
setelah selesai membuang hajatnya Aram pun berjalan menuju ke mejanya tadi,tapi saat melihat ke arah meja itu ternyata ada seorang laki laki yang mendekati Amara.
"iya,dia kaya dan aku suka,jadi apa salahnya?"
Aram terdiam saat mendengar ucapan Amara, apakah selama ini dia hanya dianggap sebagai pemuas kebutuhannya saja?apa perhatian nya selama ini tidak berarti?dan lebih berarti hartanya?
segala pertanyaan berkecamuk di otak Aram.
"cihh,ternyata kau tak lebih dari orang miskin yang haus akan uang."kata laki laki itu dengan tajam dengan suara yang sengaja di besarkan sehingga membuat beberapa orang yang berada di dekat itu melihat kearah mereka.
Amara hanya diam menatap laki laki di depannya dengan tenang tanpa mengelak apa yang laki laki itu ucapkan.
sedangkan Aram yang berada di belakang Amara pun juga diam,dia ingin melihat apa yang di lakukan wanita itu.
"dasar murahan."kata laki laki itu lalu pergi meninggalkan Amara yang masih duduk di kursinya.
"khemmm."Aram berdehem dan kembali duduk di kursinya tadi.
Aram menatap kearah Amara yang memainkan kukunya di meja membuat ketukan ketukan berirama. tak ada wajah marah ,hanya wajah tenang yang di perlihatkan oleh Amara seperti kata kata laki laki tadi hanya angin lalu baginya.
cukup lama mereka diam , Aram yang tak mau berbicara dan juga Amara yang seperti biasa lebih memilih diam dari pada membuang tenaganya itu untuk berbicara.
Aram pun bangkit dari kursinya dan langsung berlalu menuju kasir membayar makanan mereka.
__ADS_1
sedangkan Amara hanya mengikuti dari belakang.
dan ternyata aksi diam diam mereka pun berlanjut sampai di rumah.
Amara tau kalau Aram saat ini sedang marah padanya ,tapi dia harus apa? haruskah ia memeluk Aram dan mengatakan itu tidaklah seperti yang dipikirkan oleh suaminya itu?
suami?? ah sungguh ada getaran dalam dadanya saat menyebut Aram sebagai suaminya.
.
.
"uwekk uwekk."terdengar suara muntahan dari arah kamar mandi.
Aram yang tadinya tidur dengan tenang pun merasa terganggu,Aram melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Aram mengelus tengkuk Amara ketika melihat Amara yang kembali muntah,sekarang wajah Amara telah memerah dengan air mata yang keluar.
Aram menjadi kasian melihat itu.
perlahan lahan tangan Aram mengelus perut Amara ,dan sepertinya anaknya sedang merindukan sang ayah karena ketika Aram mengelus perut Amara ,Amara tidak muntah lagi.
Amara membasuh wajahnya di wastafel dan setelah itu ia bersandar di badan Aram yang berada tepat di belakangnya dengan tangan Aram yang masih mengelus perutnya.
__ADS_1
"pusing."kata Amara pelan dengan mata tertutup,Amara tidak pingsan ia hanya terlalu pusing.
"mau kerumah sakit?"tanya Aram khawatir melihat wajah Amara yang pucat.
Amara hanya menggeleng dan tetap bersandar di badan Aram.
akhirnya Aram pun menggendong Amara menuju ke ranjang dan membaringkan tubuh Amara di ranjang.
setalah menyelimuti Amara ,Aram pun ingin berjalan keluar untuk mengambil air minum untuk Amara yang pasti sekarang tenggorokan nya pasti sakit.
tapi sebelum Aram melangkah tangannya di genggaman oleh tangan Amara.
"peluk."ucap Amara lirih dengan mata sedikit tertutup.
tanpa berbicara Aram langsung memeluk Amara dan untuk pertama kalinya Amara membalas pelukan Aram dan membenamkan wajahnya di dada bidang Aram.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa like and vote ya 😉😉😉
salam hangat dari author 😘😘