KELAM

KELAM
episode 18


__ADS_3

Tubuh Amara menegang saat tangan kekar milik Aram mengelus perutnya yang masih datar.


tangan Amara turun di sebelah kiri dan kanan tubuhnya,ia tak menghentikan tangan Aram yang masih mengelus perutnya dan memandang di cermin.


"aku tidak tau."hanya itu jawaban yang mampu Amara katakan.


"jaga kesehatan kamu agar dia cepat besar."kata Aram.


tangan itu pun perlahan lahan turun dari perut Amara dan juga sang pemilik tubuh yang berjalan keluar kamar.


Amara hanya menatap kepergian Aram dengan pandangan yang sulit dijelaskan ,segala macam pikiran masuk kedalam otaknya, kemungkinan kemungkinan yang belum tentu terjadi.


.


.


.


Aram telah duduk di meja makan dan mengambil makanan yang telah tersedia di meja makan.


Aram tau kalau yang membuat makanan ini adalah Amara karena sangat jarang koki dirumahnya membuat masakan khas seperti ini.


Amara yang baru datang pun duduk di kursi sebelah Aram setelah memberi tau pada art untuk membawakan sarapan ke kamar mama Rani.


setelah selesai makan Amara masih tetap duduk di tempatnya melihat Aram yang mulai memasang dasi dan juga jas yang tadi ia letakkan di kursi sebelah nya.


melihat Aram yang agak kesusahan Amara pun berdiri dan bermaksud membantunya.


"biar aku bantu."kata Amara berdiri di depan Aram.


Aram pun menurunkan tangannya kesamping tubuhnya membiarkan Amara memperbaiki dasinya.

__ADS_1


perlahan lahan tangan Amara memasangkan dasi di leher Aram,sedangkan Aram hanya menatap Amara yang terlihat sangat serius dalam memasangkan dasinya.


'manis.'batin Aram berbicara saat Amara tersenyum karena menyelesaikan dasinya.


dua lesung pipi itu pun tampak di wajah gadis yang beberapa hari murung itu.


"makasih."kata Aram ikut tersenyum.


Amara hanya mengangguk mengiyakan lalu menjauh dari Aram karena merasa jarak mereka tadi begitu dekat.


"baiklah kalau begitu aku pergi dulu dan aku mohon jika kamu tidak nyaman dengan mama silahkan menjauh tapi kalau mama terluka kayak kemarin tolong di bantu ya."kata Aram lembut , sungguh sikapnya dengan Amara benar benar berbeda dengan kepribadian nya.


Amara hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Aram mengambil tasnya dan juga mengambil sesuatu di jasnya yang tadi sudah ia siapkan buat Amara.


"ini buat kamu"kata Aram memberikan sebuah kartu kredit.


"ini nafkah dari aku."lanjut Aram agar Amara mau menerimanya.


perlahan lahan tangan Amara mengambil kartu itu.


"makasih."kata amara.


Aram hanya mengangguk lalu mulai berjalan keluar rumah tapi baru mau melangkah ia harus berhenti karena suara Amara.


"tunggu."


Aram pun berbalik badan dengan alis naik.


tiba tiba tangan Amara mengambil tangan besar milik Aram dan mengalaminya,dan tentu saja itu membuat Aram terkejut akan perilaku Amara.

__ADS_1


Amara melepaskan tangan Aram setelah selesai.Aram hanya tersenyum melihat Amara yang sudah berperilaku seperti seorang istri.


"hati hati dirumah,aku pergi."kata Aram barulah pria itu meninggalkan Amara yang masih terpaku di samping meja makan.


'mungkinkah aku bisa ikhlas.'


.


.


.


ceklek



Amara memasuki kamarnya dan kakinya kembali ke tempat biasa yang selalu ia duduki,tempat duduk di samping jendela.


Amara memandang langit biru yang begitu cerah hari ini.


"*aku udah melakukan apa yang ibu katakan ,tapi maaf untuk ikhlas rasanya aku tidak bisa.rasa sakit disini masih belum sembuh dan.…"


"mungkin tidak akan pernah."


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


jangan lupa like and vote ya 😉😉


salam hangat dari author 😘*


__ADS_2