
Ternyata ini alasan rio menolakku saat itu? Alice? Dia tak ada kuasa? Dan memang harta memang jauh berharga dari apa pun. Batin Tari.
"Tidak Alice, sebagai istriku kau harus mengikuti Apa kataku".
"Selama ini aku tak pernah meminta apa pun darimu, bahkan ketika kau mau memungut anak gak jelas itu pun aku hanya diam. Tapi sekarang aku ingin Alika untuk jadi putriku Rio. Aku bukan meminta persetujuanmu saat ini".
"Alice kau! Bukankah kau menyetujui untuk mengadopsinya waktu itu, dan kau juga mengatakan kau tidak ingin anak lagi selain daniah". Rio setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Alice sediri.
Kau benar rio, tapi saat itu aku tak tau kau masih membiarkan tari dan putrinya hidup. Batin alice
"Tari dengarkan aku sekarang. Aku akan membantumu, merawat Akila menyekolahkannya, mendidiknya menjadi putri yang elegan. Aku akan menyayangi Akila selayaknya putri kandungku sendiri". Alice berusaha meyakinkan Tari dengan keputusannya.
"Alice,, atas dasar apa aku harus percaya padamu? Bahwa engkau akan menyayangi putriku". Tari bertanya dengan penuh selidik berusaha mencari keraguan didalam mata Alice.
Tapi Tari sama sekali tidak menemukan kebohongan dan keraguan didalam mata Alice yang ditatapnya lekat.
"Aku tak peduli apakah Rio akan menerimanya apa tidak? Yang jelas aku akan membuat putriku bahagia, jika rio tidak menerima kami diistananya maka kami akan pergi menempati rumahku dipulau agreria".Alice menatap tari, dengan tatapan yang memohon.
"Baiklah Alice, sudah cukup. Jika itu mau mu kita akan merawat Akila. Membesarkannya dan memberinya pelajaran sebagai seorang putri bangsawan, layaknya para putra dan putri bangsawan lainnya". Akhirnya Rio menyerah, dan juga walau bagaimanapun keadaan sebelumnya Alika memang putri tunggalnya.
"Terima kasih sayang". Alice menatap Rio nanar.
Apa rio benar-benar menerima jon putriku, atau hanya karna alice yang memohon padanya. Tari tersenyum terpaksa.
"Tapi Tari, kau tau aku kan. Aku tak pernah ingin berbagi apapun denganmu Termasuk juga Akila". Alice menatap Tari tajam.
Aku tau ini akan terjadi, dan ternyata ini adalah saatnya. Tari tersenyum getir
"Alice, Alice, aku harusnya tidak terlalu senang dulu. Ternyata kau tak pernah berubah yah? Masih Alice yang angkuh dan sombong seperti dulu. Sepertinya aku memang tak bisa berharap banyak padamu. Baiklah, kalo begitu besok lusa ayahku akan mengantarkan putriku kerumah kalian". Tari tersenyum, dan berdiri.
Perlahan berjalan meninggalkan ruangan CEO Bramastrio Gunawan, sedikit getir dihatinya mengingat dia harus melepaskan putri sewata wayangnya yang sangat dikasihinya itu.
Akhirnya kejadian yang sama 17tahun silam terjadi lagi. Tari tersenyum mencoba menutupi kesedihan yang dirasakannya.
flasbackoff...
Akila berjalan mendekati pagar rumah, diiringi dengan kakeknya. Tak berselang lama seorang lelaki paruh baya membuka pintu pagar rumah itu.
__ADS_1
"Silakan masuk nona". Ucap lelaki itu.
"I. Iya pak". Jawab alika gugup.
"Alika, kakek hanya bisa mengantarmu sampai disini yah sayang".
"Tapi kek? ". Sang kakek tidak menjawab dia hanya memilih berbalik dan tersenyum.
Ini adalah awal kebahagian untukmu cucuku, kakek tidak bisa menemanimu lebih jauh. Karna kakek tak pernah bisa memaafkan kebejatan ayahmu terhadap anakku tari. Kakek Akila tersenyum, dan kembali memasuki taksi yang tadi mengantar mereka.
"Kakek.. Kakek mau kemana kek?". Akila ingin berlari mengejar kakeknya namun penjaga rumah malah membawanya kedalam rumah besar yang ada tepat dihadapannya.
