan berlalu pergi.
Aram mulai berjalan menuju pintu rumahnya dan mengeluarkan kunci rumah, setelah pintu terbuka Aram langsung masuk dan berjalan menaiki tangga hanya satu tujuan Aram saat ini, yaitu kamar dimana Amara dikurung.
Kembali Aram mencari kunci didalam kantong celananya, setelah menemukannya ia langsung membuka pintu kamar itu.
Amara yang berada dalam kamar itu langsung tersentak saat pintu terbuka dan bau alkohol langsung menyebar dalam kamar.
Aram berjalan mendekati Amara yang tampak ketakutan.
__ADS_1
Ini serasa flashback bagi Amara seperti saat pertemuan pertamanya dengan Aram.
"Aku suamimu kenapa kamu selalu menampakkan wajah ketakutan seperti itu."kata Aram lembut mengelus Surai panjang Amara
"Aku ngantuk mau tidur, bisakah kamu pergi dari kamar ini."kata Amara langsung berdiri.
Aram yang tadinya berjongkok pun ikutan berdiri dan memegang tangan Amara yang akan berjalan mendekati ranjang.
"Bisakah raut wajah seperti ini kamu hilangkan saat bersamaku."kata Aram mencengkram kedua pipi amara.
Tangan Amara berusaha melepas cengkraman Aram dipipinya.
Air mata mulai mengalir di pipinya ketakutannya semakin bertambah saat kepala Aram mendekati wajahnya.
"Aku menginginkan mu malam ini."
.
.
.
bersambung
jangan lupa like dan vote ya
salam hangat dari author 😘
see you next time
__ADS_1