
Rintik rintik hujan terus mengguyur muka bumi seperti tau akan kesedihan seorang wanita yang sedang berbadan dua itu.
Dengan wajah tenang dia menatap rintikan hujan dari dalam jendela,tak ada lagi air mata yang jatuh dari matanya seakan akan sudah kering karna terlalu banyak menangis.
hembusan nafas yang teratur ,tatapan yang tenang dan juga tangannya yang sesekali mengelus perutnya mungkin orang yang melihat itu mengira ia tidak apa apa.
tapi siapa yang tau apa yang ada dalam otaknya??
dinginnya hari ini tak membuat dia berpindah dari sana,masih menatap langit yang masih bersedih.
'bisakah kau bawa aku?'
.
.
.
Aram menatap Amara dari pintu,sungguh ia merasa kasihan melihat nasip buruk wanita itu ,dan kini ia hanya hidup seorang diri tanpa keluarga.
perlahan lahan Aram berjalan mendekati Amara yang masih menatap keluar jendela.
"Amara ,ayo makan."kata itu yang mampu Aram keluarkan.
tak lama Amara berbalik dan langsung mengangguk tanpa membantah wanita itu langsung berdiri.
Aram cukup terkejut melihat respon wanita itu ,ia kira akan sulit membujuk wanita itu untuk makan tapi ini benar benar di luar ekspetasinya.
akhirnya mereka pun keluar dari ruang tamu rumah Aram itu dan berjalan menuju meja makan.
__ADS_1
Aram duduk di kursi yang biasa ia duduki tempat dimana kepala keluarga duduk,di sebelah kanannya telah duduk seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik.
Amara pun memilih duduk di kursi sebelah kiri Aram dengan tenang tanpa mengatakan apapun.
sedangkan wanita di depannya menatap ia tajam dan mengintimidasi.
sedari Aram mengatakan kalau Amara adalah calon istrinya ,wanita yang dipanggil mama oleh Aram itu tidak menyetujuinya karena tidak sesuai dengan standar nya.
"silahkan."dalam keluarga Aram jika kepala keluarga telah mengatakan itu berarti semuanya sudah boleh makan.
mereka makan dengan tenang tanpa mengeluarkan suara apapun.
.
.
.
makan malam pun selesai tapi ketiga orang itu masih di meja makan.
"kami akan menikah besok."sebuah pernyataan yang Aram keluarkan membuat wanita paruh Bayah itu marah.
mama Rani ,itulah namanya.
"kenapa secepat itu,bahkan kamu tidak meminta persetujuan mama."kata mama Rani marah,tentu saja marah anaknya menikah tanpa meminta restu darinya.
__ADS_1
"aku bukan nya tidak mau tapi aku sudah tau meskipun aku meminta restu sekalipun mama tidak akan merestui."jawab Aram sabar.
sedangkan Amara masih duduk dengan tenang menatap keduanya.
"ini semua gara gara kamu dan anak yang kau kandung itu yang entah siapa ayahnya."kata mama Rani dengan begitu lantang dan menusuk.
Amara masih tetap dengan wajah tenang mengelus perutnya yang masih datar.
"ya."hanya itu yang ia katakan sambil menatap ke arah perutnya yang ditunjuk mama Rani.
entah kenapa jawaban yang diberikan oleh Amara membuat Aram merasa tertusuk di hatinya, nyeri.
sedangkan mama Rani tidak menyangka apa yang di katakan oleh calon menantunya itu.
terdiam sesaat dan perhatian tertuju pada tangan Amara yang masih mengelus perutnya.
"kami akan menikah di masjid terdekat dengan di hadiri oleh keluarga inti kita."kata Aram setelah itu bangkit dari kursinya.
"mau bagaimanapun saya tidak akan merestui hubungan kalian."
.
.
.
bersambung
__ADS_1
salam hangat dari author 😘😘