"Tuan dan nyonya, Nona Alika sudah tiba disini". Ucap pelayan itu hormat.
Alice langsung menoleh dan berlari kecil menghampiri Akila yang masih terdiam berdiri kebingungan.
"Alika putriku, Akhirnya kau kembali". Alice memeluk Akila erat.
"Haii.. A... A.. Aku Akila". Akila memperkenalkan dirinya dengan gugup.
"Ayah". Alice menyapa Rio dengan tertunduk, tak berani menatap, beribu pertanyaan pun muncul dibenaknya.
Kenapa ayah meninggalkanku dengan ibu jika dia semakmur ini? Apa karna latar belakang ibu? Ahh benar sekali lagi kekuasaan merubah segalanya. Alika tersenyum getir berhadapan dengan orang-orang dihadapannya ini.
"Kemarilah putriku, maafkan ayah yang baru bisa bertemu denganmu". Rio memeluk Alika tulus.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Alice darah lebih kental dari air, seberapa sayang pun Rio dengan Daniah, tapi pesona Alika sebagai putri kandungnya tak dapat dia abaikan, hatinya merasa nyaman dan bahagia ketika melihat gadis belia ini ada dihadapannya.
"Masuklah sayang, mulai sekarang kau harus memanggilku mama". Alice membawa Alika memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya.
"Mama akan mengantarmu kekamar mu!". Alika hanya mengangguk.
Dia masih belum berbicara banyak bukan karna dia tak berani bicara tapi dia hanya masih sedikit malu untuk bicara, tidak lah mungkin seorang gadis ceria dan pemain pria akan berdiam diri terus didepan orang tuanya kan?.
"Mama, bolehkah aku bertanya?".
"Silakan Alika, apapun yang akan membuatmu bahagia".
__ADS_1
"Siapa gadis yang berada disamping ayah tadi, apa dia putri mama?". Alika bertanya dengan nada serius.
"Sini nak duduklah". Alika mengikuti Alice dan duduk disofa kamarnya.
Kamar yang sangat besar, Alika sempat terkejut ketika pertama memasuki kamarnya begitu mewah dan berwarna, dan ukuran ruangannya pun sangat besar. Jika dibandingkan dengan rumahnya, yah mungkin ini bisa jadi ruang tamunya.
"Dia adalah Daniah, Anak angkat Ayahmu. Dari awal aku tidak pernah ingin dia menjadi putriku, tapi karna suatu keadaan yang membuat aku tidak bisa memberi kan anak untuk ayahmu. Aku terpaksa menerimanya". Alice
"Tapi kenapa ma? Bukankah dia cantik dan aku lihat umurnya tidak jauh beda denganku".
"Sudahlah tak usah dibahas lagi, sekarang mama sudah mempunyai putri yang cantik yaitu kamu. Kamu adalah satu-satunya putri yang mama punya". Alice kembali memeluk Alika dengan berlinang air mata.
"Ohh yaa, mama mempunyai satu putra dari pernikahan mama sebelumnya. Mama rasa Dirga akan senang melihatmu, beristirahatlah nanti malam akan ada pesta penyambutan dirimu. Mama akan memperkenalkan kamu pada kakak laki-lakimu". Alice mengelus kepala Alika lembut dan mengecupnya keningnya.
Setelah Alice meninggalkan kamarnya Alika terdiam mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Yahh walau pada kenyataannya Alika sudah tak cukup kuat untuk berfikir dan tertidur disofa.
Alika mulai tersadar dari mimpinya, matanya perlahan terbuka walau masih terasa berat.
"Aggghhhhhhhhaaaaaa". Alika berteriak sekencang mungkin.
**Bersambung....
*Hayhayhayhooooo...
Para readers maafkan aku karna telat melanjutkan cerita ini..
Authdor tidak ada kesibukan sih, tapi authdor sedang memikiran kemana membawa alika pergi setelah bersama ayahnya?
Apakah membuatnya jatuh cinta pada dirga kakak tirinya?
Atau bertemu dengan kakaknya Birendra Ekadanta Harsa dan hidup bahagia?
Atau malah menemukan pria baru dan jutuh cinta???
Pada awal dan akhirnya hanya authdor yang tahu alur ceritanya nanti kemana..
Selamat membaca raiders❤❤❤❤❤***
__ADS_1