
Aram terdiam ia menatap dalam ke mata kelam Amara yang juga menatapnya balik dengan posisi yang sama.
pak
Amara menampar pipi Aram pelan.
"apakah aku harus bersikap seperti ****** seperti kekasih mu *****hah*****? " kata Amara dengan suara rendah.
"Agar kamu selalu berada disisi ku hmm."lanjut Amara.
Aram diam tapi raut wajahnya sudah mulai berubah, yang tadinya tenang sekarang sudah tampak mulai kesal.
"Aku capek mas, apa ia aku harus selalu merubah diriku lagi. Ini bukan aku mas, ini bukan Amara yang dulu, dulu aku adalah gadis yang bebas mas dan demi kamu aku mau disekap disangkar emas ini."kata Amara melepaskan tangannya dari pipi Aram.
Amara mundur tiga langkah ia menarik rambutnya sampai rambutnya kusut.
"Ini bukan aku mas, ini bukan aku."kata Amara menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masih dirambutnya.
Perasaan kesal yang tadi memenuhi hati Aram langsung berubah dengan raut khawatir akan Amara.
Aram mendekat dan memeluk Amara, tangan Aram mencoba melepaskan tangan Amara dari rambut dia.
__ADS_1
"DIAM!!!" teriak Amara.
"Aku merasa saat ibu meninggal Amara yang dulu juga dibawa olehnya dan meninggalkan Amara yang penuh dengan rasa takut disini." air mata mulai mengalir di pipi Amara.
"Amara yang ketika ia bahagia tapi dihantui oleh rasa taku ditinggalkan, Amara yang seluruh hidupnya bergantung pada kamu, Amara yang bahkan sifatnya saja harus sesuai dengan kriteria kamu."
"Bukan maksud ak…" ucapan Aram langsung terpotong.
"Diam! untuk saat ini biarkan aku yang mengeluarkan isi hatiku."kata Amara dengan isyarat agar Aram diam.
Amara mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya.
"kekasihmu itu selalu mengirimkan foto foto mesra kalian padaku, foto berpelukan dengan menggunakan bathrobe saja dengan senyuman manis yang kalian tunjukkan didepan kaca. Setelah melihat foto itu aku merasa yang jadi selingkuhan disini adalah aku karena bahkan berfoto seintim itu saja kita tidak pernah dan kau berulang kali berfoto dengannya seperti itu."
"Apa yang harus aku lakukan? itu selalu menjadi bahan pikiranku, aku selalu takut bertindak, takut jikalau kamu tidak menyukai apa yang aku lakukan dan membandingkan aku dengan kekasihmu itu. Kepercayaan diriku hilang, aku merasa menjadi orang yang selalu takut dalam melangkah."
"boleh nggak sih aku cemburu? apakah jika aku cemburu kamu juga akan marah?"air mata Amara makin deras.
"Capek rasanya mas… disaat aku dicemburu butai oleh kamu dengan alasan salah paham, kamu melakukan kekerasan sama aku bahkan dia, Asa masih dalam perut aku."tunjuk Amara pada asa yang tertidur di atas kasur.
"Aku cuman bisa diam dan mohon mohon minta maaf sama kamu sedangkan sekarang…"helaan nafas panjang terdengar dari Amara.
__ADS_1
"Kamu hanya minta maaf dan dengan keras kepalanya kamu mengharuskan aku percaya akan kata kata kamu dengan bukti yang bahkan aku mendengarnya sendiri."
Aram mengalihkan pandangannya dari Amara, ia tau itu adalah kesalahannya.
"Dan aku rasa telingaku tidaklah tuli untuk mendengar suara ciuman panas kalian."lanjut Amara.
"Maaf."
Amara kembali memegang pipi Aram dan memaksa Aram untuk kembali menatap kearahnya.
"ceraikan aku mas."
.
.
bersambung
jangan lupa like dan vote ya
salam hangat dari author 😘
__ADS_1
see you next time